Interview

Kalau Mengandalakan Koneksi, Namanya Bukan Pengusaha

Interview
Tandean Rustandy pendiri dan direktur utama PT Arwana Citramulia Tbk

            Rabu (5/8) lalu Warta Ekonomi berkunjung ke pabrik PT Arwana Citramulia Tbk yang terletak  di Jalan Raya Gorda Desa Kibin Km 69, Cikande, Serang Banten. Waktu menunjukan pukul 13:00 Wib saat kami tiba di sana.  Sejenak kami tertegun saat melihat sebuah rak sepatu dengan empat buah sepatu hitam tertata rapi diatasnya yang diletakan di sebelah kiri pintu kantor pabrik Arwana. Ternyata setiap karyawan yang masuk ke lingkungan kantor harus melepas alas kaki. Tak hanya di lingkungan kantor, di kantin pun disediakan rak sepatu dan para karyawan  harus melepaskan sepatunya.   Karyawan  menggunakan sepatu ketika berada diluar kantor dan dilingkungan pabrik.
            Pabrik  yang berdiri dilahan 9,60 hektar ini dilengkapi dengan 11 buah kolam dan taman yang ditanami berbagai jenis pohon.  Beberapa pohon diantaranya tertulis nama-nama pejabat yang pernah mengunjungi pabrik tersebut. Para pejabat itu diantaranya Menteri  Perdagangan Marie Elka Pangestu, Menteri Perumahan Rakyat Jusuf Ansy’ari, Menteri Perindustrian Fahmi Idris  dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Mereka tidak hanya mengunjungi pabrik tapi juga melakukan gerakan penghijauan dilingkungan pabrik dengan menanam pohon.  Menurut Tandean Rustandy pendiri  dan direktur utama PT Arwana Citramulia Tbk, perusahaannya memang berkomitmen untuk mencintai lingkungan.  Karena itu sebagian lahan dijadikan kawasan hijau.  Luas areal yang digunakan untuk program lingkungan mencapai 52% dari total luas area pabrik.
            Sambil mengajak berkeliling melihat lingkungan pabriknya, orang nomor satu di Arwana  itu menuturkan kecintaannya terhadap lingkungan kepada Evi Ratnasari dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi. Perbincangan pun berlanjut di sebuah taman yang menghadap kolam yang letaknya tepat disebelah pabrik sambil menikmati kelapa muda yang dipetik dari lingkungan pabrik. Sore itu, Tandean didampingi oleh Felix Hibono vice president corporate affair dan Lim Tjhiu Long manager konsolidasi plant I & II. Berikut petikannya :

 

 
Berapa besar produksi pabrik Arwana?
            Kita memiliki tiga pabrik. Pabrik pertama atau Plant  I  berlokasi di Pasar Kemis, Tangerang Banten. Pabrik ini didirikan tahun 1993 dan mulai beroperasi komersial pada tahun 1995 dan kini memproduksi 10 ribu meter persegi keramik perhari.  Pabrik kedua atau Plant II di Cikande, Serang Banten mulai beroperasi komersial pada 1997, kini memproduksi  50 ribu meter persegi keramik perhari sedangkan pabrik ketiga atau Plant III di Gresik Jawa Timur mulai beroperasi komersial pada tahun 2002, serta diekspansi pada tahun 2005 dan 2009. Rencananya ekspansi belakangan ini  akan rampung akhir tahun ini dan setelah beroperasi, keseluruhan Plant III akan memproduksi sekitar 55 ribu meter persegi keramik per hari. Kita membuka pabrik di Surabaya untuk memasok pasar di Indonesia bagian timur. Dengan membangun pabrik di sana kita bisa menghemat biaya angkut. Biaya transportasi dari Jakarta ke Surabaya untuk per dusnya sebesar Rp 2.500.  Dengan membangun pabrik disana maka biaya tranportasi menjadi lebih kecil. Jadi nantinya setiap hari kita akan memproduksi  115 ribu meter persegi keramik lantai dan dinding.
 
