Sengketa Bisnis

Nasabah Bakrie Life :Ke Mana Lagi Harus Mengadu?

Berbagai upaya telah dilakukan para nasabah Bakrie Life agar bisa mendapatkan kepastian pengembalian uang mereka. Namun, hingga kini belum membuahkan hasil.

Oleh : Evi Ratnasari

Jumat (3/10), jam menunjukan pukul 09.00 WIB, ketika Wahyudi dan 30 orang nasabah Bakrie Life lainnya berkumpul di salah satu coffee shop yang berada Setiabudi Building, Kuningan, Jakarta. Mereka begitu serius berdiskusi saat membahas apa yang akan mereka bicarakan bila bertemu dengan manajemen dan pemegang saham PT Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Intinya, nasabah ingin mendapatkan kepastian kapan uang mereka bisa kembali.

September lalu, Bakrie Life yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Bakrie Capital Indonesia mengalami gagal bayar atas produk asuransi yang dijual ke masyarakat. Produk itu bernama Diamond Investa, produk asuransi jiwa yang memberikan jaminan hasil investasi yang pasti (fixed rate). Produk yang diluncurkan pada 2007 ini menjanjikan bunga hingga 13% lebih tinggi dari bunga deposito bank kala itu, yang di kisaran 7%-8%.

Kegagalan ini disebabkan penyelewengan penempatan portofolio yang dilakukan oleh manajemen perseroan. Bakrie Life telah menyimpangkan dengan menumpukkan dana nasabah di saham grup sendiri (Grup Bakrie) di atas 70%. Akibatnya, ketika seluruh saham-saham Grup Bakrie ambruk saat krisis tahun 2008, semua ikut menyeret portofolio Bakrie Life yang ditempatkan pada saham-saham Grup Bakrie. Padahal, dalam prospektus disebutkan produk Diamond Investama menitikberatkan pada pengelolaan dan pengembangan investasi melalui instrument obligasi (90%), saham (5%), dan deposito(5%). Ada sekitar 600 nasabah yang menjadi korban dari ulah Bakrie Life ini dengan total dana yang belum dibayarkan sekitar Rp360 miliar.

Setelah berdiskusi sekitar satu jam, Wahyudi bersama para nasabah lainnya bergegas menyambangi lantai 18 Wisma Bakrie II, tempat pertempuan dilangsungkan. Tidak semua nasabah bisa ikut dalam pertemuan tersebut. Hanya lima orang yang diperbolehkan untuk bertemu dengan Timoer Soetanto, Direktur Utama Bakrie Life, dan Akhabani, Direktur Keuangan Bakrie Capital Indonesia. Sisanya melakukan demonstrasi dan orasi di depan gedung.

Sayang, pertemuan yang berlangsung selama empat jam itu tidak membuahkan hasil. Lagi-lagi para nasabah harus menelan pil pahit. Ini bukanlah kali pertama para nasabah kecewa setelah bertemu dengan pihak manajemen. Sejak Bakrie Life mengalami gagal bayar, berbagai dialog dan pertemuan antara Bakrie Life dan nasabah digelar. Hingga akhirnya muncul Surat Kesepakatan Bersama (SKB) pada tanggal 19 Oktober 2009 yang isinya Bakrie Life berjanji akan membayar dana nasabah dengan skema cicilan dalam waktu tiga tahun, yakni 2010, 2011, dan 2012.

Dalam SKB tersebut Bakrie Life berkomitmen akan melakukan pembayaran tahap pertama sebesar 25% dari pokok polis pada 2010 yang diangsur empat kali setiap triwulan. Masing-masing sebesar 6,25% dari pokok polis. Pembayaran tahap kedua sebesar 25% pada 2011, dan sisanya 50% di tahun 2012. Skema tersebut pun ternyata tidak ditepati oleh perusahaan yang berdiri sejak tahun 1996 itu. Pada Maret 2010 lalu Bakrie Life gagal membayar dana nasabah yang jatuh tempo dan baru membayarkannya pada akhir April. Begitu juga dengan pembayaran yang jatuh tempo pada bulan Juni, sampai tanggal 22 September belum juga dibayarkan.

