Uncategorized

Auman Singa di Udara

Dari bisnis agen travel dan modal satu pesawat, Rusdi Kirana mengembangkan Lion Air hingga menjadi penguasa pasar di Indonesia. Ia juga menjamin lapangan kerja orang Amerika, dengan pembelian 230 unit pesawat Boeing pada 18 November 2011.

Oleh Evi Ratnasari

Rusdi Kirana, pendiri PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) tidak menganggap transaksi pembelian 230 pesawat senilai US$21,7 miliar (Rp195 triliun) dari Boeing Co, sebagai sesuatu yang istimewa. Menurut dia, aksi korporasi itu hanyalah transaksi bisnis biasa meski disaksikan langsung oleh orang nomor satu di AS, Presiden Barack Obama. Ia mengibaratkan pertemuan dengan Obama adalah pertemuan anak Menteng, -tempat Obama tinggal ketika di Indonesia,- dengan anak Angke, -daerah di mana Rusdi dibesarkan. “Anak Menteng yang ketemu anak Angke,” ujar Rusdi sambil tertawa.

Berkemeja putih lengan pendek, dengan padanan celana hitam, lelaki berkumis tebal itu mengatakan pembelian pesawat dalam unit yang besar merupakan hal yang wajar, bagi maskapai di Indonesia.  Pasalnya, potensi dan kebutuhan pasar di Indonesia cukup besar. Bahkan, Rusdi memperkirakan bahwa ia bisa menambah armada lagi, sampai 1.000 unit. Dia membandingkan pasar Indonesia dengan tetangga Singapura. Di negara kota – jumlah penduduknya hanya sekitar 5 Juta orang itu- rata-rata maskapainya punya ratusan armada pesawat. Begitu juga Malaysia – basis maskapai murah Air Asia – yang diperkuat ratusan unit pesawat. Padahal penduduk Negeri Jiran itu hanya 10% dari penduduk Indonesia, luas negaranya juga hanya 20% dari Indonesia.

Inilah yang membuat Rusdi bingung – mengapa Lion Air yang berbasis di negara sebesar Indonesia dengan penduduk lebih dari 220 juta –  bisa membuat heboh dunia industri karena memesan ratusan pesawat.  “Kok ada maskapai nasional yang memesan begitu banyak pesawat?” tiru Rusdi. Itu adalah pertanyaan yang pesimistis, menurut pengakuan Rusdi, berkebalikan dengan sifat pengusaha yang visioner.

Lagipula, bukan kali ini saja Rusdi meneken perjanjian dengan Boeing. Pada tahun 2005, ia memesan 178 unit Boeing dan sampai sekarang baru 50 unit pesawat yang sudah sampai di hanggar Lion Air. Sisanya akan datang bertahap beberapa tahun ke depan. Alhasil, total pesanan pesawat Lion ke Boeing mencapai 408 unit hingga 2026, termasuk pembelian yang ditandatangani di Bali, bulan lalu.

Rusdi, dengan gaya bicara yang lugas dan percaya diri, yakin perhitungannya tidak salah karena pertumbuhan industri penerbangan domestik begitu pesat dalam 10 tahun terakhir. Dengan bertambahnya jumlah kelas menengah, ia percaya bisnis ini akan semakin menarik. Apalagi, data Kementerian Perhubungan menunjukkan, lima tahun mendatang jumlah penumpang pesawat akan meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 100 juta per tahun.

Ketimbang pelaku bisnis penerbangan lain, Lion terkesan lebih siap dan gesit. Mereka mampu mendesain bisnis untuk jangka panjang.  “Visi Rusdi itu ke depan. Pembelian Boeing sebanyak 230 tidak untuk hari ini, tapi untuk mengantisipasi kebutuhan mendatang. Begitu jumlah penumpang melonjak, armada sudah siap,”ujar Tengku Burhanudin Sekjen Indonesia National Air Carrier Association (INACA). Dalam catatan INACA, baru 15 orang dari 100 penduduk Indonesia, menggunakan moda angkutan udara. Saban tahun pertumbuhan penumpangnya mencapai 15%-20%.

Akan tetapi, kata Tengku, untuk bisa menikmati ceruk bisnis ini, para pelaku masih dihadapkan oleh sejumlah kendala. Di antaranya adalah infrastruktur bandara yang kurang mendukung. Misalnya Bandara Soekarno Hatta.  Sejatinya bandara yang didirikan pada tahun 1984 ini hanya bisa menampung 22 juta penumpang, realisasinya mereka harus melayani lebih dari 40 juta orang . Kendala lain adalah terbatasnya ketersediaan SDM, khususnya pilot.