Anda membangun pabrik ke dua pada 1997. Bukankah tahun itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dan umumnya perusahaan mengerem aktivitasnya bahkan tidak sedikit pula yang tutup. Tapi Anda justru membangun pabrik?
            Iya, pada tahun itu kita sedang membangun bukan berarti kita tidak terkena imbasnya. Kita juga hampir mati, namun karena ada ikatan emotional dengan karyawan kita usahakan untuk tetap berjalan. Menurut saya begitu kita membangun suatu usaha kemudian rugi bukan berarti harus distop. Waktu itu kita rugi tapi kita tetap harus jalan. Hidup itukan ada enaknya dan ada susahnya. Kita bersama-sama mati-matian mempertahankan perusahaan ini. Justru gara-gara krisis 1997 dan 1998 Arwana punya nama.
 
Strategi dan langkah apa saja yang dilakukan agar tetap bisa bertahan pada saat itu?
            Memang susah sekali. Pada saat itu setiap bagian harus bekerja dengan cepat dan tepat. Kita juga melakukan efisiensi mulai dari hal-hal yang kecil seperti menggunakan kertas bolak balik, menggunakan lampu seperlunya. Untungnya kita bangun pabrik dengan design terbuka sehingga pada siang hari kita tidak perlu menggunakan lampu.
            Saat kita membangun pabrik ini posisi utang kita tidak seberapa dan tidak ada hutang dalam bentuk dolar, semuanya dalam bentuk rupiah.Untungnya pada saat itu kita tidak serakah dan tertarik dengan dolar. Waktu itu bunga rupiah 17% dan bunga dolar 9%.
 
Berapa besar investasi untuk membangun ketiga pabrik itu?
            Modal awal ketika membuat pabrik pertama di Tangerang sebesar Rp 25 miliar atau US$12 juta. Sedangkan  untuk pabrik kedua kurang lebih Rp 80 miliar dan ketiga sekitar Rp 80 miliar.
 
Sektor rill merupakan salah satu sektor yang terkena dampak krisis saat ini, terbukti  properti mulai mandeg.  Secara tidak langsung tentu mempengaruhi bisnis Anda, karena industri keramik akan tumbuh sejalan dengan tumbuhnya sektor properti. Seberapa besar pengaruh krisis saat ini terhadap bisnis Anda?
            Pasti, tapi properti yang terpengaruh oleh krisis adalah properti yang berada di kota besar. Namun kalau kita lihat stimulus perekonomian kita terbesar disumbangkan oleh konsumsi. Konsumsi di daerah masih besar dan masih bertumbuh. Sementara pasar kita ke daerah-daerah, sehingga perusahaan kita masih oke.  Namun kita akui biaya produksi naik karena naiknya kurs dolar. Kita beli gas dengan dolar maka biaya gas naik  sehingga biaya produksi ikut naik namun kita tetap tidak menaikan harga jual produk. Walaupun pangsa pasar untuk segmen menengah kita yang pegang. Kasihan masyarakat jika dalam kondisi seperti ini kita naikan harga.
 
Jadi lebih berat krisis pada 1998?
             Tahun 1998 lebih sulit karena krisis terjadi bukan saja akibat kondisi finansial domestik, tetapi ditambah situasi politik menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang selama itu berkuasa.
 
Berapa besar target penjualan tahun ini?
            Target kita sampai akhir tahun penjualan tumbuh 10% atau menjadi Rp700 miliar dengan produksi 31 juta meter persegi.
 
Berapa besar Arwana menguasai pangsa pasar keramik di Indonesia?
Kita menguasai sekitar 12-15% untuk kebutuhan keramik di seluruh Indonesia
 
Berapa besar kebutuhan keramik di Indonesia?
            Kira-kira kalau kita lihat penduduk Indonesia saat ini mencapai 250 juta maka kebutuhan keramik di Indonesia itu sekitar 275 juta meter persegi. Penduduk Indonesia itu menggunakan sekitar pakai 1,1 meter persegi per orang. Sedangkan Vietnam menggunakan sekitar 5 meter persegi perorang. Kalau penduduk Indonesia standar hidupnya menjadi baik maka kebutuhan keramik Indonesia akan kewalahan  sebab tidak akan mungkin bisa bangun pabrik sedemikain cepat sesuai kebutuhan. Saat ini kapasitas pabrik seluruh Indonesia baru 250-275 juta meter persegi.
 