Timoer Soetanto sendiri tidak mau berkomentar banyak terkait seretnya pengembalian dana nasabah. Ia hanya mengatakan bahwa perusahaannya pasti akan membayar, walau tidak jelas kapan waktunya. “Saya tidak mau berkomentar lagi, karena nanti akan menimbulkan keresahan di kalangan nasabah Bakrie Life. Saya pastikan Bakrie Life akan membayar semua tunggakan, meskipun jangka waktunya tersendat-sendat,”ujarnya.

Bakrie Capital Indonesia, sebagai pemegang saham, tampaknya ingin cuci tangan dari kasus ini. “Saya tidak mau berkomentar. Saya tidak tahu banyak tentang operasional Bakrie Life. Itu urusan manajemen Bakrie Life,” ujar Akhabani.

Untuk memperjuangkan hak mereka para nasabah pun membentuk Tim Penyelamatan Pengembalian Dana Nasabah (TP2DN). Menurut Wahyudi, Koordinator TP2DN, pertemuan demi pertemuan dengan pihak manajemen selama ini tidak menghasilkan apa-apa dan hanya upaya dari pihak Bakrie Life untuk mengulur waktu. “Pertemuan ini (tanggal 3 Oktober–Red) tak ada gunanya. Mereka cuma mengulur waktu,” ungkap Wahyudi, kesal.

Wahyudi telah menjadi nasabah Bakrie Life sejak dua tahun yang lalu. Ia tertarik dengan produk yang ditawarkan Bakrie Life lantaran nama besar keluarga Bakrie yang berada di belakang perusahaan itu. Suku bunga yang dijanjikan juga cukup menggiurkan. Itu sebabnya sebagaian besar dana pensiunnya ia cemplungkan di produk Diamond Investama.

Rasa kesal juga ditunjukan oleh Freddy, yang telah menjadi nasabah Bakrie Life selama dua tahun. Menurutnya, pihak Bakrie Life maupun Bakrie Capital Indonesia tidak menggubris sama sekali tuntutan yang diajukan para nasabah. “Kami mengajukan dua opsi. Pertama, kami ingin diberi jaminan. Kedua, kami diberi saham atau aset berupa tanah Bakrie yang ada di Bogor. Dua tuntutan kami itu sama sekali tidak ditanggapi,” ungkapnya. Freddy mengaku uang yang telah ia setorkan ke produk Diamond Investama lebih dari Rp1 miliar.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh para nasabah. Mulai dari meminta bantuan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Komisi XI DPR-RI, berdemo di kantor pusat Bakrie Life dan di kantor Bapepam-LK, selaku regulator yang mengawasi industri asuransi. Bahkan mereka juga sudah mengirimkan surat ke Presiden, melalui Sekretariat Negara, dan juga Menteri Keuangan agar pemerintah dapat sekiranya membantu penyelesaian permasalahan Bakrie.

Tapi, nyatanya masalah mereka tidak juga menemukan titik temu. Wahyudi mengaku kecewa dengan sikap Bapepam-LK yang tidak berani menekan Bakrie. Bapepam-LK malah meminta nasabah untuk bersabar menunggu uang turun dari Bakrie. Bila sudah tak sabar, Bapepam–LK menyarankan kepada nasabah untuk untuk menempuh jalur hukum. “Bapepam-LK tidak berani untuk menekan Bakrie. Bapepam-LK hanya bisa menampung aspirasi nasabah tanpa memberikan tindakan yang tegas,”ujarnya, sambil melihatkan mimik kecewa. Menempuh jalur hukum dan berencana mempailitkan Bakrie Life salah satu upaya yang kini sedang dipertimbangkan oleh para nasabah. Freddy mengungkapkan saat ini mereka tengah menyiapkan dana untuk mencari pengacara.

