Uncategorized

Malaysia yang Merajalela

Ada kabar sedih lagi yang berhembus dari negerinya Upin dan Ipin. Lagi-lagi menyangangkut TKI. Nurul Aida (31 tahun) TKI asal Bogak, Sumatera Utara tewas 22 Januari lalu. Aida diyakini tewas saat bekerja di rumah majikannya. Kabarnya pihak Polisi Malaysia di Negara Bagian Malaka pada tanggal 24 Januari telah menahan 6 orang yang diduga terlibat pembunuhan Nurul Aida. Semoga aja para pelaku mendapatkan hukuman setimpal!!!!

Terima kasih kepada pihak kepolisian Malaysia yang langsung memproses kasus ini tanpa perlu pemerintah Indonesia berteriak-teriak mencari keadilan.

Ngomong-ngomong soal Malaysia, aku jadi inget pernah menulis bisnis Malaysia di Indonesia pertengahan tahun 2009 lalu. Wowww ternyata memang telah merajalela. Beda banget sama bisnis Indonesia di Malaysia. Ini dia tulisannya. Enjoy!

Geliat Bisnis Malaysia di Indonesia
Malaysia yang Merajalela

Di sektor bisnis Malaysia sudah cukup jauh melangkah di Indonesia. Investasi Malaysia merajalela. Satu demi satu perusahaan Indonesia telah berganti kepemilikan atau berubah komposisi pemegang sahamnya. Entah itu diakuisisi, dimerger ataupun join venture.

Rasa nasionalisme Fredy Numberi tergugah begitu mendengar adanya upaya pencaplokan wilayah Kepulauan Ambalat, pada Maret 2008 lalu. Kala itu hubungan Indonesia-Malaysia memanas setelah Malaysia menempatkan pesawat tempurnya di Tawao, dekat perairan Indonesia yang kaya akan minyak. Pada saat itu TNI Angkatan Udara (AU) juga bersiap-siap menggelar armada tempurnya di Tarakan, Kalimantan Timur.
Sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia yang memiliki “kuasa” di kawasan perairan nusantara, Fredy marah dengan tidakan Malaysia itu. Ia tak ingin peristiwa sengketa Pulau Ligitan dan Sipadan yang lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi terulang kembali.“ Ini menyangkut kedaulatan NKRI!” tegasnya.

Demi NKRI, mantan Komandan Pangkalan Utama TNI AL V Irian Jaya-Maluku pada 1998 ini akhirnya mengambil langkah yang tidak populis dengan mengeluarkan Permen No 06 tahun 2008 tentang Penggunaan Pukat Hela di Kawasan Ambalat. Kebijakan yang dikeluarkan oleh pria asal Papua ini jelas mengundang kontroversi dan ditentang oleh para pencinta lingkungan karena penggunaan pukat hela bisa merusak lingkungan. ”Saya akui ini merusak lingkungan, Tapi langkah ini terpaksa saya ambil karena armada TNI AL kita terbatas. Sementara saya ingin Merah Putih terus berkibar di Ambalat,” jelasnya.

Dengan diberlakukannya aturan tersebut otomatis mendorong nelayan Indonesia di sekitar Ambalat untuk mencari ikan di daerah itu. Akhirnya, sekitar lima ratus ribu armada kapal nelayan tiap harinya berlayar di sana dan sang merah putih pun terus berkibar di Kawasan Ambalat. “Ini kebijakan politis. Ini akan membuat orang Malaysia berpikir dua kali memasuki Ambalat karena di wilayah itu selalu berkibar bendera merah putih. Kalau Malaysia berani mengusir artinya mereka cari perang!” ujar Fredy mengebu-gebu.

