Interview

Olimpic Memperkuat Posisi Dengan Merambah Bisnis Retail

Interview
Edy Gunawan CEO PT Cahaya Sakti Multi Intraco (Olympic)



Pada krisis ekonomi 1998 PT Cahaya Sakti Multi Intraco (Olympic) adalah salah satu perusahaan yang juga mengalami kejatuhan bisnis yang luar biasa. Kala itu hutangnya sampai sepuluh kali lipat dari omsetnya. Namun perusahaan furniture ini berhasil bangkit dan melewati saat-saat kritis sampai kembali berjaya lagi. Salah satu strategi agar tetap selamat dan bertahan karena selama krisis Olympic tidak berhenti melakukan inovasi dalam mengeluarkan produk-produk baru dan desain yang baru. Tahun 2008 krisis ekonomi kembali datang. Seberapa besar dampaknya bagi Olympic dan strategi apa saja yang dilakukan agar tetap bertahan di tengah kisis saat ini?. Dan aksi korporasi apa saja yang akan dilakukan Olympic selama tahun 2009 ini?Selasa, (7/7/09) lalu Evi Ratnasari berbincang-bincang dengan Edy Gunawan chief executive officer (CEO) PT Cahaya Sakti Multi Intraco di kantornya yang terletak di jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor. Berikut petikannya :


Seberapa besar dampak krisis saat ini terhadap industri furniture, khususnya terhadap Olympic?
Saya belum pernah dengar kalau ada industri yang tidak kena dampak krisis termasuk industri ini. Tapi ya tidak terlalu signifikan dan tidak terlalu bermasalah betul. Paling tidak kita relatif kebal karena bahan baku juga ada di dalam negeri. Untuk pasar lokal krisis ini tidak berdampak secara signifikan terhadap omset. Tapi kalau untuk ekspor ya cukup signifikan, karena daya beli di pasar luar negeri lagi terganggu. Secara kuantiti produk yang diekspor turun sekitar 30% sampai 40%.

Berapa omset pada 2008 lalu?
Pejualan Olympic di 2008 sekitar US$108 juta. Dari omset itu sekitar 20% berasal dari pasar ekspor dan 80% dari pasar dalam negeri. Mangkanya krisis ini tidak terlalu berdampak secara signifikan terhadap kita karena pasar ekspor kita cuma 20%.

Pasar ekspor ke negara mana saja?
Produk kita di ekspor ke 100 negara yang tersebar di Asia, Afrika, Timur Tengah, Australia, Sudan. Kontribusi terbesar untuk ekspor berasal dari Asia, Timur Tengah, Sudan dan negara-negara bekas Uni Soviet

Meski tidak terlalu berdampak secara signifikan, apakah ada strategi khusus dalam menghadapi krisis saat ini?
Pasti. Pertama kita harus terus berinovasi dalam mengeluarkan produk-produk baru. Kedua dalam keadaan krisis kita harus merangkul seluruh karyawan karena dalam menghadapi krisis diperlukan tim yang solid. Jadi harus tetap bisa memberikan motivasi terhadap karyawan dengan memberikan sistem insentif yang menarik. Kita juga memberikan training-training supaya mematangkan mereka. Krisis ini bagi saya istilahanya diberikan waktu utuk bernafas agar bisa lari lagi dengan kencang. Pada saat bernafas ini kita siapkan SDM dengan memberikan training.

Ada PHK?
Tidak. Justru kita terus melakukan rekrutmen.

Apa alasannya? Bukankah ditengah krisis justru harus melakukan efisiensi dan perampingan?
Yang lalu-lalu itu kita juga melakukan pembelian produk dari luar. Nah dengan krisis ini kita hentikan atau kita kurangi pembelian produk yang dari luar dan produk dari dalam kita galakan.

Bagaimana dengan target 2009? Berapa besar pertumbuhan penjualannya?
Untuk 2009 mugkin flat dulu ya. Saya tidak mau terlalu besar memasang target. Ditengah krisis saat ini flat saja sudah bagus. Mungkin ada pertumbuhan tapi single digit tidak seperti pertumbuhan di tahun 2008 yang tumbuh 15% sampai 20%.

