Ekspansi &Peluang Bisnis

Pernikahan Keluarga Konglomerat: Kolaborasi Bisnis karena Pernikahan.

Tulisan ini aku buat pada pertengahan tahun 2009.

Beberapa anggota keluarga inti konglomerat menjalin ikatan pernikahan dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya. Fenomena ini diperkirakan membuka peluang terjadinya kolaborasi bisnis yang dahsyat antarkonglomerat.

Ungkapan “uang senang berkumpul bersama teman-temannya” rupanya ada benarnya. Setidaknya, ini terlihat dari fenomena beberapa pernikahan yang terjadi antar-anggota keluarga inti konglomerat. Tahun lalu, tepatnya 15 Januari 2008, ballroom Hotel Mulia, Jakarta, digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan anak si pemilik hotel, Eka Tjandranegara. Asal tahu saja, Eka adalah bos Grup Mulia, sebuah konglomerasi di bidang properti, keramik, dan gelas. Eka menggelar resepsi pernikahan anaknya, Ekman Tjandranegara, dengan Lareina Halim Kusuma. Sang mempelai wanita juga bukan perempuan sembarangan. Lareina adalah putri dari Sugianto Kusuma, salah satu tokoh pengusaha di belakang kesuksesan Grup Artha Graha. Kelompok usaha yang dirintis Sugianto bersama taipan Tomy Winata ini bergerak di bidang perbankan, properti, asuransi, dan agrobisnis.

Jadi, boleh dibilang, pernikahan Ekman Tjandranegara dan Lareina Halim Kusuma tergolong istimewa karena merupakan pernikahan antar-anggota keluarga inti konglomerat. Dan, sudah pasti resepsi tersebut didatangi banyak orang penting. Siapa saja tamu-tamunya? Tentu saja pengusaha-pengusaha kakap serta kalangan tokoh politik dan pejabat. Dari kalangan tokoh politik dan pejabat, datang Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Ketua DPR Agung Laksono yang juga politikus Partai Golkar, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung, dan Albert Yaputra, anggota DPR dari Partai Demokrat yang merupakan bekas bendahara tim sukses SBY-JK. Dari kalangan pejabat militer dan kepolisian, hadir Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dan Wakapolri Komjen Pol. Makbul Padmanegara. Petinggi DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Wagub DKI Jakarta Prijanto pun tak ketinggalan memberi selamat kepada kedua mempelai. Sementara itu, pengusaha-pengusaha papan atas yang hadir, di antaranya, adalah Sukanta Tanudjaja, Tong Djoe, Kiki Barki, Soetjipto Nagaria, Prajogo Pangestu, Trihatma Haliman, Hendro Setiawan, Didi Dawis, dan tentunya Tomy Winata.

Masih pada tahun yang sama, perkawinan antar-anggota keluarga inti konglomerat lainnya juga terjadi. Prajna Murdaya, anak dari pasangan konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo dan Siti Hartati Tjakra Murdaya (bos Grup Central Cipta Murdaya), menikah dengan Irene Tedja, anak dari pasangan konglomerat Alexander Tedja dan Melinda Tedja (pemilik Grup Pakuwon). Seperti diketahui, pasangan Murdaya Poo dan Siti Hartati Murdaya bukan hanya pengusaha besar, tetapi juga aktif di dunia politik dan sosial kemasyarakatan. Murdaya adalah salah satu ketua DPP PDIP yang juga duduk sebagai anggota DPR, sedangkan istrinya, Siti Hartati, adalah ketua umum DPP Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan ketua umum Yayasan Kepedulian Sosial Paramita. Berbeda dengan suaminya, Siti Hartati belakangan diketahui lebih dekat dengan Partai Demokrat.

Jadi, tidak mengherankan jika banyak tokoh politik, pejabat, dan pengusaha besar yang menghadiri resepsi pernikahan Prajna dan Irene, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga mantan presiden. Beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga datang, seperti Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menkominfo Mohammad Nuh, dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.
Tidak sedikit orang menilai resepsi pernikahan Prajna dan Irene, yang dihelat pada 27 Juli 2008 di arena Jakarta International Expo Pekan Raya Jakarta, merupakan pernikahan yang spektakuler. Tempat resepsi malam itu menggunakan dua gedung dengan kapasitas masing-masing mampu menampung hingga 5.000 orang. Ada enam ratus meja yang disediakan untuk menjamu 6.000 tamu undangan dengan konsep gala dinner. Masing-masing meja memuat 10 kursi. Para tamu tidak perlu bingung memilih meja. Begitu masuk lobi gedung, tersedia resepsionis dengan puluhan komputer untuk meregistrasi para undangan. Mereka langsung mendapatkan nomor meja dan diantar oleh petugas penerima tamu.

