Uncategorized

Maharaja Merek Ternama

Mahagaya adalah perusahaan fashion yang konsisten membidik kelas atas. Memasuki usia 30 tahun mereka bertahan pada segmen yang sama. Mengapa?

Oleh : Evi Ratnasari

Prada, Etienne Aigner, Tod’s, Francesco Biasia adalah sedikit dari deretan merek premium yang menyediakan gerai di Indonesia. Tentu saja, kita tidak bisa menafikan kehadiran Louis Vuitton atau Channel yang juga bisa dijumpai di negara ini, namun merek yang disebutkan di awal tadi merupakan segelintir bisnis Trans Mahagaya. Setelah Mitra Adi Perkasa menetapkan fokus pada pasar kelas menengah, maka Trans Mahagaya menjadi satu-satunya peritel papan atas dengan jaringan yang relatif luas. Belakangan mereka juga mengambil merek-merek premium, yang semula digenggam oleh Mitra Adi Perkasa, seperti Giorgio Armani.

Rabu (25/5) lalu, Trans Mahagaya secara resmi membuka gerai Giorgio Armani yang pertama, di Plaza Indonesia. Kalangan sosialita dan pecinta mode, sekitar 50 orang, berdatangan memenuhi butik yang didominasi warna hitam dan perak. Pramusaji hilir mudik membawa wine dan penganan kecil, serta senyum mengembang di wajah Anita Tanjung dan Dewi Moran, dua petinggi Trans Mahagaya, yang menjadi tuan rumah.

Senyum Anita dan Dewi, nampaknya menggambarkan optimisme mereka dalam mengusung Giorgio Armani kembali ke Indonesia. Selain karena merek premium ini menambah panjang daftar Trans Mahagaya dalam bisnis papan atas.
Bicara tentang Trans Mahagaya memang tak bisa lepas dari Dewi Moran, si pendiri. ”Ia adalah pionir di bisnis fashion kelas atas,” ujar Eddy Hartono, Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia. Eddy menilai Mahagaya bisa bertahan dan tetap konsisten membidik segemen atas, salah satunya berkat tangan dingin Dewi. Pasalnya, di Indonesia tidak mudah berbisnis fashion papan atas, karena harga di sini lebih mahal ketimbang barang serupa di negara tetangga. “Orang-orang yang berduit umumnya lebih senang berbelanja di luar negeri,” ujarnya

****

Dewi, yang suka barang indah dan berkualitas, terdorong menggeluti bisnis fashion papan atas pada tahun 1984. Ia mulai dengan membawa Etienne Aigner ke Gajah Mada Plaza, di bawah Mahagaya Perdana. Ia mengaku tidak mudah meyakinkan prinsipal untuk menjual barang ke Indonesia. Hal itu makan waktu dua tahun. Salah satunya karena si prinsipal ingin tahu bagaimana mengelola toko dan mempertahankan image produk. “Makanya saya selalu bilang bahwa butik itu adalah garda depan perusahaan,” ujar Dewi, yang suaminya, Nico Moran, merupakan distributor Levi’s di Indonesia sejak tahun 1970.

Namun, pekerjaan rumah terbesar adalah melakukan edukasi pasar. Waktu itu, sebagian besar orang Indonesia tidak percaya bahwa harga tas dan dompet bisa sangat mahal, menyamai harga mobil. Apalagi, Dewi hanya menjual satu merek saja. “Jadi, kita harus menjelaskan bagaimana konsep franchise dan mengapa harga barangnya begitu mahal,” katanya.
Bahkan, pengelola mal juga belum memahami konsep barang premium. Dewi ingat ketika mereka membuka gerai di Plaza Indonesia tahun 1990-an dan pengelola tidak menempatkan produk sesuai dengan kelasnya. “Masak sebelah gerai kita adalah cuci cetak film,” kenang dia. Untunglah, hal itu tidak berlangsung lama. Nampaknya semua pihak di Indonesia belajar menerima merek premium.

Seperti pernah dikutip KONTAN, CEO Mahagaya, Raj Kaul mengatakan bahwa kesesuaian merek dengan tenant lain yang sekelas dalam satu mal, merupakan kunci penting. “Bisnis merek premium tidak hanya berpikir memenangi kompetisi namun juga ketersediaan merek setara,” ujar pria kelahiran Kashmir, India ini.

Tentu saja, layaknya bisnis lain, pelaku fashion premium harus mengenal pelanggan mereka. Pasalnya, selain tren yang berubah, selera orang juga berbeda-beda. Dengan mengenal konsumen, maka akan memudahkan pemilihan barang. “Kita akan tahu betul apa yang disenangi oleh pasar di sini. Jadi, lebih gampang menentukan barang,” ungkap Dewi, ibu dari empat anak ini.