Berapa banyak pabrik yang dimiliki saat ini?
Lebih dari 20 pabrik tersebar di seluruh Indonesia.

Ada rencana ekspansi apa di 2009 ini?
Kita mau menggalang dan mengembangkan Furnimart atau toko furniture lebih banyak tahun ini. Toko ini konsepnya franchise. Furnimart merupakan strategi kita untuk masuk ke wilayah retail. Kita kan sudah memiliki area di manufaktur dan distribusi jadi akan makin memperkuat posisi kita di pasar dengan masuk ke area retail. Toko ini sudah jalan tiga tahun dan sudah ada sekitar 100 gerai yang tersebar di pulau Jawa. Untuk sementara kita akan kembangkan Furnimart di pulau Jawa dulu selama 2009 ini. Sampai akhir 2009 ini kita targetkan untuk membangun lagi sekitar 20 toko. Kita sudah ada di Jawa Timur, Banyumas, Purwodadi. Di Jawa Tengah paling tidak ada sepuluh kota lagi yang akan kita garap.
Furnimart ini hadir juga untuk melakukan penetrasi pasar di daerah pedesaan yang sedang mengalami pertumbuhan. Selama ini retail-retail moderen yang besar seperti carrefour, gaint, makro dan hypermart umumnya hanya hadir di perkotaan dan tidak bisa menjangkau pedesaan. Kita akan melakukan ekspansi ke luar pulau Jawa pada 2011. Untuk awal di 2011 kita akan bangun di Bali dulu baru setelah itu ke Batam, Sumatera dan Makasar serta kota-kota besar lainnya.

Di pedesaan umumnya sudah dikuasai oleh Colombia dan kecendrungannya Colombia sedang menurun. Apa yang membuat Anda yakin Furnimart akan sukses?
Kita berbeda dengan Colombia, kalau Colombia itu konsepnya cash and credit. Kalau kita tidak cash and credit tapi menjual furniture. Jadi berbeda. Selain itu dari sisi produk Colombia sepertinya sekitar 60%-70% menjual produk-produk elektronik. Selain itu Colombia juga menjual produk lain seperti handphone, motor dan lainnya. Sedangkan kita lebih fokus pada produk furniture saja.

Furnimart membidik pedesaan, tapi tidak memberikan sistem cash and kredit. Sementara daya beli di pedesaan bisa dikatakan kurang, bagaimana Anda mengatasi masalah ini?
Iya karena itulah kita bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan pembiayaan atau multifainance.

***

Edy Gunawan mulai menjabat sebagai sebagai CEO sejak 4 Oktober 1996 lalu. Bagi pria kelahiran Jakarta 30 Desember 1959 sumber daya manusia adalah kunci terpenting dalam keberhasilan suatu organisasi, Karenanya pengembangan SDM mutlak harus dilakukan. Alumni sarjana ekonomi ini merasa senang dan bangga jika bisa melakukan regenerasi di perusahaannya dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Ia juga bersyukur selama ia memimpin Olympic ia bisa melihat pegawai dan staffnya menempati posisi penting dan duduk dalam jajaran manajemen. “Kepuasan saya kalau anak buah saya bisa sukses dan berkembang. Ada kebangaan dan kepuasan tersendiri dan hal ini tidak bisa di bayar oleh apa pun,”cetus bapak beranak tiga itu.
***

Asosiasi pernah mengeluhkan kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap industri ini. Dukungan semacam apa yang sebenarnya diharapkan oleh para pelaku di industri furniture?
Untuk industri ini memang kurang adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah. Kalau saya lihat ada industri tertentu dapat keringan pajak dan lain sebagainya. Sementara industri ini tidak ada keringanan apa pun. Kita sebenarnya tidak minta khusus diperhatikan atau mendapat perhatian eksklusif. Kita minta yang umum saja lah seperti industri lain seperti perbaikan infrastruktur dan listrik. Dengan infrastruktur yang tidak memadai biaya kirim bahan baku dari Kalimantan ke sini saja sama dengan mengirim barang dari sini ke Cina.
Hal yang lain yang kita minta untuk diperhatikan benar-benar dan diawasi dengan serius adalah masalah ilegal logging karena menyangkut bahan baku utama kita. Kita tidak bisa bersaing karena kayu-kayu di dalam negeri di import secara ilegal dengan harga yang lebih murah sehingga musuh kita punya bahan baku yang lebih murah ketimbang kita.

