Uncategorized

Mencari Celah di Tengah Perubahan

Dunia berubah dengan cepat, mereka yang cepat berdaptasi dan mengikuti perubahan akan bertahan.

Oleh : Evi Ratnasari

“We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost,” ujar CEO Stephen Elop mengakhiri pidatonya pada 3 September 2013. Hari itu, Microsoft resmi mengakuisisi Nokia senilai US$7,17 miliar.

Elop dan eksekutif Nokia lainnya tidak bisa menutupi kesedihan mereka hari itu. Mereka menitikan air mata.

Kiprah Nokia di ranah ponsel berakhir. Merek Nokia tinggal sejarah. Padahal ponsel asal Finlandia itu cukup melegenda dan sempat merajai industri telepon seluler dunia. Di Indonesia, kita dulu menyebutnya sebagai ponsel sejuta umat.

Nokia berdiri pada tahun 1985. Awalnya perusahaan yang didirikan oleh Fredrik Idestam tidak terkait dengan industri telekomunikasi, melainkan perusahaan penggilangan kayu untuk bubur kertas. Nama Nokia sendiri terinspirasi dari sungai Nokianvirta saat Fredrik Idesman mendirikan penggilangan kertas keduanya di daerah tersebut. (Nokia , 2016)

Bisnis Nokia terus berkembang dan pada tahun 1960-an Nokia menjadi perusahaan konglomerasi. Lini bisnisnya mulai dari produksi kertas, karet, kabel, elektronik dan pembangkit listrik. Nokia mulai merambah ke industri telekomunikasi pada 1967.

Pada Juli 1991 jaringan GSM mulai diperkenalkan dan di saat yang sama ponsel Nokia yang mendukung jaringan GSM diluncurkan. (Bouwman, Carlsson, & Walden, 2014, p. 5)

Pada 1998 Nokia menjadi pemimpin pasar ponsel di dunia. Singgasana tersebut diduduki hingga 14 tahun. Di 2012, Samsung menggeser posisi Nokia. Di tahun-tahun selanjutnya pangsa pasar Nokia terus tergerus.

Menurut konsultan bisnis manajemen Ziyad Jawabra  dalam blog Linkedin-nya Nokia tidak melakukan kesalahan, namun dunia berubah dengan cepat. Lawan yang mereka hadapi juga terlalu kuat.

Ya, Nokia memang menghadapi lawan-lawan yang tangguh seperti Samsung dan Apple. Selain itu, di industri ponsel bukan hanya satu atau dua perusahaan yang bertarung. Ada Motorola, Siemens, LG, Sony, Ericson, BlackBerry, Huawei, HTC dan Panasonic. Belum lagi ponsel-ponsel asal Tiongkok. Mereka semua berebut pasar yang sama.

Maka tak heran jika teknologi ponsel berubah dengan cepat. Dari layanan dasar hanya telepon dan SMS menjadi ponsel pintar (smartphone) dengan bermacam fitur dan aplikasi.  Inovasi dan mengetahui kebutuhan konsumen menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan.

Dalam paper How Nokia Failed to Nail the Smartphone Market, Koski dan Kretschmer (2010) mengatakan bahwa di era smartphone, bukan hanya tentang inovasi produk, tetapi yang lebih penting tentang inovasi perangkat lunak, dan lebih khusus bagaimana agar perangkat keras dan perangkat lunak terintegrasi. (Bouwman, Carlsson, & Walden, 2014)

Jawabra berpendapat Nokia terlambat berlajar, terlambat berubah sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih besar. “Tidak hanya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang banyak, Nokia juga kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup.”tulis pria yang telah menjadi konsultan perusahaan multinasional dalam blognya itu.

Produsen elektronik Jepang pun mengalami kisah yang tidak jauh berbeda dengan Nokia. Merek-merek besar seperti Sony, Panasonic, Toshiba juga tergeser oleh perusahaan-perusahaan yang inovatif seperti Samsung dan LG.