Kenakalan Malaysia bukan kali itu saja. Negara serumpun itu sudah beberapa kali membuat rakyat negeri ini marah. Ketegangan di Ambalat pun kembali terjadi di penghujung tahun 2008 sampai awal 2009. Selain itu Malaysia juga berulang kali mengklaim pulau dan kebudayaan asli Indonesia sebagai budaya mereka. Seperti mengklaim motif batik, keris, angklung, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange dan Tari Indang Bariang sebagai budaya mereka. Pada September lalu Negeri Jiran itu kembali membuat rakyat Indonesia mencak-mencak karena menggunakan Tari Pendet asal Bali sebagai salah satu paket promosi wisatanya. Mereka juga mengklaim Pulau Jemur di kepulauan Riau sebagai salah satu daerah tujun wisata Malaysia. Terakhir, mereka mengkalaim beberapa makanan dan minuman yang juga ada di Indonesia sebagai warisan kuliner nenek moyang mereka.

Meskipun klaim atas budaya dan produk asli Indonesia oleh Malaysia membuat rakyat Indonesia gerah dan marah dan menimbulkan ketegangan antara dua negara. Namun, dalam hal berinvestasi, nampaknya perusahaan-perusahaan Malaysia tidak mendapat rintangan berarti. Mereka berhasil masuk ke Indonesia tanpa ribut-ribut mendapat penolakan dari masyarakat Indonesia. Buktinya di sektor bisnis Malaysia sudah cukup jauh melangkah. Investasi Malaysia telah merajalela di Indonesia. Satu demi satu perusahaan Indonesia telah berganti kepemilikan atau berubah komposisi pemegang sahamnya. Entah itu diakuisisi, dimerger ataupun join venture.

Bagi Sofyan Wanandi, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), selama investor asal Malaysia bisa berinvestasi dan mengikuti kebijakan pemerintah, menjamurnya perusahaan Malaysia bukan masalah. Lagi pula, ujar dia, Indonesia memang membutuhkan investasi asing jadi tidak perlu menolak kehadiran mereka. “Masalah bisnis harus dipisahkan dengan berbagai masalah yang muncul belakangan ini.” ujarnya.

Dari Perbankan Sampai Pendidikan

Berdasarkan penelusuran Warta Ekonomi, saat ini setidaknya sudah lebih dari 100 perusahaan asal Malaysia beroperasi di Indonesia. Para investor asal negeri Jiran itu telah merambah ke berbagai sektor strategis, mulai dari perkebunan (khususnya sawit), perbankan, asuransi, telekomunikasi, migas, perkebunan, otomotif penerbangan, properti hingga pendidikan.

Di sektor perbankan Malaysia memiliki Bank International Indonesia (BII), CIMB Niaga dan Bank Bumiputera. Lebih dari 90% saham BII dimiliki oleh Malayan Banking Berhad (Maybank). Maybank merupakan bank terbesar di Malaysia. Sementara CIMB Niaga dimiliki Khazanah Nasional Berhad.

CIMB Niaga salah satu bank papan atas yang berdasarkan data bank Indonesia per Agustus 2009 berada di urutan keenam terbesar dari segi aset. Per 31 Maret 2009 aset CIMB Niaga mencapai Rp 102,9 triliun dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 11,25 triliun. CIMB Niaga sendiri merupakan hasil merger antara Bank Niaga dan Lippo Bank pada November 2008 lalu. Kedua bank tersebut dimerger untuk mematuhi peraturan BI tentang Kepemilikan Tunggal Pada Perbankan Indonesia atau Single Presence Policy (SPP).

Bank Niaga dan Lippo sama-sama di miliki oleh Khazanah Nasional Bhd perusahaan investasi milik pemerintah Malaysia. Di Bank Lippo, Khazanah memiliki sekitar 93% saham lewat Santubong Investments BV dan Greatville Pte Ltd. Sedangkan di Bank Niaga melalui bendera Bumiputera-Commerce Holdings Bhd (BCHB), Khazanah memiliki 64% saham Bank Niaga. Bumiputra-Commerce Holdings Bhd (BCHB) pada 16 Agustus 2007 mengalihkan sahamnya kepada CIMB Group Sdn Bhd, perusahaan yang 100% dimiliki oleh BCHB. Saat ini sekitar 77,8% sahan CIMB Niaga dimiliki oleh CIMB Group.

