Ekspansi &Peluang Bisnis

Siap Memetik Rezeki Barang Mewah

Pasar barang mewah di Indonesia terbilang kecil. Namun memiliki daya beli yang luar biasa.

Oleh: Evi Ratnasari

Rudi Borgeinheimer begitu optimistis memasuki semester II-2010. Orang nomor satu di PT Mercedes-Benz Indonesia A Daimler Company ini yakin bahwa perusahaannya bisa meraih pertumbuhan luar biasa selama tahun macan kayu. Keyakinan Borgenheimer bukan tanpa alasan. Selama tahun 2008 dan 2009 perusahaannya bisa mencatatkan pertumbuhan penjualan yang signifikan. Padahal, selama dua tahun itu secara global kondisi ekonomi bisa dibilang tidak bersahabat.

Sepanjang tahun 2009 penjualan Mercedes-Benz di Indonesia mencapai 2.884 unit atau naik 19% dibanding tahun sebelumnya. Pangsa pasar perusahaan yang berbasis di Jerman ini meningkat dari 67% menjadi 69%, sekaligus mengukuhkan dominasinya di pasar mobil premium. Untuk tahun ini Rudi berani memancang target ambisius. ”Kami menargetkan pertumbuhan 30%,” tuturnya optimistis.

Tak hanya Mercedes-Benz yang meneguk kesuksesan di 2009. Merek premium lainnya seperti BMW yang didistribusikan oleh Astra juga membukukan kenaikan sebesar 25%. Secara keseluruhan, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil segmen premium termasuk didalamnya Mercedes-Benz, BMW, Audy, Jaguar dan Volvo mengalami pertumbuhan lebih dari 16%, yakni dari 3.598 unit (2008) menjadi 4.190 unit (2009). Peningkatan penjualan mobil premium di saat sulit menunjukkan krisis global tidak menyentuh kalangan berduit. Masyarakat segmen kelas atas tetap jor-joran membeli produk premium. Artinya Indonesia merupakan surga untuk penjualan barang-barang mewah.

Yang mencengangkan lagi dalam acara Indonesia Motor Show 2010 di hari pembukaanya tanggal 23 Juli lalu, Merzedes-Benz SLS AMG yang dibandrol Rp4,179 miliar laku keras bak kacang goreng. Hanya dalam satu hari sudah ada yang memesan sebanyak 40 unit.

Indikator lain yang menunjukkan Indonesia merupakan pasar potensial tercermin dari laris manisnya kondominium bernilai miliaran rupiah di Jakarta. Menurut Utami Prastiana, Associate Director PT Procon Indah, di Jakarta saat ini tersedia 7.000-an unit kondominium mewah dan sudah lebih dari 95% yang diserap pasar.
Pembukaan Global Store Louis Vuitton (LV) di Plaza Indonesia pada Maret 2009 lalu adalah bukti lain bahwa negeri ini merupakan ladang subur bagi luxurious brand. Presiden Louis Vuitton Asia Pasifik, Jean Baptiste Debains, kala itu mengungkapkan keyakinannya bahwa Jakarta merupakan pasar yang besar bagi produk LV.

Amelia Masniari penulis buku Miss Jinjing – Belanja Sampai Mati mengatakan wajar saja LV membuka Global Storenya di Indonesia sebab di Indonesia memang ada penggila merek-merek atau disebut branded freak. Sebagai personal shoper yang sering bersentuhan dengan para penikmat barang mewah ia mengaku pernah membantu salah seorang istri pengusaha di pedalaman Riau untuk membeli produk-produk LV mulai dari sepatu, tas dan aksesoris lainnya. “Segala model produk LV, ia punya,” cetusnya.

Menurut Ami – sapaan akrab Amelia – orang Indonesia mempunyai sifat pantang mati gaya dan pantang kalah. Jika sudah belanja keganasannya seperti ikan piranha. Dalam berbelanja mereka juga tidak pernah berfikir, asal suka mereka akan membeli. Kalau sudah datang ke butik-butik minimal sekitar Rp100 juta uang melayang. Ia menceritakan, pernah membawa rombongan ibu-ibu untuk berbelanja di Italia. Salah satu diantara mereka ada yang ingin membeli Tod’s driving shoes yang digunakan untuk menyetir. Ternyata ibu-ibu yang lain juga berbondong-bondong ikut membeli. Ketika ditanya oleh dirinya alasan ibu-ibu itu membeli dan apakah menyetir mobil, dengan entengnya mereka menjawab tidak dan mau beli saja. “Jadi kalau si A punya mereka juga harus punya. Meskipun barang itu tidak berguna,” ungkapnya.
Kalangan anak muda juga tak kalah gilanya dalam berbelanja barang-barang bermerek. Meski mereka belum memiliki penghasilan tapi memiliki buying power tinggi. Pernah suatu ketika ada ia mengatar sekelompok wanita muda ke suatu butik Bulgari, saat itu ada sebuah jam tangan yang dikerumuni oleh beberapa orang dan ada seoarang remaja usianya baru 20 tahun meminta pendapatnya tentang jam tersebut. Sejurus kemudian remaja itu memutuskan untuk membeli jam tangan seharga US$50.000. “Ia panas karena banyak yang mengerubuti barang itu,” katanya.
Pengamat mode dan gaya hidup Samuel Mulia mengatakan gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini semakin hedonis dan ada kebutuhan memenuhi penampilan diri disegmen atas. Orang-orang Indonesia juga mudah sekali untuk “dibujuk” untuk membeli barang atau istilahnya konsumtif. Sifat konsumtif inilah yang membuat mereka menjadi sasaran empuk para pemilik merek premium. “Jadi secara prospek bisnis sangat menjanjikan,’ cetusnya.
Apa yang dikatakan Samuel ada benarnya. Terbukti sektor konsumsilah yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lantas seberapa besar potensi pasar produk-produk mewah di Indonesia? Menurut pengamat ekonomi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko, besarnya potensi untuk produk mewah bisa dilihat struktur ekonomi Indonesia.