Dulu, Dewi kerap turun sendiri dalam memilih merchandise dan melayani konsumen. Namun dengan semakin banyak merek yang digenggam, ia mulai menyerahkan tugas itu kepada pegawainya. Agar bisa fokus memahami kebutuhan setiap pelanggan, setiap merek memiliki brand manager masing-masing.

Dalam memilih pegawai, Dewi punya persyaratan khusus. Selain harus pintar bebahasa inggris, karyawan harus tahu tren dan punya fashion sense. Bukan untuk diri sendiri tapi untuk melayani konsumen. ”Karena fashion is all about personal style,” jelasnya.

Tahun 2007, Dewi melepas bisnisnya ke pengusaha Chairul Tanjung, ketika ia sudah memiliki 30 gerai. Keputusan Dewi ini membuat banyak pengusaha ritel terkejut. “Saya sempat kaget, sebab sebelumnya tidak pernah terdengar ada masalah dengan Mahagaya,” cetus Eddy yang mengaku cukup dekat dengan Dewi.

PT Mahagaya Perdana pun berubah nama menjadi PT Trans Mahagaya

Rumor pun merebak. Sumber Fortune mengatakan alasan Dewi melepas Mahagaya, karena ia terbelit utang kepada Bank Mega, bank milik Chairul Tanjung. Dewi merupakan salah satu nasabah Bank Mega. Ia meminjam uang bank untuk melakukan ekspansi dengan agresif membuka gerai di mal papan atas. Jelas saja, harga sewa mal tadi terbilang tinggi, bahkan menggerus 30% penjualan. Sebagai perbandingan, sewa mal setara di negara lain, hanya sekitar 10% dari penjualan. “Jadi meskipun penjualannya tinggi, margin yang didapatkan tetap saja tipis, paling tidak sampai 5%” ujar sumber tersebut. Karena Dewi Moran tidak mampu membayar utang akhirnya ia menggadaikan perusahaannya kepada Chairul Tanjung.

Dewi membantah kabar tersebut. Alasan ia melepas Mahagaya adalah karena ingin beristirahat, serta tidak memiliki penerus karena anak-anak enggan menangani bisnis ini. “Anda bisa cek ke Bapak Chairul Tanjung, bahwa saya tidak memiliki utang,” ujarnya. Dewi menolak menyebutkan nilai penjualan Mahagaya.
Sebenarnya Dewi ingin bisnis fashion premium ini diteruskan anak-anak. Namun, mereka sudah memilih karier sendiri dengan minat yang berbeda dan bukan ke bisnis ritel.

Masalah regenerasi, kata Suryadi Sasmita, Ketua Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia, memang menjadi masalah di industri ritel Indonesia. Menurutnya, retail is detail. Dan pengusaha Indonesia yang sukses berbisnis ritel merupakan entrepreneur yang terlibat langsung untuk menjalankan bisnis. Ketika sang pendiri telah memasuki usia pensiun, belum tentu generasi kedua atau selanjutnya bisa melanjutkan bisnis tadi. Jika tidak menemukan profesional yang tepat dan mengerti seluk beluk ritel maka perusahaan itu akan tamat. “Saya kira itu alasan Dewi melepas bisnisnya ke Chairul Tanjung. Dia mau istirahat,” ujarnya

Dewi memang mengaku sedih harus melepas bisnisnya. Namun, ia akan lebih sedih jika perusahaan yang dibangunnya hancur karena tidak ada yang mengurus. “Jika melakukan sesuatu yang disukai, pasti Anda tidak akan ingat waktu,”seloroh wanita yang kini menjadi komisaris di PT Trans Mahagaya.

Meski tidak lagi menjadi pengendali Mahagaya, Dewi dipercaya untuk menjadi salah satu komisaris di Trans Mahagaya.
Di tangan Chairul Tanjung, Mahagaya akan tetap fokus membidik segemen atas. “Kami yakin segmen ini (kelas atas-red) masih tetap menjanjikan. Merek yang kami miliki juga merek-merek yang sukses di dunia,” ujar Anita Ratnasari Tanjung, istri dari Chairul Tanjung, yang duduk sebagai salah satu komisaris Mahagaya. Anita yakin selama perekonomian Indonesia berjalan baik, industri fashionnya juga tumbuh dengan baik.