Untuk mematuhi aturan BI, Khazanah lebih memilih menggabungkan kedua bank tersebut ketimbang menjualnya. “Kami tak menjual salah satu bank, kami pilih menggabungkannya,” ujar Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Dato Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak saat penandatanganan merger kedua bank tersebut di Jakarta Juni 2008 lalu.

Pada kesempatan itu Dato’ Nazir Razak, group chief executive CIMB Group juga mengungkapkan bahwa pengabungan kedua bank tersebut untuk memperkuat posisi CIMB di Indonesia. Apalagi masing-masing bank memiliki kelebihan berbeda-beda. Bank Niaga adalah pemain kuat di segmen korporasi dan kredit perumahan. Sedangkan, LippoBank cukup kuat di usaha kecil menengah (UKM) dan sistem pembayaran.

Selain di sektor perbankan ternyata Khazanah juga menancapkan kakinya di sektor telekomunikasi Indonesia melalui pembelian saham PT Excelcomindo Pratama (XL). Awal Khazanah masuk ke industri telekomunikasi pada Desember 2004 melalui anak usahanya, yakni Telekom Malaysia International (TMI) dengan membeli saham XL sebesar 27,3% atau setara US$ 314 juta. Kini TMI mengguasai XL melalui Indocel Holding Sdn Bhd dengan porsi kepemilikan 83,8%. TMI merupakan anak perusahaan dari Axiata Group Berhad (“Axiata”). Investasi Axiata di bidang telekomunikasi telah menyebar diberbagai negara Asia seperti Indonesia, Srilanka, Malaysia, Bangladesh, Singapura, India, Kamboja, Iran, Thailand dan Pakistan. XL yang awalnya dimiliki oleh konglomerat Peter Sondakh ini merupakan perusahan seluler terbesar ketiga di Indonesia setelah Telkomsel dan Indosat. Jumlah pelanggan XL per Agustus lalu telah mencapai 24,7 juta orang.

Sebenarnya bukan hanya TMI saja yang mencoba peruntungan di bisnis telekomunikasi Indonesia. Maxis Communications Bhd juga pernah mencicipi industri telekomunikasi di Indonesia pada 2005 dengan mengakusisi saham PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) milik Grup Lippo. Sayangnya NTS yang kini dikenal dengan nama Axis di tangan Maxis tidak terlalu berkembang sehingga pada 2008 Maxis menjual sahamnya ke Qatar Telkom.

Adapun kepanjangan tangan Khazanah lainnya di Indonesia adalah di sektor otomotif melalui Proton Bhd, penerbangan melalui Malaysia Airlines Bhd dan Infrastruktur melalui Plus Expressway Bhd.
Proton tertarik karena melihat industri otomotif Indonesia terus berkembang. Pada 2007 lalu proton sudah mulai membuka jarinagn distribusi ritelnya di kota-kota besar Indonesia. Malahan jika Proton bisa memikat hati masyarakat Indonesia mereka berencana untuk membangun pabrik di Indonesia. “Dalam rencana jangka panjang kami berencana membuka pabrik disini, Jika waktunya tepat kita akan bangung,” cetus Ricky HK Too, chief executive officer PT Proton Edar Indonesia.

Di sektor penerbangan setidaknya ada tiga perusahaan Malaysia yang eksis di Indonesia, yakni Malaysia Airlines dengan konsep full services , Firefly Airlines anak usaha MAS dan Air Asia lewat PT Indonesia Air Asia yang mengusung konsep low cost carrier (LCC).