Menurut Jawabra tidak ada yang salah jika tidak ingin belajar hal-hal baru. Namun, jika pikiran dan pola pikir kita tidak bisa mengejar perkembaangan zaman maka akan musnah. Keunggulan yang dimemiliki kemarin, akan digantikan oleh tren ke depan. Anda tidak perlu melakukan sesuatu yang salah, namun jika pesaing Anda mampu menangkap peluang dan melakukannya dengan benar, maka suatu saat Anda akan punah.

Jawabra juga mengingatkan bahwa mereka yang menolak untuk belajar & meningkatkan kemampuannya pasti suatu hari tidak akan lagi relevan di industri. Mereka akan belajar dengan cara yang sulit & mahal.

Pemicu Perubahan Dunia

Dunia memang berubah dengan cepat. Siklus hidup suatu produk dan jasa pun semakin singkat. Para pelaku bisnis yang ingin bertahan dan relevan di industri harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Dalam buku No Ordinary Distribution karya Richard Dobbs dijelaskan bahwa ada empat hal yang akan mendorong perubahan di dunia dan kita harus bisa menyesuaikan diri. Keempat hal tersebut adalah urbanisasi, teknologi yang berubah cepat, populasi yang kian menua, dan koneksi global: perdagangan, modal dan manusia. (Samirin, 2016)

Urbanisasi

Urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota di tahun-tahun mendatang akan terus meningkat. Menurut data World Bank urbanisasi tidak hanya terjadi di negara-negara berpendapatan rendah namun juga di negara-negara berpendapatan tinggi. Justru, urbanisasi di negara berpendapatan tinggi persentasenya jauh lebih tinggi dibanding negara yang berpendapatan rendah dan menengah.

Di negara berpendapatan tinggi jumlah populasi urbanisasinya mencapai 80% dari total populasi. Sedangkan di negara pendapatan menengah 50% dari total populasi dan negara pendapatan rendah 30% dari total populasi.

Fenomena urbanisasi juga terjadi di Indonesia. Menurut World Bank laju pertumbuhan urbanisasi di Indonesia mencapai 4 % per tahun. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang mengalami urbanisasi tercepat di dunia. Pada tahun 2025 diperkirakan 68% dari seluruh penduduk Indonesia akan hidup di daerah perkotaan. (World Bank, 2014)

Perpindahan penduduk dari desa ke kota semakin tidak terbendung karena kota memiiki sejumlah daya tarik seperti bisa mendapatkan penghasilan lebih tinggi, kesempatan mendapat pekerjaan yang luas dan fasilitas publik lebih lengkap.

Arus urbanisasi yang cepat dan dalam jumlah besar jika tidak diantisipasi akan menimbulkan masalah sosial dan ekonomi. Di perkotaan, konsentrasi penduduk akan makin besar sementara lahan yang tersedia terbatas. Bagi daerah pedesaan urbanisasi akan mengakibatkaan jumlah tenaga kerja produktif berkurang.

Urbanisasi memang akan memberikan sejumlah masalah, namun di sisi lain juga memberikan banyak peluang. Di perkotaan jumlah tenaga kerja yang terampil dan terdidik akan banyak sehingga kota akan makin produktif. Selain itu meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan akan mendorong konsumsi domestik sehingga ekonomi akan tumbuh.

Jumlah tenaga terampil yang banyak dan tingkat konsumsi domestik yang tinggi bisa menjadi modal untuk meningkatkan daya saing kota dalam mendapatkan investasi

Teknologi

Perubahan teknologi juga berperan dalam mengubah bisnis dan perilaku manusia. Misalnya evolusi ponsel menjadi smarthphone.

Ponsel yang awalnya hanya memberikan layanan dasar telepon dan mengirimkan pesan menjadi smarthphone yang menyediakan berbagai macam layanan dan fitur dalam gengaman membawa sejumlah implikasi. Eksistensi bisnis kamera misalnya jadi terancam. Kini smarthphone menyediakan fitur yang tidak kalah dengan yang ditawarkan kamera digital. Perilaku orang pun semakin narsis.

