Ekspansi &Peluang Bisnis

Investasi Timur Tengah: Mereka Menyerbu Bisnis Telekomunikasi

Tulisan ini aku tulis pada Pertengahan 2009 lalu.

Tiga investor Timur Tengah membeli saham tiga operator selular: XL, Indosat, dan Axis. Mereka siap bertarung habis-habisan untuk menggoyang dominasi Telkomsel. Mampukah?

Teropong para investor dari Jazirah Arab kini bergeser ke Asia, dengan Indonesia menjadi salah satu fokusnya. Boom harga minyak bumi sepanjang 2008 membuat likuiditas negara-negara di kawasan Timur Tengah itu melimpah ruah. Sementara itu, nasib investasi mereka selama ini di Eropa dan AS justru terpangkas habis—apalagi setelah AS diguncang krisis ekonomi akibat skandal subprime mortgage. Maka, mau ke mana lagi pilihannya kalau bukan Asia?

Dana Moneter Internasional alias IMF pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia sepanjang tahun ini masih berkisar di angka 4,9%. Ini bukan angka yang terlalu tinggi, tetapi cobalah bandingkan dengan AS atau sejumlah negara di Eropa yang tahun ini diperkirakan tidak akan mencatat pertumbuhan ekonomi positif.

Oke, kalau memang Asia lebih menjanjikan. Namun, bisnis apa yang menguntungkan? Sektor telekomunikasi, itulah yang dibidik oleh para investor dari negara petrodolar. Saat ini setidaknya ada empat investor asal Timur Tengah yang menanamkan dananya di sektor telekomunikasi Indonesia. Mereka adalah Etisalat, Saudi Telecom Company, Qatar Telecom (Qtel), dan Jerash Investment Ltd.

Menurut Mohammed Omran, chairman Etisalat, pertumbuhan pasar telekomunikasi selular Indonesia merupakan salah satu yang tercepat dan terbesar di dunia. Itu sebabnya Etisalat mau merogoh koceknya untuk membeli 15,97% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) milik kelompok Rajawali pada Desember 2007 silam. Nilainya US$438 juta. “Investasi ini merepresentasikan strategi ekspansi Etisalat ke Asia,” katanya seperti dikutip dari

http://www.midle-east-online.com, Rabu, 12 Desember 2007. Dengan membeli saham XL, raksasa telekomunikasi dari Uni Emirat Arab (UEA) itu kini resmi beroperasi di 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Pada 2008 lalu Etisalat berhasil meraih pendapatan bersih Dhs26,119 miliar atau setara dengan Rp83,5 triliun dan laba bersih Dhs8,665 miliar (Rp27,5 triliun dengan kurs Rp3.200 per Dhs, mata uang UEA).

Saudi Telecom Company (STC) masuk ke Indonesia pada 2007 dengan membeli saham PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) dari Maxis Communication Berhad. Perusahaan telekomunikasi asal Malaysia itu sebelumnya sempat menguasai 95% saham Natrindo. STC lalu mengambil alih 51% saham Maxis di Natrindo. Sebelumnya, STC juga membeli 25% saham Maxis.

Kini, komposisi pemegang saham di NTS adalah STC (51%), Maxis Communications (44%), dan sisanya (5%) dimiliki perusahaan lokal. Patut dicatat, hanya di Indonesia sajalah STC berani mengambil porsi mayoritas dalam sebuah bisnis, khususnya di luar Arab Saudi. Di Kuwait, STC hanya memiliki 26% saham Kuwaiti Telecom Co. Ltd. Begitu juga di UEA, STC hanya memiliki 35% saham Oger Telecom—perusahaan telekomunikasi di sana. Kemudian di Malaysia, STC hanya memiliki 25% saham Binariang GSM Sdn. Bhd.

Di Indonesia, STC—melalui NTS—meluncurkan layanan selular GSM dan 3G dengan merek Axis, yang mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera. Saat ini Axis tengah gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah di Indonesia. Menurut laporan keuangan STC per Desember 2008 (unaudited), perusahaan yang sahamnya 100% dimiliki oleh Kerajaan Saudi Arabia itu berhasil meraup pendapatan bersih 11,04 miliar riyal atau setara dengan Rp35,3 triliun (kurs Rp3.200 per riyal). Jumlah pelanggan STC pada 2007 mencapai 28,4 juta, pada 2008 sekitar 33 juta, dan pada 2009 ditargetkan mencapai 38,8 juta.