Gedung tempat resepsinya didekorasi bergaya Eropa dengan warna kuning gading dipadu ukiran Jepara warna emas. Namun, yang membuat takjub tamu undangan adalah dekorasi pelaminannya. Di belakang kursi pelaminan, terdapat replika mini Candi Borobudur tiga dimensi. Miniatur yang memiliki panjang sekitar 30 meter dan tinggi yang hampir menyentuh atap gedung tempat resepsi itu benar-benar mirip aslinya, baik dari sisi bentuk maupun konfigurasi warnanya. Biaya pembuatannya lebih dari Rp1 miliar. Lalu, untuk menjamu tamu undangan, didatangkan 100 koki dari berbagai hotel dan restoran di Jakarta dan bahkan ada pula koki yang khusus dihadirkan dari Thailand.

Jauh sebelum itu, empat tahun silam, tepatnya 18 Juni 2005, James T. Riady, generasi kedua Grup Lippo, menggelar resepsi pernikahan putri sulungnya, Caroline Riady, dengan Soeharto Djojonegoro. Siapa besan James Riady? Dia adalah Hamid Djojonegoro, pemilik Grup ABC dan Orang Tua. Soeharto merupakan putra sulung Hamid. Kala itu, kedua mempelai mengundang ribuan tamu untuk menghadiri pesta resepsi di Jakarta Convention Center. Untuk menghindari terik matahari, tenda putih dipasang antara area parkir hingga gedung. James dan Hamid diketahui merupakan kawan akrab yang menjadi anggota jemaat gereja yang sama.

Beberapa nama anggota keluarga inti konglomerat yang menikah dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya adalah Grace L. Katuari (Grup Wings) dengan Martin B. Hartono (Grup Djarum) dan Lanny Angkosubroto (Grup Sewu) dengan Trijono Gondokusumo (Grup Dharmala).

Kolaborasi Bisnis

D. Ganjar Sidik, managing director PT Data Consult, menilai perkawinan antar-anak konglomerat ini tidak terlepas dari budaya serta lingkungan di antara mereka. Namun, Ganjar juga tidak menampik munculnya kemungkinan bahwa pernikahan antar-anak konglomerat sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa jadi para konglomerat itu sengaja saling menjodohkan putra-putri mereka hingga kemudian mereka menikah dan membina rumah tangga. Tujuannya, selain memperlebar jaringan relasi bisnis, juga diharapkan bisa menjalin kemitraan strategis di dunia bisnis antara dua kelompok usaha yang berbeda.

Sinyalemen itu diperkirakan terjadi pada pernikahan Grace L. Katuari dan Martin B. Hartono. Grace adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Wings, sementara Martin B. Hartono adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Djarum yang kini menjabat sebagai direktur HRD PT Djarum. Entah disengaja atau tidak, selain terjadi hubungan keluarga karena pernikahan itu, Grup Wings juga melakukan kolaborasi dengan Grup Djarum di sejumlah proyek prestisius. Tahun 2000, Grup Wings bergabung dalam konsorsium bersama Grup Lautan Luas dan Grup Djarum untuk membeli PT Ecogreen Oleochemicals, salah satu perusahaan produsen oleochemical (termasuk natural fatty alcohol) terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi mencapai 180.000 metrik ton/tahun dan total penjualan US$214 juta (2007). Oleochemical merupakan bahan baku industri perawatan tubuh, sabun, detergen, makanan, plastik, farmasi, dan lain-lain. Dahulu Ecogreen merupakan salah satu aset blue chip milik Grup Salim (Salim Oleochemicals), tetapi kemudian terpaksa dilepas ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebagai bagian dari penyelesaian masalah penggunaan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Selain itu, kolaborasi Grup Wings dan Grup Djarum juga terjadi di bidang properti. Atas nama PT Nagaraja Lestari, keduanya membangun properti ritel komersial Pulogadung Trade Center. Dalam menggarap proyek properti prestisius Grand Indonesia (dahulu Hotel Indonesia), Grup Djarum dikabarkan juga menjalin kerja sama dengan Grup Wings.