Jika dilihat dari jumlah skala usaha di Indonesia, ujar dia, unit usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia jumlahnya mencapai 99,9%. Sementara unit usaha besar yang notabene dikuasai oleh orang-orang kaya hanya 0,01%. Walaupun jumlahnya kecil, kelompok 0,01% ini menyumbang sekitar 47% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menguasai sekitar 80% ekspor Indonesia. “Meski prosentasenya kecil dibanding jumlah populasi penduduk, daya beli mereka sangat kuat,” ujarnya.

Jumlah kekayaan di segmen premium ini pun terus mengalami peningkatan. Menurut survei Affluent Asian Tracker yang dilakukan HSBC terhadap 2.072 individu segmen premium, berumur 18-65 di Indonesia ada sekitar 50% yang mengalami peningkatan kekayaan dalam enam bulan terakhir. Jika menengok daftar orang terkaya keluaran Forbes 2010 lalu jumlahnya juga semakin bertambah. Jika daftar tahun 2009 hanya memuat lima orang dari Indonesia, tahun ini jumlahnya bertambah jadi tujuh orang. Mereka adalah Michael dan Budi Hartono dengan jumlah kekayaan masing-masing US$3,4 miliar, Martua Sitorus (US$3 miliar), Peter Sondakh (US$2,2 miliar), dan Sukanto Tanoto (US$1,9 miliar). Lalu, Low Tuck Kwong dan Chairul Tanjung masing-masing memilki kekayaan sebanyak US$1,2 miliar dan US$1 miliar. Jika ditotal kekayaan ketujuh orang tadi mencapai US$16,1 miliar atau setara dengan Rp120,8 triliun. Bandingkan dengan total belanja pemerintah dalam APBN yang untuk 2010 nilainya mencapai Rp1.000 triliun.

Tahun ini, banyak kalangan memprediksi pasar barang mewah akan semakin besar. Survei The Nielsen Company Indonesia menunjukkan pada kuartal I-2010 indeks kepercayaan konsumen (IKK) Indonesia menempati posisi tertinggi kedua se-Asia Pasifik, setelah India. Direktur Eksekutif Riset Konsumen Nielsen Catherine Eddy mengungkapkan hasil survei ini mencerminkan bahwa konsumen Indonesia siap berbelanja.

Hasil survei Bank Indonesia juga mengamini hal itu. IKK pada Juni lalu meningkat ke level 111,4 atau naik 1,5 poin dari bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh persepsi masyarakat yang semakin baik terhadap kondisi ekonomi saat ini. Optimisme masyarakat dan meningkatnya jumlah orang kaya jelas merupakan peluang bagi pelaku industri termasuk para pemain di bisnis luxury.

Meski pasar bisnis barang-barang mewah ini menggiurkan, bukan berarti tidak ada aral melintang. Menurut Catherine, salah satu penghambat berkembangnya bisnis luxury di Indonesia adalah pajak barang mewah yang masih tinggi, sehingga harga barangnya semakin melambung. Pajak yang tinggi mendorong konsumen kelas atas Indonesia lebih suka berbelanja di Singapura atau Hongkong. “Ini tentu berdampak buruk juga terhadap Indonesia, karena masyarakatnya memilih membelanjakan uangnya di luar negeri,” ujarnya.

Catherine menyarankan agar pemerintah berhati-hati mengenakan pajak terhadap barang mewah. Pasalnya, ia menambahkan, meskipun produk yang dijual adalah merek global, pada akhirnya produk tersebut menjadi bisnis lokal. Jadi, saran Catherine, sudah seharusnya pemerintah mendukung berkembangnya bisnis lokal.

Sementara, Rudi Borgeinheimer mengingatkan pengenaan pajak yang tidak proporsional dapat menghambat pertumbuhan industri dan menurunkan motivasi para pebisnis untuk meningkatkan kegiatan industri lokal. “Apabila penghapusan atau setidaknya penurunan pajak barang mewah dapat dilakukan, saya yakin volume industri nasional akan dapat meningkat,” cetusnya.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia, Edisi 2, tahun 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s