Rusdi mengakui infrastruktur di Indonesia masih buruk. Bandara Soekarno-Hatta memang sudah melampaui kapasitas. Tetapi Indonesia tidak hanya Jakarta, karena ada 233 bandara umum lain yang belum dioptimalkan penggunaannya. Ia optimistis suatu saat pemerintah akan berbenah. Rusdi juga yakin suatu saat nanti jam operasional bandara akan diperpanjang – dari saat ini 16-18 jam-  menjadi 24 jam.

Tapi, Rusdi memutuskan untuk tidak menunggu sampai fasilitas lebih memadai, karena perusahaan bakal tidak berkembang. Karenanya, ia juga berambisi membuat penerbangan langsung dari satu kota ke kota lain, tanpa lewat Jakarta. Rusdi juga akan memperbanyak frekuensi penerbangan, dari 500 penerbangan per hari menjadi 1.000 kali sehari. Lion akan membuat penerbangan setiap setengah jam sekali. Kalau perlu, katanya, tidak perlu ke boarding gate lagi. Penumpang datang langsung masuk pesawat.

Rusdi juga sedang mempersiapkan penerbangan yang membidik segmen menengah – sekitar 9 juta penduduk – dengan nama Space Jet. Kelak pesawat Space Jet- yang tersedia awal 2013- akan dilengkapi dengan video on demand dan wi-fi.

Belum cukup, Mei 2012, Rusdi akan membuka layanan pesawat carter yang membidik kalangan atas, komplit dengan telepon satelit dan kapasitas 8 penumpang. “Kita melihat ada yang mengalami peningkatan pendapatan. Dari ekonomi bawah, naik ke level menengah, dan level menengah naik ke level atas. Nah ini juga harus dilayani,” jelas alumni dari Universitas Pancasila ini. Dengan demikian lengkaplah layanan penerbangan yang disediakan Lion, segemen bawah, menengah dan atas.

Agar ekspansi berjalan mulus, Rusdi harus menyiapkan dana tidak sedikit. Namun kini, kata dia, perkara meyakinkan institusi bermodal kuat bukan lagi persoalan berkat kerja kerasnya dalam membangun kredibilitas. Awalnya ia yang meminta dan mendatangi bank, tapi belakang situasinya berbalik. Perbankan yang datang menawarkan pinjaman. “Membangun kredibilitas ini yang susah,” kata Rusdi.

Bank asing pertama yang mengucurkan kredit kepada Lion adalah bank asal Jerman. Setelah itu bank-bank lain mulai memberi kepercayaan, seperti  COFACE dari Perancis, EDC dari Kanada, SACE dari Italia dan Exim dari Amerika Serikat. Proses meyakinkan bank asing ini tidak mudah. Rusdi perlu waktu lebih dari setahun untuk meyakinkan perbankan dan beberapa kali melakukan pertemuan. Presentasi tidak hanya mengenai kinerja perusahaan, tapi juga kondisi Indonesia secara keseluruhan. Setelah itu mereka datang dan melihat sendiri seperti apa perusahaan dan negara yang akan diberi pinjaman tersebut.

Membangun bisnis Lion juga tidak mudah.  Rusdi pernah dicurigai melakukan money laundering hingga dituduh sebagai kepanjangan tangan maskapai asing untuk mengobrak-abrik bisnis penerbangan di Tanah Air. Nama-nama besar seperti Singapore Arilines, Region Air,  sampai pengusaha Oesman Sapta Odang, dan keluarga Wings kerap dicurigai berada di belakang Lion. Namun apapun yang ditudingkan orang kepadanya tak membuat Rusdi surut. “Secara bobot saya diakui, tetapi secara bibit tidak diakui karena trah saya bukan berasal dari keluarga Salim atau Widjaja, sehingga muncul seribu pertanyaan ketika Lion beraksi,” jelasnya.  Sekali lagi Rusdi menegaskan modal Rp80 miliar berasal dari keluarga Kirana. “Itu uang saya dan kakak saya,” katanya.

Isu terbaru yang kini mendera Rusdi adalah terkait pendanaan dari Bank Exim yang digunakan untuk memborong pesawat Boeing. Seorang sumber dari industri penerbangan memberi tahu kami bahwa Rusdi berhasil mendapatkan fasilitas pinjaman ratusan triliun rupiah dari Bank Exim karena berhasil mengegolkan UU No.1 tahun 2009 tentang Penerbangan. UU tersebut memasukkan  pasal-pasal yang terkait dengan Cape Town Convention (CTC).

