Ekspansi &Peluang Bisnis

Kemilau Kemewahan di Seluruh Indonesia

Selain Jakarta, Indonesia bagian timur, seperti Makassar, merupakan surga baru bagi bisnis barang-barang mewah.

Oleh : Evi Ratnasari

Sebagian orang Indonesia mendapatkan berkah dari kenaikan harga komoditas. Secara ekonomi, pendapatan mereka pun naik mencapai puncak. Uniknya, para orang kaya ini tidak terpusat di ibukota. Sesuai lokasi bisnis, mereka tersebar di luar Jawa.

Pengamat ekonomi Chatib Basri menilai kawasan luar Jawa sangat menjanjikan sebagai sumber pertumbuhan utama di masa mendatang dibandingkan Pulau Jawa, berkat booming harga komoditas seperti kelapa sawit dan batubara. “Orang-orang kaya baru akan banyak ditemui di daerah yang kaya akan sumber daya alam,” cetusnya.
Pendapatan di luar Jawa pun kini lebih tinggi daripada Jawa. Hasil dari Emerging Consumer Survey yang dilakukan Credit Suisse menunjukkan, pendapatan rata-rata penduduk di luar Jawa adalah Rp2,8 juta per bulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penduduk di Jawa yaitu Rp2,46 juta.

Imbas dari segala berkah ini ternyata luarbiasa.

Siang itu, Fortune Indonesia makan siang di warung ikan bakar di Makassar. Tujuh kipas angin berjelaga hitam berputar di langit-langit Poetre, nama warung tersebut. Kami duduk di bangku kayu yang sudah usang, karena tempat makan sederhana ini sangat legendaris. Di dekat kasir ada setumpuk kertas fotokopian, yang setelah diamati ternyata leaflet penawaran rumah. Berbeda dengan brosur real estate di Jawa yang penuh warna dengan kertas yang tebal, IMB Group menawarkan produk mereka, bernama Modern Estate, dalam dua warna saja. Putih dan biru, untuk rumah tipe 46 dengan dua kamar. Tapi, ini bukan rumah sangat sederhana. Harganya mulai Rp 499 juta per unit.

“Harga rumah di Makassar memang sudah tinggi,” cetus Fadly Rifai Kasim, Direktur Oprasional dan Pengembangan PT Kalla Inti Karsa, yang pindah ke Makassar pada 2009 lalu. Sebelumnya Fadly bermukim di Jakarta selama 12 tahun. Ia berharap di Makassar bisa mendapatkan rumah dengan harga yang jauh lebih murah dari Jakarta. “Ternyata, harga di sini sama dengan Jakarta,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan memang luarbiasa. Tahun lalu, ketika pertumbuhan ekonomi nasional mencatat angka 6,1%, pertumbuhan mereka berkisar 8,1%.

Baruga Asrinusa Development adalah salah satu pengembang di Makassar yang memasarkan rumah di atas satu miliar. Menurut Furqon Affandi, Direktur Operasional Baruga Asrinusa Development, dari sekitar 50 unit yang dibangun sudah 90% terserap pasar. Meroketnya harga komoditas, membuat kesejahteraan masyarakat meningkat. Paska krisis 1998, ujar dia, banyak petani yang menjadi kaya. Saat itu, mereka mengekspor panenan, sehingga mendapatkan dolar amerika. Pada saat bersamaan, dolar menguat 800% terhadap rupiah.

Selama lima tahun belakangan, dolar amerika cenderung melemah, namun animo masyarakat pada rumah mewah di Makassar masih tinggi. Selain Baruga, setidaknya ada dua pengembang besar yang mencoba mencicipi pasar properti kelas atas di sana, yakni Grup Ciputra dan Grup Lippo. Ciputra membangun perumahan kelas atas di lahan seluas 1.000 hektare, dengan rumah seharga Rp800 juta sampai Rp3 miliar. Sedangkan Grup Lippo membangun Cluster Elysium, dengan harga rumah mulai Rp800 juta-an.

Dhevita Lestari, Marketing Executive PT Ciputra Fadjar Mitra yang kami temui saat itu mengatakan, rumah yang harganya hampir Rp3 miliar dari 28 unit yang dipasarkan, hanya tingal dua unit tersisa. “Padahal baru dipasarkan beberapa bulan,”cetusnya.

Pasar otomotif papan atas pun mengalami peningkatan signifikan di Indonesia Timur. Direktur Oprasional PT Hadji Kalla Toyota Main Dealer Hariyadi Kaimuddin memaparkan, pada 2010 lalu penjualan Toyota Alphard di Makassar hanya dua unit. Tapi hingga April 2011 saja perusahaannya sudah mencatatkan penjualan tujuh unit. Haryadi memprediksi tahun ini penjualan Alphard di Makassar bisa mencapai 30 unit jika tsunami Jepang tidak terjadi. ”Sudah banyak yang menanyakan produk itu,” kata Haryadi optimis.

Tentu saja, merek fashion mewah juga mudah dijumpai di Makassar. Agustus lalu pusat perbelanjaan Trans Studio Mall resmi beroperasi. Beberapa gerai seperti Hugo Boss, Tod’s, Francesco Biasia dan Etienne Aigner hadir di upper class department store seluas 24 hektare ini. Jadi, orang berduit di Indonesia Timur tidak perlu ke Jakarta untuk belanja barang bermerek. Menurut Fadly jumlah pengunjung Trans Mall sekitar 8.000-10.000 per hari.
Dan, pembelanja di sini bukan hanya penduduk Makassar. Seorang karyawan Aigner mengaku baru saja melayani pembeli dari Papua. Wanita dengan gelang emas besar itu memilih sebuah tas dan membayarnya dengan uang tunai. “Harganya Rp 13 juta,” tutur si karyawan.

Benar. Pembeli yang berasal dari daerah umumnya memang jarang menggunakan kartu kredit. Namun, dompet tebal mereka tetap menggiurkan bagi para produsen barang-barang mewah.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia, Edisi 17, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s