Suryadi menilai Mahagaya akan semakin berkembang di tangan Chairul Tanjung. “Kapital yang dimiliki Chairul sangat kuat dan bisa bernafas panjang,”ujar pria yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Indonesia Wacoal.
Memang, sejak diambil alih Chairul Tanjung, Mahagaya terus mendapat suntikan dana dari Bank Mega. Berdasarkan laporang keuangan Bank Mega, pada 2008 bank yang 57,82% sahamnya dimiliki oleh Chairul Tanjung (melalui PT Mega Corpora) mengucurkan kredit Rp42,5 miliar. Di 2009 dan 2010 jumlah pinjamannya meningkat menjadi Rp51,8 miliar dan Rp58,9 miliar. Jika ditotal, dalam kurun waktu tiga tahun dana yang disalurkan mencapai Rp150 miliar lebih.
Mahagaya adalah perusahaan Chairul Tanjung yang mendapatkan kucuran kredit terbesar kedua dari Bank Mega setelah PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh.

Bisnis Mahagaya pun berkembang. Jumlah gerai meningkat sekitar 73% . Dari 30 gerai pada 2007 menjadi 52 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, Medan dan Makassar. Targetnya dalam waktu tiga sampai empat tahun ke depan bisa sampai 100 gerai. Bagaimana dengan penjualannya? Pihak Mahagaya mengunci rapat-rapat mulut mereka. Manajemen menolak memberikan informasi apa pun terkait data-data penjualan dan kinerja perusahaan mereka.

Harry Cu, Senior Vice President Head of Indonesia Research Bahana Securities mengatakan sulit untuk melihat kinerja Mahagaya karena perusahaan tertutup. Tapi Hari menilai sepak terjang Mahagaya cukup agresif dalam mengembangkan usaha di bisnis premium. “Ini tercermin dari langkah mereka yang membawa kembali Giorgio Armani, merek yang di lepas Mitra Adiperkasa,” ujarnya.

Sebagai gambaran, kata Harry, net margin di industri fashion bermerek umumnya hanya 4%. Harry percaya net margin Mahagaya bisa lebih besar dari 4%, sebab Chairul Tanjung juga memiliki mall kelas atas.” Ini akan menekan biaya sewa mall secara keseluruhan. Sehingga marginnya kemungkinan akan lebih besar dari 4%.,” jelasnya.
Anita mengaku pihaknya memang punya ambisi besar di bisnis lifestyle. Khusus untuk Mahagaya, ia ingin melipatgandakan gerai secepat mungkin dan menyebarkan merek premium ke kota besar di Indonesia. Seperti Agustus 2010 lalu , Mahagaya melakukan ekspansi ke Makassar, Sulawesi Selatan. Produk-produk Aigner, Hugo Boss, Tod’s, Manggo dan Armani Jeans sudah bisa dijumpai disana, “Kami masuk ke sana karena pertumbuhan ekonomi di daerah itu luar biasa,” ucapnya.
Untuk mewujukan ambisi tersebut, Anita mengatakan pihaknya memilih profesional yang handal. “Serahkan pada ahlinya,” cetusnya. Setelah membeli Mahagaya dari Dewi Moran, pihaknya kemudian mencari sosok yang tepat untuk menjalankan bisnis tersebut. Ada beberapa nama yang menjadi kandidat untuk menduduki posisi CEO. Mereka ada yang berasal dari dalam dan luar negeri. “ Tidak perlu saya sebut siapa saja kandidatnya,”ujar dokter gigi itu. Pilihan akhirnya jatuh pada Raj Kaul, pria asal Australia.

Raj Kaul punya pengalaman panjang dalam menjalankan bisnis fashion dan gaya hidup di Asia dan Australia. Ia sempat bekerja di Sonnfield, British India, dan FJ Benjamin Group. ”Ia memiliki pengalaman dalam memasarkan merek-merek internasional. Saya percaya di tangannya Mahagaya akan maju dan berkembang pesat. Target yang kami berikan pun bisa tercapai,” kata Anita.

Bagaimana Raj mempertahankan pasar, sementara banyak orang Indonesia suka belanja di luarnegeri. Mereka menjaga agar selisih harga hanya 12% sampai 15% dibandingkan barang serupa di negara tetangga. “Dengan harga bagus, konsumen tidak punya alasan untuk belanja ke luarnegeri,” ucapnya, seperti dikutip KONTAN. ***

By Numbers

52
Jumlah seluruh gerai Trans mahagaya di Indonesia, terdiri dari fashion high end dan medium.

73
Persen, pertumbuhan gerai Mahagaya sejak diakuisisi pengusaha Chairul Tanjung

Kucuran Kredit Dari Bank Mega Untuk Mahagaya
2008 Rp42,5 miliar
2009 Rp51,8 miliar
2010 Rp58,9 miliar
Sumber: Laporan keuangan PT Bank Mega Tbk.

Tulisan ini dimuat di majalah Fortune, Edisi 17, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s