Di industri keuangan, kehadiran smarthphone juga akan mendorong terjadinya branchless banking atau bank tanpa cabang. Dulu jika orang ingin mendapatkan layanan perbankan orang akan pergi ke bank. Namun, kehadiran ATM mengurangi jumlah orang yang datang ke bank. Ke depan ATM bisa jadi tidak relevan lagi dan diganti dengan e-banking, mobile banking dan phonebanking.

Perilaku masyarakat dalam mencari informasi dan mengakses media juga berubah. Mereka ingin peristiwa yang terjadi saat itu diketahui saat itu juga. Realtime. Kehadiran smartphone memungkinkan hal itu terjadi dan lambat laun media cetak menjadi kian tidak relevan.

Populasi yang Kian Menua

Beberapa negara maju kini sedang menghadapi masalah meningkatnya jumlah populasi yang menua. Banyaknya jumlah manula akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pasalnya jumlah usia produktif berkurang sehingga produktivitas negara tersebut akan terancam, konsumsi masyarakatnya pun menurun.

Jepang misalnya. Pada 1989, jumlah orang yang berusia lebih dari 65 tahun ada 11,6% dari populasi. Di 2006, mencapai 20% dan PBB memperkirakan pada 2025 mendatang presentase penduduk lanjut usia di negeri Sakura tersebut akan mencapai 35,1% dari populasi Jepang.

Kondis ekonomi Jepang saat ini sedang mengalami perlambatan. PDB-nya turun, tingkat pengguran meningkat dan inflasi yang rendah. Pada kuartal empat 2015, PDB Jepang turun 0.3%. Tingkat pengguran di Februari 2016 naik ke 3,3% dari sebelumnya 3,2%. Sedangkan inflasi di Februari hanya 0,3%. (http://ieconomics.com/japan, 2016)

Rendahnya inflasi membuat otoritas moneter Jepang mengeluarkan kebijakan suku bunga negatif. Bank Sentral Jepang (BoJ) pada Januari lalu menetapkan suku bunga acuan minus 0,1%.

Kebijakan suku bunga negatif ini diharapkan membuat masyarakat enggan menyimpan uangnya di bank karena tidak akan mendapatkan bunga, justru sebaliknya mereka harus membayar ke perbankan. Otoritas moneter Jepang berharap kebijakan ini dapat mendorong konsumsi masyarakat sehingga inflasi meningkat.

Di Indonesia kebijakan tersebut tidak akan terjadi karena Indonesia masih menikmati bonus demografi. Jumlah kelas menengah cukup banyak dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

Meningkatnya jumlah populasi yang menua juga membawa sejumlah peluang. Di industri kesehatan dan jasa misalnya, jumlah perawat diperkirakan akan meningkat.

Koneksi Global

Koneksi global membuat perpindahan barang, modal dan manusia dari tahun ke tahun nilainya semakin besar dan cepat. Kemajuan teknologi memungkinkan hal tersebut terjadi. Peluang dan risiko pun dapat dengan mudah berpindah secara cepat.

Koneksi global juga memungkinkan spekulan untuk memindahkan aset keuangan mereka dari satu negara ke negara lain dengan mudah dan lebih cepat untuk mencari keuntungan. Akibatnya, pasar saham dan keuangan menjadi tidak stabil. Indeks saham dan nilai tukar jadi lebih sering naik turun. Dengan kata lain volatilitas akan lebih sering terjadi dengan rentang rentang waktu yang semakin pendek.

Mereka yang Menangkap Peluang

Gojek, dan PT Modern Internasional adalah contoh dari perusahaan-perusahaan yang bisa memanfaatkan peluang dari perubahan yang terjadi saat ini.

Gojek melihat kebutuhan masyarakat urban dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung kebutuhan tersebut. Ide bisnis Gojek sebenarnya sudah muncul sejak 2010. Namun Nadiem Makariem dan rekannya baru mendirikan perusahaan PT Gojek Indonesia pada tahun 2011.

Ide Gojek muncul dari perbincangan Nadiem dengan pengendara ojek. Kala itu, si pengendara Gojek mengeluh sulitnya mencari pelanggan, hampir sebagian waktunya ia gunakan untuk menunggu pelanggan. Di sisi lain, pria lulusan Harvard ini melihat kota Jakarta menghadapi masalah kemacetan, padahal  mobilitas warga Jakarta juga tinggi dan membutuhkan transportasi yang cepat dan nyaman.