Namun, Ganjar menilai tidak selamanya pernikahan antar-anggota keluarga inti dua konglomerat ini bisa menghasilkan suatu proyek baru atau bisnis baru. Sebab, umumnya generasi ketiga dari masing-masing konglomerat memiliki gaya bisnis yang berbeda dari pendahulu-pendahulunya. Generasi pertama umumnya berasal dari pedagang. Generasi kedua berusaha untuk memperluas sayap bisnis perusahaan dengan memasuki berbagai sektor industri dan membangun pabrik serta melahirkan proyek baru. Adapun generasi ketiga umumnya tidak lagi membangun, tetapi mengakuisisi atau membeli saham perusahaan yang telah ada. “Jadi, gaya investasi generasi ketiga berbeda. Makanya saat ini agak sulit untuk memetakan proyek-proyek apa saja yang bisa dihasilkan dari pernikahan antar-anak konglomerat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Erwin Aksa, putra mahkota dari kerajaan bisnis Grup Bosowa, mengakui sejumlah pengusaha besar memiliki hubungan pertemanan yang cukup akrab. Mereka juga terkadang memiliki kesamaan visi bisnis. Alhasil, hubungan pertemanan yang akrab dan kesamaan visi bisnis itu kemudian dapat berlanjut kepada hubungan ikatan persaudaraan atau kekeluargaan karena keturunan mereka masing-masing kemudian menjalin ikatan pernikahan. Cuma, Erwin melihat hubungan keluarga yang terjadi antara dua pengusaha besar karena pernikahan antar-anggota keluarga inti tidaklah selalu menghasilkan sebuah kolaborasi bisnis yang dahsyat. Justru ia menilai yang terpenting adalah tanggung jawab generasi penerus untuk melanjutkan cita-cita pendiri kelompok usaha, yaitu mau kerja keras, berkeringat, dan turun langsung ke lapangan. “Dalam keluarga kami sendiri, tidak ada paksaan untuk menikah dengan siapa pun,” ujar pria yang kini menjabat sebagai CEO Grup Bosowa itu.

10 thoughts on “Pernikahan Keluarga Konglomerat: Kolaborasi Bisnis karena Pernikahan.

  1. Pernikahan megah hanya kulit luar saja….yang terpenting adalah bagian dalam dari pernikahan itu yakni, kebahagiaan rumah tangga yang hakiki….terbebaskah orang yang menikah dengan pesta megah dari perselingkuhan dan perceraian?? mending uangnya disumbang bagi jutaan siswa di Indonesia yang tidak mampu….

    1. komen gak mutu..sok populis..
      emang kalo orang kaya gak bahagia..emang orang kaya gak pernah nyumbang ato donasi kegiatan sosial..
      siapapun yg menikah, yg dengar kabar kudu ngasih doa yg baik..gak boleh iri!!!

  2. Bener juga sih, mending uangnya disumbangin…
    tpi klo di dunia kapitalis, sulit utk seperti itu, karena tampilan Glamoure lebih di tonjolkan…

    hmmmm ada baiknya tidak memberitahukan info pernikahan secara berlebihan, padahal itu hal yg sangat sepele, beberapa org diatas udah saling fitnah tuh…
    wkwkwkwkwk

  3. Judulnya berkaitan dengan “Ekspansi &Peluang Bisnis”
    jadi sebaiknya memberi koment tentang perekonomian Indonesia
    Orang2 tsb sedikitnya telah menjadi penguasa perekonomian Indonesia yang bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi negara ini baik itu kebijakan positif maupun negatif…..namanya manusia itu ada sisi negatisnya ada juga sisi positifnya…tinggal dominan sisi yang mana…kadang lingkungan, waktu, pilihan juga mempengaruhi sisi mana yang lebih dominan.

  4. Kalau berkaitan dengan acara pernikahan yang baik, mungkin komentnya adalah : menikah adalah suatu acara ikatan antara pria dan wanita yang sebaiknya diumumkan ke semua orang yang dikenal yang berfungsi untuk mengenalkan pasangan tersebut sudah sah hingga tidak timbul fitnah….apabila memiliki kelebihan rejeki bolehlah menyediakan makanan untuk memuliakan tamu kita…dan untuk muslim tujuan pernikahan adalah ibadah berdasarkan hukum2 agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s