Adapun Qatar Telecom (Qtel) masuk ke Indonesia melalui PT Indosat Tbk. Pada 6 Juni 2008, Qtel membeli seluruh saham Singapore Technologies Telemedia (STT) Pte. Ltd. di Indosat dengan harga premium. Saat itu harga saham Indosat di pasar Rp5.650 per lembar, tetapi Qtel membelinya senilai Rp7.388. STT sendiri memiliki 40,82% saham di Indosat. Untuk membeli saham itu, Qtel merogoh kocek sebesar US$1,8 miliar atau setara dengan Rp16,74 triliun.

Baru-baru ini Qtel berhasil meningkatkan kepemilikannya di Indosat menjadi 65%. Peningkatan itu diperoleh melalui dua penawaran tender secara serentak di Indonesia dan AS yang berakhir pada 18 Februari lalu. Dari penawaran ini, Qtel berhasil mengumpulkan 1,314 miliar saham Indosat. Dalam siaran persnya Kamis (26/2) lalu, Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al-Thani, chairman Qtel Group, mengatakan pembelian saham Indosat ini untuk mendorong visi perusahaan yang ingin menjadi 20 besar perusahaan telekomunikasi dunia.

Sebagai operator selular terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6% pangsa pasar selular GSM di negeri ini. Dengan 36,5 juta pelanggannya, bukan tidak mungkin Indosat akan menjadi salah satu andalan Qtel di masa mendatang. “Kami selalu mengatakan bahwa visi kami adalah menjadi salah satu dari 20 operator telekomunikasi terbesar dunia pada 2020, dan salah satu kunci utama strategi kami adalah terus memperluas operasi kami di pasar-pasar Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara yang tumbuh cepat,” ujarnya.

Paling anyar adalah aksi investor Timur Tengah membeli PT Mobile-8 Telecom Tbk. (Fren). Kini, sekitar 32,06% saham Mobile-8 dimiliki Jerash Investment Ltd., perusahaan asal Dubai, UEA. PT Global Mediacom Tbk. telah menjual Fren kepada Jerash pada September 2008 lalu senilai Rp659,49 miliar. Global Mediacom tinggal menyisakan 18,94% saham Fren. Selebihnya, sebanyak 49% saham Fren, dimiliki pemegang saham publik.

Siapa Jerash Investment Ltd.? “Konon katanya perusahaan besar,” ujar Merza Fachys, director & chief corporate affairs PT Mobile-8 Telecom Tbk,. Namun, sulit sekali melacak track record Jerash Investment di Dubai. Pihak Dubai International Financial Center Authority (DIFC) mengaku tidak tahu-menahu tentang Jerash Investment. “Saya tidak tahu apa pun tentang mereka,” ujar David Eldon, chairman DIFC, dalam surat elektroniknya kepada Warta Ekonomi.

Makin Banyak yang Berdatangan

Di masa mendatang masih akan banyak investor Timur Tengah yang masuk ke industri telekomunikasi di Indonesia. Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan ada beberapa pemain dunia di industri telekomunikasi yang berminat masuk ke Indonesia. “Saya dengar ada yang melalui akuisisi, tetapi masih belum diakui oleh operator dalam negeri. Dari Timur Tengah juga banyak dan sedang negosiasi dengan beberapa operator yang sedang memiliki masalah keuangan,” ujarnya. Sayang, Heru menolak menyebutkan siapa saja investor asal Timur Tengah itu.

Salah satu investor yang sudah menyatakan minatnya adalah Capital Investment Group (CIG) International. Husam Salman Al Ameri, direktur CIG, saat berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2008 mengatakan pihaknya berminat membeli tiga besar perusahaan telekomunikasi di Indonesia. “Kami cari perusahaan yang membukukan keuntungan paling besar,” katanya, seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di istananya, Kamis, 23 Oktober 2008 silam.

Hasnul Suhaimi, presdir XL, menilai fenomena banyaknya investor Timur Tengah menyerbu pasar telekomunikasi Indonesia tak lebih karena melihat keuntungan yang menjanjikan. “Mereka lihat bisnis telekomunikasi di Indonesia masih terus tumbuh dan sangat prospektif, sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di sektor ini,” ujar Hasnul.

Basuki Yusuf Iskandar, dirjen Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika, menyambut positif hadirnya para investor asal Timur Tengah. Pria peraih gelar Doctor of Philosophy (Management of Technology) dari Vanderbilt University, AS, itu berharap investor Timur Tengah ini tidak hanya meramaikan bisnis telekomunikasi saja, tetapi juga industri pendukungnya, seperti konten, perangkat, dan peralatannya. “Mudah-mudahan bisa menjadi satu stimulus pertumbuhan manufaktur di industri telekomunikasi dan juga pengembangan software development serta local content,” harapnya.