CTC adalah traktat internasional yang memfasilitasi transaksi lintas negara terkait pendanaan dan bisnis pesawat terbang, helikopter dan mesin-mesin pesawat terbang. Kesepakatan ini cenderung melindungi kepentingan kreditur dan memungkinkan penarikan segera atas pesawat dari debitur yang bermasalah dalam hal keuangan. Di sisi lain, maskapai bisa mendapatkan kredit murah dari sisi pendanaan atau sewa pesawat. “Selama proses tersebut Rusdi menjadi dekat dengan pihak kedutaan dan Exim bank,” bisik sumber tersebut.

Pernyataan sumber tersebut senada dengan bocoran telegram yang dirilis Wikileaks  berjudul Indonesia Seeks Better Financing with Cape Town Treaty” yang dikawatkan  dari Jakarta pada 27 Juni 2008 oleh Cameron  R Hume, Duta Besar Amerika Serikat kala itu. Telegram itu, merekam percakapan Rusdi dan Hume. Rusdi menanyakan pasal-pasal mana saja dalam CTC yang perlu dimasukan ke dalam RUU Penerbangan.  Selain itu, ada juga telegram yang menggambarkan bahwa DPR telah mengesahkan UU penerbangan pada 17 Desember 2008. Pengesahan tersebut ditengarai menjadi pembuka keran kredit Bank Exim untuk mendanai transaksi pembelian pesawat Boeing oleh Lion Air dan maskapai lain di Indonesia.

Selain Rusdi, dokumen itu menyebutkan nama-nama lain yang dianggap membantu memuluskan masuknya pasal-pasal CTC ke dalam UU – yakni Emirsyah Satar CEO Garuda Indonesia, tiga anggota DPR komisi V yakni Ahmad Muqowan, Enggartiasto Lukito, dan Taufik Kurniawan.

Rusdi menanggapi isu tersebut dengan santai. “Nama-nama yang disebut dalam Wikileaks bisa masuk penjara bareng dong,” ujarnya sambil tertawa. Rusdi tidak menjawab dengan tegas benar atau tidak apa yang dikawatkan oleh Wikileaks itu. Terlepas benar atau tidak , UU No. 1 Tahun 2009, menurut dia, membawa benefit terhadap industri, khususnya dalam pendanaan.  Ia menambahkan bahwa pembiayaan amat vital dalam industri penerbangan karena pengadaan pesawat dalam jumlah besar sangat mustahil  dibayar tunai dengan merogoh kocek sendiri.

Rusdi mengaku sudah kebal dengan berbagai isu. Untuk membesarkan Lion, ia sampai menangis. Ia ingat betul tanggal 3 Juli 2000, di Bandara Soekarno-Hatta. Ia memandang pesawat Boeing 737-200, pesawat pertama yang ia miliki. Ia tak kuasa menahan kesedihan dan air mata. “Itu adalah titik terendah dalam hidup saya,” katanya mengenang. Awal mengudara dengan rute Jakarta-Pontianak-Jakarta, langkah Lion sempat dihentikan karena pesawat mengalami kerusakan. Pertama kali mengudara 30 Juni 2000, tiga hari kemudian si burung besi harus dikandangkan untuk perbaikan. Belum lagi amukan penumpang dan cibiran dari orang. Umbul-umbul dan spanduk Lion di sekitar Bandara juga harus diturunkan.

Saat itu ia tak tahu harus melakukan apa. Duit perusahaan hampir semuanya terkuras. Di tengah kegalauan ada seseorang yang menawar untuk membeli Lion seharga Rp2 miliar. Rusdi sempat bimbang dan bergegas pulang. Setibanya di rumah, ia menelepon kakaknya.  Kusnan Kirana menyerahkan semua keputusan kepada Rusdi, dan yakin ia bisa melakukan yang terbaik bagi perusahaan. Ia juga berkeluh kesah kepada sang istri, Iesien. Istrinya mengingatkan ada sekitar 60 karyawan yang nasibnya bergantung pada Rusdi.

Setelah merenung. Rusdi memutuskan untuk tetap bertahan. Ia tak mau mengecewakan orang-orang yang menaruh kepercayaan besar kepadanya. Hidup dan bisnis adalah sebuah rimba yang harus ia taklukkan. Jika tidak ia akan binasa. Ia membawa semua sisa uang perusahan dan nekat ke Rusia. Di sana ia membeli pesawat Rusia Yak 42 untuk dijadikan armada Lion.