Kontribusi industri furniture sendiri terhadap PDB kita berapa besar?
PDB kita kalau tidak salah sekitar Rp5000 triliun. Yang namanya furniture itu banyak, ada yang benar-benar kayu solid, ada juga kayu panel, jati, belum lagi plastik, bambu, rotan dan gelas. Banyak sekali. Kalau untuk panel saja market sizenya sekitar Rp 6 trilun setahun. Kalau bicara semua furniture pasti besar sekali, makanya industri furniture ini harus diperhatikan oleh pemerintah

Di luar negeri khususnya Amerika Serikat dan Eropa ada aturan untuk furniture kayu yakni Lacey Act yakni sertifikasi yang menyatakan bahwa bahan baku itu bukan berasal ilegal loging. Seberapa besar pengaruh aturan ini terhadap Olympic?
Tidak ada pengaruhnya sebab kita tidak ekspor kesana. Kalau ke Amerika Serikat kita bersaing dengan produk dari Brazil yang secara geografis lebih dekat dengan Amerika Serikat. Kalau kita ke sana kita pasti tidak menang karena harganya tidak dapat bersaing, jadi kita tidak akan menembus ke sana. Dulu kita pernah coba, harganya harus di tekan betul, apalagi transportasinya jauh dan mahal.

Masa-masa paling sulit yang pernah Anda alami selama memimpin perusahaan ini?
Pada tahun 1998 itu merupakan masa-masa sulit bagi saya dalam memimpin perusahaan. Waktu itu perusahaan jatuhnya luar biasa. Hutang kita bisa sepuluh kali lipat dari omsetnya. Apa lagi saat itu dollar sempet di harga Rp16.000. Saat itu omsetnya sekitar Rp 100 miliaran. Jadi hutangnya hampir Rp1 triliunan.

Apa yang Anda lakukan sehingga perusahaan bisa bangkit dan lari kencang lagi?
Saat itu strateginya kita memproduksi produk-produk krisis. Mengurangi cabang-cabang kita. Pada saat itu kita dihadapkan pada pilihan hidup atau mati. Kita tentu tidak mau perusahaan ini mati. Terpaksa pada saat itu melakukan pengecilan atau perampingan. Ditengah kondisi yang terjepit terpaksa harus melakukan PHK untuk efisiensi. Inilah strategi yang tidak enak tapi mau tidak mau harus dipilih. Tapi pada saat itu saya punya prinsip cut the tree from the top, jadi yang di bawah itu tidak kita berhentikan, toh mereka juga cuman mendapat gaji UMR. Malah yang level bawah ini kita latih untuk bisa meningkatkan kemampuannya. Dan kalau dihitung-hitung memberhentikan 100 orang di level menengah dengan memberhentikan 1000 orang di level bawah sebenarnya penghematannnya sama. Cuma dampak sosialnya berbeda. Jadi lebih baik menyelamatkan 1000 orang yang di bawah akan lebih baik ketimbang menyelamatkan 100 orang di level menengah. Umumnya di level menengahkan sudah punya tabungan.

Apa visi Anda dalam memimpin perusahaan ini?
Visi yang saya bawa tentu sama dengan visi chairman perusahaan ini yang ingin menjadikan perusahaan ini menjadi world class company.

Kapan visi itu diharapkan terwujud?
Paling tidak dalam waktu lima tahun mendatang kita sudah bisa punya satu pandangan sebagai perusahaan kelas dunia.


Kunci Sukses Olympic
Melakukan Inovasi produk
Mengeluarkan produk-produk baru dengan desain yang baru
Memperkuat pasar lokal
Melakukan penetrasi ke pedesaan dengan mengembangkan Furnimart
Melakukan pengembangan SDM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s