Uncategorized

Hari Gajian Hari Termiskin Sekantor

Tanggal 24 adalah tanggal yang dinanti-nanti oleh setiap karyawan di kantor tempat aku bekerja, termasuk juga oleh aku. Jika sudah memasuki tanggal 10, aku biasanya sudah menghitung jumlah uang yang tersisa yang di ATM dan dibagi dengan jumlah hari yang tersisa sampai tanggal 24. Nah ketika hari itu tiba, wajahku sumringahnya bukan main, apalagi ketika melihat jumlah nol dalam mesin ATM telah bertambah.

Setiap tanggal ini dalam benakku sudah muncul berbagai rencana untuk membeli ini dan itu. Tentu saja aku sudah ada rencana besar untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Membeli keperluan bulanan sampai rencana mengentertaiment diri sendiri. Entah dengan membeli perlengkapan pribadi, ke salon untuk creambath atau ngopi-ngopi bersama teman.

Begitu juga dengan hari ini. Segudang rencana telah ada dalam benakku. Termasuk rencana makan siang hari ini. Sudah terbayang dalam benak ku makan SOP IGA BAKAR dengan kuah yang hangat dan sambal yang pedas. Mantap! Untuk mewujudkan mimpi itu tentu aku harus segera mengisi dompetku yang sudah menipis dan hanya berisi Rp2000.

Setibanya di kantor, ku ambil dompet dan bergegas ke ATM yang terletak di lantai dasar. Mendadak senyumku hilang. Bukan karena jumlah nolnya tidak bertambah. Tapi karena kalimat “MAAF TRANSAKSI ANDA TIDAK DAPAT KAMI PROSES” muncul di mesin ATM. Uang dalam mesin tersebut sudah habis terkuras oleh orang-orang yang juga gajian pada hari tersebut (membuktikn bukan cuman aku yang menantikan tanggal ini).

Yang membuatku panik adalah apa yang bisa aku lakukan dengan Rp2000 dalam dompet ku. Buyarlah rencana terdekatku untuk makan sop iga bakar Ibu Solo. Okelah pikirku. Masih ada teman-temanku. Aku akan coba pinjam kepada salah satu dari mereka. bergegaslah aku menuju kantin yang jaraknya hanya beberapa langkah dari mesin ATM. Ku lihat ada tiga orang teman yang ku kenal. Ku hampiri mereka yang sedang makan. Celakanya mereka ternyata bernasib sama dengan aku. Tapi beruntungnya dompet mereka tak setipis dompet ku.

Angga masih memiliki beberapa puluh ribu, begitu juga Noven dan Patrick. Makan siangku dan Patrick hari itu ditanggung oleh Angga. Sesudah makan siang kami semua bergegas kembali ke ruangan. Tak lama telpon seluler ku berdering. Salah seoarang temanku Deviana menelpon. “Ada duit ngak?, dompet gw ketinggalan,”ujarnya di ujung telpon.”Wah lagi miskin nih,cuaman punya Rp2000,”ujarku. “Tanyain dong sama temen-temen siapa yang punya uang,”timpalnya lagi.

Akhirnya ponsel ku pun bergilir ke kuping teman-teman yang tengah ada didalam ruangan kantor hari ini. Angga berujar “Dah habis untuk makan siang tadi.” Mei sang sekretaris berkata “aku juga juga minjem Mas Glen.”

Jumlah karyawan dalam departemenku memang tidak banyak. Tidak sampai 15 orang dan yang ada dikantor saat itu hanya lima orang dan kebetulan sedang kere semua. Syukurlah ketika Noven merogoh-rogeh kantongnya ia menemukan duit yang cukup untuk membayar ongkos taxi Fei-fei-nama pangilan untuk Deviana.

Setibanya Fei-fei di kantor ia pun berkata:”Gw belum makan dari tadi, ada yang bisa pinjemin duit ngak???,”…..Benar-benar hari gajian kali ini menjadi hari termiskin kami sekantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s