Melihat kenekatan Rusdi, seorang dari industri penerbangan mencibirnya: “Iris kuping saya, kalau bisa mengkomersilakan pesawat Rusia.” Pernyataan itu tidak membuat Rusdi ciut, justru menjadi cambuk  . Ia memutar otaknya agar ada jalan  melancarkan bisnis. Rupanya ia orang yang berpikir cepat dan belajar dari pengalaman. Siapa sangka, pesawat tersebut menjadi keunggulan dan kemudian menginspirasinya untuk memboyong tenaga kerja Indonesia (TKI)– sebuah peluang bisnis yang masih kosong di Indonesia. Harga yang ditawarkan juga sangat miring. Saat penerbangan lain menjual tiket dengan harga Rp1,2 juta (Jakarta-Malaysia), Rusdi berani menawarkan harga Rp700.000. Sejak itulah ia mulai mempelajari konsep LCC.

Ayah dari tiga anak ini mengaku konsep LCC yang diterapkan pada maskapainya, dipelajari secara otodidak, dari realitas di sekelilingnya, bahwa ada kebutuhan tiket murah. Tanpa membaca buku bisnis penerbangan karena ia malas membaca.

Dari mengangkut pahlawan devisa, lambat laun uang kas Lion terkumpul. Sedikit demi sedikit Rusdi menabung untuk menambah pesawat MD 82. Keberuntungan menghampiri Rusdi. Pada 2001 terjadi tragedi 11 September. Pasca peristiwa tersebut harga pesawat anjlok. Kesempatan emas itu langsung disikat dan ia sekaligus membeli empat pesawat jenis MD sekaligus. ”Ini adalah breakthrough Lion,” katanya

Tercetaknya laba juga tak terlepas dari strategi Rusdi. Ketika maskapai lain menggunakan jenis pesawat Boeing 737-200, Lion memilih MD karena seat-nya lebih banyak. MD 82 berkapasitas 167 seat, ketimbang Boeing 737-200 atau 737-300 yang punya 110 seat. Padahal, biaya operasional kedua tipe pesawat itu hampir sama. Lalu, ketika maskapai lain menggunakan B737-400 atau Airbus-320, Lion memilih B737-900ER yang memiliki  seat lebih banyak. Dengan strategi ini Lion bisa menawarkan harga yang kompetitif.

Hanya dalam waktu 11 tahun, kini Lion memiliki lebih dari 90 pesawat baru. “Kami ini tumbuh organik, tidak didukung oleh finansial yang besar. Latar belakang bisnis pun saya tak ada. Waktu saya buka Lion Air, saya sendiri yang memasang spanduk di bandara. Logo Lion dan desain baju pramugari juga saya yang buat,” kata Rusdi. Bahkan, saking terbatasnya modal, untuk seragam pramugari ia sengaja mencari bahan seharga Rp5.000 per meter di Pasar Baru.

Kini Rusdi telah berhasil membuat Lion terbang tinggi. Dari satu kali penerbangan per hari, belakangan Lion melayani 500 penerbangan per hari. Itu artinya, hanya dalam 11 tahun, volume  penerbangan mereka tumbuh sebanyak 500 kali atau 50.000%. Pangsa pasar penerbangan domestik praktis sudah dikuasai Lion. Berdasarkan catatan Kementerian Perhubungan pada 2010 lalu, Lion memimpin pangsa pasar dengan menguasai 38,05% pasar penerbangan. Melihat perkembang ini, tak salah jika ada yang menyebut Lion  termasuk salah satu organisasi bisnis di tanah air yang pertumbuhannya tergolong spektakuler.

Adam Suherman, salah satu pengusaha yang sempat mencicipi industri penerbangan bercerita bahwa Rusdi adalah sosok yang ulet dan pekerja keras. Ibu Adam -Sandra Ong-dulu memiliki Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI), sekitar tahun 1990-an. Rusdi yang menyediakan tiket transportasi udara untuk karyawan PJTKI ke luar negeri. Kegigihan dan keuletan Rusdi membuat Sandra menyerahkan keperluan transportasi udara perusahaannya kepada Rusdi. “Ia menyewa pesawat untuk mengangkut penumpang dari kami. Dari sana ia mendapatkan jaringan, mengerti pembiayaan pesawat, sehinga pada saat industri penerbangan dibuka kenapa tidak ikut terjun ke dalamnya,” terangnya.