Nadiem menghilangkan imej ojek yang lecek dan bau. Ia melengkapi pengendara ojek dengan jaket dan helm. Awalanya Gojek melayanai lewat telepon, blackberry messenger, dan juga e-mail. Setelah ponsel android berkembang dan banyak digunakan, Gojek lalu membuat aplikasi di ponsel. Sejak itu bisnis Gojek berkibar.

Dalam situsnya, Gojek mengklaim sudah bermitra dengan 200 ribu pengedara ojek dan telah beroperasi di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Layanannya pun kini tak terbatas pada mengantarkan penumpang, namun juga sebagai kurir atau pengantar makanan.

PT Modern International Tbk –dulu PT Modern Photo Tbk- adalah salah satu contoh perusahaan Indonesia yang bisa beradaptasi dengan perubahan sehingga tetap dapat bertahan. Perusahaan dengan kode emiten MDRN ini berdiri pada tahun 1971 dan menjadi distributor tunggal untuk seluruh produk Fuji Film Jepang di Indonesia.

Tahun 2009 PT Modern International melakukan tranformasi bisnis dengan menjadi master franchise 7-Eleven untuk Indonesia. Bisnis utamanya diubah menjadi bisnis minimarket dengan konsep kafetaria yang beroperasi 24 jam.

Dalam majalah Fortune Indonesia, Direktur Modern International Hendri Honoris mengatakan perusahaannya sudah sejak 2006 mendekati 7-Eleven. Menurutnya langkah ini memang harus diambil mengingat bisnis utama perusahaan Fuji Film mulai menurun. Nilai bisnis cetak Fuji Film saat itu merosot tajam dari Rp2 triliun menjadi Rp200 miliar. (Fortune Indonesia, 2012)

Untuk mempercepat penetrasi 7-Eleven di Indonesia, Modern International menggubah gerai-gerai jaringan Fuji Film menjadi gerai 7-Eleven.

Perubahan bisnis yang dilakukan Modern International terbukti membawa dampak positif pada perusahaan. Sejak 2010, perusahaan yang dikomandoi oleh Sungkono Honoris itu terus mengalami kenaikan pendapatan.

Daftar Bacaan

Bouwman, H., Carlsson, C., & Walden, P. (2014). How Nokia Failed to Nail the Smartphone. 25th European Regional Conference of the International Telecommunications Society (p. 5). Brussel, Belgia: Research Gate.

Detik.com. (2011, 7 27). http://oto.detik.com/read/2011/07/27/162806/1690724/1208/2/bisnis-ojek-ala-lulusan-harvard. Retrieved from detik.com: http://oto.detik.com/read/2011/07/27/162806/1690724/1208/2/bisnis-ojek-ala-lulusan-harvard

Fortune Indonesia. (2012). Surga Anak Muda. Jakarta: Fortune Indonesia.

http://ieconomics.com/japan. (2016). http://ieconomics.com/japan. Retrieved from http://ieconomics.com/japan: http://ieconomics.com/japan

Jawabra, Z. (2015, November 13). ttps://www.linkedin.com/pulse/nokia-ceo-ended-his-speech-saying-we-didnt-do-anything-ziyad-jawabra. . Retrieved from Linkedin: ttps://www.linkedin.com/pulse/nokia-ceo-ended-his-speech-saying-we-didnt-do-anything-ziyad-jawabra.

Nokia . (2016). http://company.nokia.com/en/about-us/our-company/our-story. Retrieved from http://company.nokia.com/en/about-us/our-company/our-story: http://company.nokia.com/en/about-us/our-company/our-story

Samirin, W. (2016). Economic Opportunities and Challenges in the New World. Public Lecture Interdisciplinary (p. 3). Jakarta: Paramadina Graduate School.

World Bank. (2014). Kajian Kebijakan Pembangunan 2014: Indonesia Menghindari Perangkat. Jakarta: World Bank.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s