Apa yang menjadi target jangka panjang dan jangka pendek Arwana?
            Target kita ya visi kita yakni menjadi yang terbaik di industri keramik dan bisa berkontribusi kepada negara dan masyarakat.
 
 
***
“Raja keramik”  asal  Pontianak ini mengakui  jarang sekali memperhatikan pembelian dan mengurus keuangan perusahaan dimana sudah ditangani oleh professional yang kompeten. Peraih gelar MBA dari Chicago Booth School of Business, University of Chicago ini justru  lebih  sering mengurus lingkungan dan produktivitas SDM di pabrik. Alasannya karena ia ingin karyawannya  merasa memiliki tempat dimana mereka bekerja. Hal ini yang membuat  pria berusia 43 tahun ini berupaya membuat lingkungan pabriknya senyaman mungkin bagi karyawannya. Itu sebabnya dilingkungan pabrik dibuatkan taman,  kolam, ada angsa, dan burung. Menurutnya  pabrik merupakan tempat orang banyak menghabiskan waktu dari hari Senin hingga Sabtu, sehingga jarang sekali para karyawan pabrik bisa menikmati taman-taman kota yang ada di Indonesia.  “Kalau mereka kerjanya nyaman maka mereka akan kerja dengan baik kalau mereka sudah bekerja dengan baik otmatis saya bisa pensiun,” paparnya.
Tidak mengherankan jika di setiap pabrik Arwana selalu tersedia kawasan hijau. Di pabrik Tangerang misalnya, dari total  2,65 hektare lahan, 1 hektare di antaranya diperuntukkan bagi kawasan hijau. Di Plant II (Serang, Banten); 52% dari total areal 9,60 hektare juga untuk kawasan hijau. Sedangkan di Plant III (Gresik, Jawa Timur), lahan hijaunya mencap  50% dari total areal 7,22  hektare.
***

 
Sebelum Anda terjun ke Industri keramik, Anda sempat berkecimpung di industri kayu. Mengapa Anda meninggalkan industri kayu justru berbalik arah ke keramik?
            Saya memang sempat berkecimpung di industri kayu. Pada saat itu posisi saya adalah profesional. Saya melihat mereka terus melakukan penebangan namun tidak melakukan penanaman kembali. Padahal kayu itu Tuhan yang kasih. Seperti drakula hanya menghisap. Saya tidak bisa melakukan apa-apa karena pada waktu itu saya hanyalah profesional. Makanya saya berusaha masuk ke industri yang seminimal mungkin merusak lingkungan.
            Selain itu kenapa saya memilih industri keramik karena saya ingin memberikan multiplier effect  ke masyarakat bawah. Di Industri keramik, saya justru memilih segemen bawah bukan karena saya tidak mampu bersaing dengan produk atas atau produk luar. Tapi karena saya melihat di masayarakat menengah bawah itu pendapatannya sedikit. Jadi mengapa kita tidak menjual kepada mereka dengan harga terjangkau dan kualitas yang prima. Dalam menjalankan usaha ini juga bahan baku saya beli dari masyarakat bawah. Saya tidak mau membeli ke orang kota. Tujuannya agar ada pergerakan  ekonomi di tingkat bawah. Lalu untuk truk pengangkut saya outsource dari UKM bukan ke perusahaan besar.  Kita harus membantu dan membangun masyarakat dimana kita berada sehingga masyarakat merasakan bahwa kehadiran perusahaan di daerah mereka sangat berguna dan bermanfaat. 
 