Sejak dimiliki STC, Heru melihat Axis berubah secara signifikan. Mereka kini agresif membangun infrastruktur dan gencar melakukan pemasaran. “Ketika STC datang, mereka cepat sekali membangun network di mana-mana, bahkan sampai memiliki gedung baru,” ungkapnya.

Sebelum STC masuk, Axis hanya beroperasi di Jawa. Kini, layanan Axis dapat dinikmati di lebih dari 90 kota di Indonesia. Wilayah operasi Axis menjangkau Jawa Timur, Jawa Barat, Jabodetabek, Banten, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Jaringan mereka ditopang oleh 3.700 BTS dan diaktivasi oleh lebih dari 3 juta pelanggan. Sejak September 2007 sampai Desember 2008, dana yang mereka gelontorkan untuk memperluas jaringan mencapai US$1 miliar.

Erik Aas, presdir NTS, menyebutkan pihaknya berkomitmen untuk menambah BTS hingga 8.000 unit pada 2010. “Coverage layanan merupakan persoalan yang sensitif di layanan selular. Itu sebabnya kami akan memperbanyak BTS untuk memperluas coverage,” katanya. Selama 2009 Erik menargetkan pertumbuhan pelanggan 100%, atau menjadi 6 juta. Dia juga menegaskan bahwa NTS berambisi menjadi pemimpin pasar. Akankah mimpi NTS tercapai?

Menurut Heru, untuk menggeser Telkomsel sebagai penguasa pasar bukan sesuatu yang mustahil, meskipun tidak mudah. Butuh waktu, teknologi yang andal, dan modal yang kuat. “Memang butuh waktu juga bagi investor asal Timur Tengah ini. Mereka tidak bisa begitu masuk lalu langsung menjadi besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Dian Siswarini, sekjen Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), berpendapat masuknya pemodal dari Timur Tengah ini tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi Indonesia. Menurut Dian, peta bisnis telekomunikasi akan tergantung pada bagaimana operator menentukan strategi dan mengambil langkah agar bisa memenangkan pasar yang sangat kompetitif. “Siapa pun investornya, pemenang kompetisi adalah operator yang cerdik membaca situasi dan bisa beradaptasi dalam situasi ekonomi yang menantang,” cetusnya.

Suryatin Setiawan, mantan direktur PT Telkom, juga tidak terlalu yakin pemodal dari Timur Tengah akan bisa memengaruhi peta pasar bisnis telekomunikasi Indonesia. Pasalnya, secara fundamental, posisi Telkomsel terbilang kuat. Anak usaha PT Telkom Tbk. itu didirikan pada 1998, di saat Indonesia sedang mengalami krisis. Kala itu tidak ada operator telekomunikasi yang mau berinvestasi, kecuali Telkomsel. Ini membuat Telkomsel lebih unggul dari segi coverage, infrastruktur, teknologi, dan pelanggan. “Ini sudah 10 tahun lebih sejak krisis. Jadi, saya rasa sulit untuk memperkecil gap. Ke depan, Telkomsel akan tetap mendominasi pasar,” ujar Suryatin.

Pandangan serupa dilontarkan Rudiantara, mantan ketua ATSI dan direktur XL. Menurut dia, akan sulit menggeser posisi Telkomsel, karena mereka memiliki tiga key success factor sekaligus, yakni akses dana, akses teknologi dan regulasi, serta local knowledge. “Tiga hal itu belum tentu dimiliki operator lainnya,” kata Rudiantara.

Hasnul juga mengakui memang sulit menggoyang dominasi Telkomsel. Aliran modal dari Timur Tengah, menurut dia, tak akan membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap peta industri telekomunikasi di Indonesia. “Masuknya pemodal dari Timur Tengah tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi di Indonesia,” papar pria berdarah Minang ini.

Meski posisi Telkomsel tak tergoyahkan, kehadiran para investor Timur Tengah ini tidak bisa dianggap enteng. Apalagi dana mereka melimpah ruah. Sarwoto Atmosutarno, dirut PT Telkomsel, mengatakan persaingan di industri Telekomunikasi sangat ketat dan ia serius meningkatkan kualitas layanan. “Kami menyiapkan belanja modal US$1,3‒1,5 miliar. Ini sinyal kepada pasar bahwa kami serius meningkatkan pertumbuhan melalui quality of service dan sekaligus quantity yang akan kami peroleh,” tegas Sarwoto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s