***

Pengamat hukum Ricardo Simanjuntak menyarankan agar kasus ini tidak berlarut-larut sebaiknya memang nasabah menempuh jalur hukum dengan menuntut Bakrie Life. Bahkan, nasabah bisa mempailitkan Bakrie Life. Dengan menempuh jalur hukum nasabah akan mendapatkan kepastian hukum. “Jika pailit akan ada kepastian hukum dan ada keharusan perusahaan untuk membayar dana nasabah,” ujar pengamat hukum asuransi itu.

Hanya, lanjut Ricardo, ada risiko yang harus diperhitungkan para nasabah, yakni bila aset yang dimiliki perusahaan tidak mencukupi untuk memenuhi kewajibannya. Di sini ada kemungkinan dana nasabah tidak terbayar semua. Ricardo menyarankan agar nasabah tidak hanya mempailitkan Bakrie Life, tapi diperluas menjadi tanggung jawab manajemen dan pemegang saham.

Hal ini mungkin terjadi apabila nasabah mengajukan gugatan hukum terkait kelalaian dan penyimpangan perjanjian investasi yang dilakukan pihak Bakrie Life. Tidak hanya pihak manajemen, imbuhnya, pemegang saham pun bisa ikut diseret untuk bertanggung jawab. “Dana tersebut bisa saja dibayarkan jika nasabah menuntut dan menemukan kesalahan manajemen atau pemegang saham. Hal ini sesuai dengan pasal 97 ayat 2 Undang-Undang Perseroan Terbatas. Bahkan jika ditemukan kelalaian, pegang saham bisa bertanggung jawab lebih dari jumlah saham yang dia punya,”jelasnya.

Lebih lanjut Ricardo menjelaskan kasus ini seharusnya tidak terjadi apabila sistem pengawasan dari Bapepam-LK berjalan dan adanya transparansi dari perusahaan asuransi. Itu sebabnya Ricardo berharap Bapepam-LK bisa bertindak tegas terhadap Bakrie Life, termasuk memberikan sanksi tertinggi dengan mencabut izin usahanya.

Sependapat dengan Ricardo, pengamat pasar modal Yanuar Rizky meminta Bapepam-LK bertindak tegas dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut. “Bapepam-LK seharusnya bisa memberikan perlindungan terhadap nasabah,” cetusnya.

Terkait dengan penanganan kasus Bakrie Life, Isa Rachmatarwarta, Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, mengatakan pihaknya sudah melakukan tugasnya dengan melarang dan menghentikan penjualan produk-produk Bakrie Life. Bapepam-LK bisa saja bertindak tegas dengan mencabut izin usaha Bakrie Life, tapi itu tidak dilakukan karena mempertimbangkan nasib nasabah. Begitu Bapepam-LK mencabut izin usaha, maka tidak lagi ada urusan dengan Bakrie Life. “Kalau kami cabut izinnya, selesai. Tugas sudah kami laksanakan. Tapi, ini justru tidak baik bagi para nasabah. Sebab, nanti mereka akan sendirian berhadapan dengan Bakrie Life,” dalihnya.

Namun, Isa mengaku pihaknya memang tidak bisa memaksa pemegang saham Bakrie Life untuk menyuntikan dana guna mengganti uang nasabah. “Kami bisa meminta, tapi tidak bisa memaksa. Sebab, ini masalah perseroan terbatas. Kecuali, memang bisa dibuktikan bahwa ada unsur keikutsertaan pemegang saham dalam ambruknya perusahaan,” jelas isa.

Pemerintah juga kata Isa tidak bisa mengambil alih dan mengganti uang nasabah karena tidak ada skema penjaminan seperti yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan.

Alhasil, kian tidak jelaslah nasib pengembalian dana nasabah Bakrie Life. Entah, ke mana lagi mereka harus mengadu.

Reportase oleh Deviana Chuo, L. Meta Noven latdan Patrick S. Hutapea.

Tulisan ini dimuat di majalah Fortune Indonesia, Edisi 5, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s