Pada tahun 2002 Anda sempat  dianugerahi Young Entepreneur of The Year Award. Menurut Anda bagaimana supaya bisa lahir entepreneur-entepreneur di Indonesia?. Kita lihat jumlah UKM di Indonesia sudah cukup banyak, tapi bagaimana agar mereka tetap bisa bertahan dan usahanya berkelanjutan?
            Pertama kalau ingin menjadi pengusaha maka harus berani mengambil resiko. Kata pengusaha itu berasal dari kata usaha jadi dalam keadaan susah ataupun baik tetap harus berusaha sebab itulah hidup kadang ada susah dan kadang ada enaknya. Jangan hanya mau berusaha karena melihat peluang dan mencari untung saja. Dalam membangun dan dalam menjalankan perusahaan kita harus sadar bahwa biaya atau cost itu akan naik terus dan margin menjadi kecil. Disinilah perlunya kita berusaha dalam mempertahankan kinerja dan perusahaan tetap bisa berkelanjutan.
            Kedua jangan terlalu bergantung pada pemerintah dan bersandar pada koneksi. Kalau mengandalkan koneksi namanya bukan pengusaha. Kesempatan di Indonesia itu luar biasa. Penduduk Indonesia banyak, sumber daya alamnya juga luar biasa.  Dan tentu saja ketika bisnis sudah jalan jangan lupa give back to comunity dan memperhatikan masayarakat bawah. Saya yakin jika ini dilakukan pasti bisa bertahan karena yang akan menjaga kita adalah masyarakat.
 
Dibandingkan dengan negara-negara lain pertumbuhan Indonesia masih lebih baik. Menurut Anda kesempatan apa yang bisa diambil Indonesia untuk bisa ditampil di dunia?
            Pemerintah harus kuat, jangan dikit-dikit minta bantuan ke luar. Lalu rakyatnya juga harus bangga menggunakan produk dalam negeri jangan selalu menggunakan produk asing. Pemerintah juga harus tegas dalam mengambil kebijakan.  Gunakanlah sumber daya alam di Indonesia. Misalnya tanah  di Indonesia jangan di ekspor dan dipakai untuk pabrik  di luar negeri. Pemerintah seharusnya melarang ekspor tanah dan menyerukan agar para perusahaan pembuat keramik dunia itu datang ke Indonesia untuk membangun pabrik dan membuat keramik di sini. Pemerintah harus berani mengambil kebijakan seperti ini. Kalau itu terjadi tentu akan membawa dampak positif bagi Indonesia seperti adanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
 
Rencana ekspansi kedepan?
            Kita berencana melakukan penambahan kapasitas pabrik keramik sebanyak 10 juta meter persegi di 2010.  Saat ini kita kan sudah punya 20×20 cm, 20x25cm , 30×30 cm, 40×40 cm. Kita kan belum punya pabrik porcelain 60x60cm yang mainnya di kelas atas. Kita juga harus masuk. Mungkin tahun depan atau tahun berikutnya lagi yang jelas pasti kita masuk setelah kondisi keuangan membaik.
 
Ada rencana menerbitkan obligasi?

            Belum ada dan tidak pernah terfikirkan. Saya tidak akan menerbitkan obligasi karena hubungan kita dengan pihak bank luar biasa baik.
 
Anda sudah cukup sukses di industri keramik apakah terfikirkan untuk masuk ke industri lain atau menjadi konglomerasi?
            Tidak. Saya masih belum apa-apa di industri keramik, jadi saya masih mau fokus di industri ini saja.
 
 
Boks Kunci sukses Arwana

 
1.Melakukan berbagai upaya efisisensi di saat krisis
2.Tidak memiliki utang dalam bentuk dolar
3.Tepat dalam membidik segmen pasar
4.Melakukan pemberdayaan terhadap masayarakat sekitar pabrik
5.Menciptakan suasana kerja yang nyaman dengan membangun kawasan hijau di lingkungan pabrik

2 thoughts on “Kalau Mengandalakan Koneksi, Namanya Bukan Pengusaha

  1. Excellent info, keep it up……kami nantikan info2 dari mu yg lebih banyak dan mendalam gigitannya ya!
    Mis; Usaha produk kayu dan rotan di ambang kematian oleh karena KARTEL dan MONOPOLI kongkalikong!

  2. Thx ya mas. Makasih juga untuk informasinya. Usaha produk kayu dan rotan kita hampir mati juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah kita. Bayangkan saja kita adalah salah satu penghasil rotan terbesar di dunia, tapi pengerajin rotan kita kekurangan bahan baku akibat kebijakan pemerintah yang membiarkan ekspor rotan mentah. Harganya pun sangat rendah. Setelah menjadi produk siap pakai diimpor kembali ke Indonesia dan di beli oleh pengerajin rotan dengan harga yang lebih mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s