Menurut Dzulkefli Zakaria, area manager Indonesia Malaysia Airlines, Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial dan menjadi salah satu rute penting bagi maskapainya. ”Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 230 juta. Ini merupakan pasar yang besar. Selain itu jumlah Mahasiswa yang belajar ke Malaysia saat ini ada sekitar 10.000 lebih dan mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia sekitar 4000-an.,” paparnya. Karena itulah, ungkap Dzulkefli, Malaysia Airlines akan terus melakukan ekspansi di Indonesia dengan menambah jumlah frekuensi penerbangan yang sudah ada. Salah satunya adalah dengan membuka penerbangan langsung Jakarta-Australia dengan frekuaensi tiga kali seminggu pada 15 September lalu.”Potensi dari rute ini sangat besar karena Jakarta terus tumbuh menjadi pusat bisnis maupun hiburan,” ujarnya. Dzulkefi menargetkan 70% dari kapasitas 840 tempat duduk untuk setiap jalur Pulang-Pergi. Jika respons pasarnya cukup baik, Dzulkefi berencana memperbanyak frekuensi penerbangannya. ”Tidak hanya tiga kali seminggu. Kalau bisa setiap hari,” cetusnya.

Sementara itu terkait memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia. Dzulekefli mengatakan tidak berpengaruh terhadap penerbangan Malaysia Airlines di Indonesia. ”Tidak ada pengurangan jumlah penumpang,” tegasnya. Malaysia Airlines pada saat ini mengoperasikan 70 penerbangan ke lima kota di Indonesia setiap minggunya dengan total 22.000 tempat duduk. Lima kota itu adalah Jakarta, Denpasar, Surabaya, Medan dan Yogyakarta. Malaysia Airlines sendiri mulai beroprasi di Indonesia sejak 1972. Sedangkan Air-Asia mulai hinggap di Indonesia pada November 2004 dengan membeli saham PT Air Wagon International (Awair) milik Gusdur yang sudah tidak beroperasi lagi sejak 2001. Adalah Tony Fernades investor malaysia yanng menyuntikan “darah segar” ke Awair. Melalui AirAsia International Limited (AAIL), sebuah perusahaan yang 99,8 % sahamnya dimiliki oleh AirAsia Bhd, pria yang termasuk salah satu pria terkaya di Malaysia itu membeli 49% saham Awair.

Sektor properti juga diminati oleh Tony Fernandez dengan membangun Tune Hotels. Konsep yang di usung hotel ini tidak jauh berbeda dengan konsep penerbangan LCC yang beroperasi dengan sistem jaringan hotel murah atau low budget hotel. Di Indonesia Tune Hotels hadir di Kuta dengan kapasitas 139 kamar dan Legian dengan kapasitas 170 kamar. Untuk pembanguan hotel itu Tony menggelontorkan dana hingga Rp 90 miliar. Dalam lima tahun kedepan, Tune Hotels mentargetkan akan membuka 24 hotel dengan konsep yang sama di seluruh Indonesia. Tony Fernandes bukanlah investor pertama yang melirik bisnis properti di Indonesia. Pada 2005 silam Metro Ikram Sdn Bhd sudah masuk ke Indonesia. Saat itu Metro menggandeng Perumnas untuk membangun 100.000 unit rumah. Dari jumalah itu 735 rumah dibangun di Rawalumbu seluas 20-an hektare; 1.500 unit rumah di Parung Panjang di atas lahan 300-an ha; dan 237 unit rumah karyawan Bulog di Jati Warna seluas 13-an ha.

Sektor lain yang dibidik investor Malaysia adalah infrastruktur. Di sektor ini perusahaan jiran Plus Expressway Bhd, berhasil membeli 55% saham PT Lintas Marga Sedaya yang merupakan pemegang konsensi tol Cikampek-Palimanan (116 km). Untuk bisa menguasai Lintas Marga Sedaya Plus Expressway Bhd harus merogoh kocek hingga 500 juta ringgit (Rp 1,3 triliun). Perusahaan infrastruktur Malaysia lainnya, MTD Capital Berhad yang bekerja sama dengan investor lokal, PT Nusacipta Etika Pratama, juga berencana membangun ruas tol Cikarang-Tanjung Priok (33,92 kilometer) dengan nilai total investasi Rp 2,36 triliun.