Sama-sama bergelut di bisnis penerbangan, Adam ikut melihat perkembangan Lion Air sejak awal. Keberhasilan Rusdi dilakukan atas usahanya sendiri, bukan kekayaan turunan alias bisnis keluarga, seperti banyak pengusaha besar di Indonesia. “Jatuh bangunnya Lion Air itu lumayan. Orang kan melihat Lion yang sekarang, padahal dulu susah sekali perjuangannya,” jelas pria yang dulu mengelola maskapai Adam Air ini.

Adam pun megaku kagum dengan pencapaian Rusdi saat ini. Ia angkat topi karena Lion tetap bisa berkibar dan terus berkembang. Menurut mantan CEO PT Adam SkyConnection Airlines itu industri penerbangan merupakan industri yang kompetitif dan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Setidaknya terdapat empat faktor kunci dalam industri ini, yakni mengurus penumpang yang memiliki perbedaan karakter dalam jumlah besar, masalah keselamatan, minimnya kesiapan infrastruktur seperti bandara dan BMG, dan ketidaksiapan SDM menghadapi pertumbuhan pesat industri penerbangan.

Keberhasilan Lion, menurut Adam  juga karena didukung oleh tim yang solid plus kerja keras yang luar biasa dari karyawan. “Loyalitas karyawan begitu tinggi,” katanya. Adam menambahkan di Indonesia banyak perusahaan penerbangan gulung tikar, selain tidak kuat secara pendanaan juga karena konflik manajemen. Adam juga menganggap Rusdi berhasil mengembangkan budaya yang unik, yakni tidak birokratis, sehingga perusahaan ini luwes dan gesit. Rusdi, menurut dia, adalah pemimpin yang mau turun ke lapangan.

Rusdi lahir 49 tahun silam. Ia lahir tepat pada hari kemerdekaan RI. Kemandirian memang telah terbangun dalam dirinya sejak belia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Rusdi kuliah sambil bekerja. Ia pernah menjadi salses mesin tik. Ia juga pernah bekerja di perusahan pemasok bahan baku kue dan menjadi account executive di sebuah perusahaan periklanan.

Kusnan, kakak Rusdi, lantas mengajak dia mendirikan perusahaan travel agent bernama Lion Tours. Nama Lion diambil karena keduanya berbintang Leo. Kelak nama Lion tetap digunakan untuk perusahaan penerbangan yang mereka dirikan. “Kami beralih ke bisnis penerbangan karena melihat bisnis travel agen kurang menjanjikan,” tukas Rusdi.

Saat ini, Rusdi memimpin 11.355  karyawan.  Ia menaruh perhatian besar terhadap kesejahteraan karyawan. Mulai Agustus 2012, ia akan memindahkan kantor pusat Lion di Gajah Mada, Jakarta Pusat ke Telagabesatari, Tangerang. Rusdi telah membeli tanah seluas 30 hektare untuk bisnisnya, di sana, ia akan mendirikan perumahan karyawan, asrama, tempat pelatihan, kolam renang, dan berbagai fasilitas untuk karyawan. Ia juga menyediakan jaminan sosial dan uang pensiun bagi penerbang dan teknisi Lion. Bila penerbang atau teknisi sakit atau meninggal, pihak keluarga akan tetap menerima gaji selama 10 tahun setelahnya.

Meski sudah sukses dan berlimpah harta, Rusdi, kata Edward Sirait Direktur Umum Lion Air, bukanlah tipe pemimpin yang menjaga jarak dengan karyawan. Karakternya memang  hangat dan ramah. Atribut orang nomor satu di perusahaan tak memupus kesederhanaannya. Rusdi masih sering melahap mie ayam di pinggir jalan bersama Edward. Penampilan Rusdi juga tidak berubah, selalu menggunakan kemeja lengan pendek warna putih dan celana berwana gelap.

Kendati telah sukses, Rusdi mengaku masih tetap waspada. Hal yang paling ia khawatirkan dalam bisnis ini adalah kecelakaan, karena itu kadang terjadi di luar kuasa siapapun. “Saya tidak takut dalam bisnis atau soal pendanaan. Hal yang saya takutkan adalah kecelakaan.”

Ketika ditanya kapan ia akan berhenti memimpin Lion. Rusdi terdiam sejenak. “Regenerasi hal yang sulit karena menyangkut kepemimpinan. Saya sedang mencari sosok yang tepat,” katanya. Ya tugas terberat Rusdi selanjutnya adalah merajut masa depan Lion tanpa dirinya.  ***

Reportase tambahan oleh Afif Maulana dan Nia Novelia

Tulisan ini dimuat di Majalah Fortune Indonesia, Desember 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s