Sektor perkebunan merupakan sektor yang paling mereka gandrungi. Total luas lahan kebun sawit Indonesia sendiri saat ini mencapai tujuh juta hektare lebih. Dari angka itu Fadhil Hasan direktur eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yakin jika investor Malaysia telah menguasai lebih dari 30% lahan sawit Indonesia. Fadhil yakin kedepan investor-investor Malaysia akan semakin gencar mengincar lahan sawit dalam negeri. Apalagi pada 2020 Indonesia menargetkan untuk bisa memaanfaatkan lahan sawit seluas 20-23 juta hektar, dengan produksi 50 juta ton minyak sawit. Fadhil menilai ekspansi perusahaan sawit malaysia ke Indonesia ini salah satunya disebabkan oleh rendahnya tingkat suku bunga kredit di Malaysia dibandingkan dengan Indonesia. “Di kita itu suku bunganya 16% maka perusahaan lokal banyak yang mengalami kesulitan keuangan untuk survive. Karena itu banyak modal dari Malaysia yang masuk,” paparnya.

Berdasarkan data dari departemen pertanian setidaknya sudah ada 17 perusahaan Malaysia yang masuk ke Indonesia yakni Kuala Lumpur Kepong Bhd melalui PT Jabontara Eka Karsa, Kulim (M) Bhd, PBB Oil Palm Bhd melalui PT Benua Alam Subur, PT Hamparan Sawit, PT Rimba Harapan Sakti, PT Salawati Makmur, PT Salawati Makmur lewat empat perusahaan PT Sepanjang Inti Kalbar Surya Indah, PT Sepanjang Inti Surya Mulia, PT Sepanjang Inti Surya Utama, PT Sawit Murni. Sedangkan Delloyd Ventures Bhd dengan bendera PT Rebinmas Jaya, TSH Resources Bhd melalui PT Andalas Agro, Fima Corporation Bhd melalui PT Nunukan Jaya Lestari, Agro Hope Sdn Bhd melalui Agro Hope Sdn Bhd, PT Agro Indonesia, Austral Enterprise Bhd melalui PT Mitra Austral Sejahtera dan Golden Hope Plantations Bhd melalui Benua Indah dan Budidaya Agro Lestari.

Sementara di sektor asuransi, perusahaan asuransi Malaysia yakni Syarikat Takaful Malaysia Bhd/STM juga melirik pasar Indonesia. Sejak 1994 STM sudah melayani masyarakat Indonesia dengan asuransi syariah melalui PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) atau lebih dikenal asuransi Takaful. STI sendiri memiliki dua anak usaha yakni PT Syarikat Takaful Keluarga yang memberikan layanan asuransi jiwa dan PT Syarikat Takaful Umum yang memberikan layanan asuransi umum.

Selain berinvestasi di sektor keuangan dan industri, Malaysia juga membidik bisnis di bidang kesehatan dan dunia pendidikan. Di sektor ini, setidaknya terdapat kelompok rumah sakit yang kepemilikannya dikuasai oleh investor Malaysia. Sebut saja misalnya Rumah Sakit Selasih di Padang, Sumatra Barat; Rumah Sakit Medika Permata Hijau di Kebayoran Lama, Jakarta Barat; dan Rumah Sakit Medika Bumi Serpong Damai (BSD) di Tangerang, Banten yang dioperasikan oleh perusahaan kesehatan Malaysia KPJ Healthcare Berhad. Sedangkan di bidang pendidikan, yang telah hadir di Indonesia adalah Inti College dan Universitas Islam Antarbangsa. Di sektor migas, perusahaan migas Malaysia pun tak ingin ketinggalan. Petronas juga sudah menancapkan kakinya di Indonesia.

Dari sekian banyak investasi yang ditanamkan oleh sejumlah investor Malaysia di Indonesia, Sofyan menilai, umumnya investor Malaysia cenderung masuk ke industri dengan investasi besar dan bersifat jangka panjang seperti perkebunan, perbankan, telekomunikasi dan infrastruktur. Kelincahan Malaysia dalam melakukan ekspansi ke Indonesia maupun negara lain, menurut Sofyan, tidak terlepas dari kemudahan dan dukungan yang diberikan oleh pemerintah mereka. “Selain itu kredit-kredit dari perbankan juga jauh lebih murah dibanding suku bunga di Indonesia,”pungkasnya.

Perusahaan Indonesia di Malaysia

Perusahaan Malaysia telah banyak menjamur di Indonesia. Bagaimana dengan perusahaan Indonesia di Malaysia? Menurut Sofyan, jumlah perusahaan Indonesia yang berkiprah di Malaysia tidak banyak dan umumnya bukan perusahaan-perusahaan besar. “Saya rasa ekspansi pengusaha Indonesia di Malaysia itu enggak banyak. Tidak sebanyak Malaysia di Indonesia,” tuturnya. Sementara itu Direktur Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Departemen Perdagangan Dede Hidayat mengatakan umumnya perusahaan waralaba makanan yang banyak berekspansi ke luar negeri.

Beberapa perusahaan waralaba Indonesia yang telah melakukan ekspansi ke Malaysia diantaranya adalah PT Top Food Indonesia (Es Teler 77), Sari Ratu, telah membuka enam cabang, Ayam Penyet dua cabang, Wong Solo, Baso Afung, Natrabu dan PT Baba Rafi Indonesia lewat Baba Rafi Malaysia Sdn.Bhd. Menurut Hendy Setiono presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia perusahaanya menawarkan masakan khas Timur Tengah dan kini sudah ada dua franchisee yang berjalan “Sudah ada tiga investor lagi yang benar-benar serius untuk membeli waralaba saya,” akunya. Selain makanan perusahaan spa dan kecantikan milik Sari Ayu dan Mustika Ratu juga telah membuka cabang disana.

Sedangkan perusahaan besar asal Indonesia yang telah berekspansi ke Malaysia salah satunya adalah grup Salim. Perusahaan yang dipimpin oleh Antony Salim ini pada 9 Juni 2006 silam melalui anak usahanya di Malaysia, Food Industries Sdn. Bhd. membeli fasilitas produksi mi instan milik Medan Pulangan Sdn. Bhd., dengan nilai transaksi RM 11 juta atau sekitar Rp 28,19 miliar.

Sofyan berpendapat ada beberapa faktor yang menyebabkan sedikitnya pengusaha Indonesia melakukan ekspansi ke Malaysia. Pertama karena umumnya pengusaha Indonsia merupakan pemain lokal. Jarang yang memiliki orientasi internasional. Dalam kalkulasi Sofyan, perusahaan Indonesia yang go global paling banyak cuma 10% dan pemainnya itu-itu aja. “Paling grupnya Salim, Sinarmas lagi, grupnya Sukanto Tanoto, Lippo. Pokoknya konglomerat-konglomerat lama,” ujarnya.

Faktor kedua adalah pasar di Malaysia lebih kecil dibandingkan Indonesia dan juga sudah jenuh. Jadi, wajar jika perusahaan Indonesia tidak terlalu tertarik untuk berinvestasi di sana. “Ekspor kita ada di sana juga tapi untuk bikin pabrik di sana sepertinya kita tak terpikir karena di sana negara kecil, dan kita tidak melihat peluang pasar yang besar di sana. Di sini lebih bagus dan lebih banyak, and we know the market,” paparnya. Jadi Sofyan berharap pemerintah mau membenahi kondisi industri dalam negeri dengan menyediakan infrastruktur penunjang. “Selama kita tidak perbaiki kondisi dalam negeri kita akan susah bersaing dengan negara lain. It’s very hard. Karena disini cost kita tinggi, kita mau bikin pabrik disini, listrik gak ada, gimana mau usaha,” jelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s