Anak dan Sejuta Kesabaran

Anak-anak kecil memang lucu dan menggemaskan. Tapi tidak setiap saat dia akan berperilaku manis. Ada saja tingkahlaku yang akan membuat keki dan geregetan bahkan terkadang membuat kita geram. Menghadapi anak-anak harus ekstra sabar. Dan ini yang susah.

Tapi kalau kita renungkan sebenarnya yang mereka lakukan tidak ada yang salah. Apalagi di usia balita, mereka sedang senang-senangnya meniru apa yang dilihatnya – kita pun sebenarnya berkontribusi mengajarakan mereka. Siapa tahu mereka meniru apa pun yang kita lakukan tanpa kita sadari. Jadi apa yang dilakukan anak adalah cerminan diri kita.

Kalau kita marah-marah terhadap mereka selayaknyalah kita memarahi diri sendiri. Contoh kecil aku sempet gregetan sama si ganteng Beryl, gara-gara dia enggak mau sekolah. Ketika aku tanya jawabannya singkat “males ah”. OMG dalam hati ku. Dari mana dari mana kata-kata itu berasal. Ternyata dia pernah mendengar pembicaraanku saat berchit-chat ria dengan seorang teman via telepon. Gubraksss.

Tapi kita sering tidak sadar. Lalu memarahi dan menghakimi mereka. Kata-kata dasar anak bandel, pemalas, nakal malah meluncur dari mulut orang tua. Bahkan malah memberi hukuman fisik, mencubit, menjewer dan memukul. Terkadang ada orang tua yang berkata “Untung bukan anak saya. Kalau anak saya sudah saya pites.”Sebuah paradoks.

Alih-alih ingin menunjukkan rasa sayang, justru kita menyakiti mereka. Semoga aku bukan termasuk orang seperti itu dan semoga selalu ada kesabaran dalam menghadapi anak-anakku tercinta.

I Love you Beryl, I love you Dasha.

Siapa Yang Menentukan Dalam Membeli Mobil?

Hari ini, kantorku mengadakan acara diskusi santai di sebuah Showroom mobil mewah yang terletak di bilangan Proklamasi, Jakarta Pusat. Selesai acara, kami sempat berbincang-bincang dengan salah satu petugas di sana. Ada beberapa informasi yang menarik yang saya dapatkan dari perbincangan ngalur ngidul itu. Pertama , ternyata mobil yang harganya sekitar Rp900 juta-an tidak laku di showroom itu. Bukan karena kemahalan. Melainkan terlalu murah. Gubrakkksssss!!!. Katanya yang laku disana adalah mobil-mobil yang harganya Rp1,5 miliar ke atas. WOW!!!! Dan tahukah Anda siapa saja yang membeli mobil itu?

Ya benar, ada pengusaha, pejabat, dan konglomerat. Namun yang menarik adalah pembeli-pembeli yang berasal dari luar daerah khususnya wilayah Indonesia Timur. Mereka umumnya adalah petani dan orang-orang yang bergerak dibidang komoditas. Semua pembeli dari daerah itu membayar dengan uang cash. Saat saya mendengan cerita itu saya langsung membayangkan berapa banyak koper atau tas yang harus dibawa untuk menyimpan uang itu ya. ckckckckck

Informasi kedua yang tidak kalah menariknya adalah tentang siapa orang yang paling berpengaruh dalam menentukan pembelian mobil????
Pertama istri. Biasanya perempuan agak bawel. Hal-hal kecil tak jarang bisa membatalkan transaksi. Misalnya, ih kursinya kurang empulk, atau terlalu sempit, warnanya kurang ok. Padahal si suami sudah jatuh hati. Tinggal selangkah lagi transaksi terjadi. Cuman tinggal tunggu si nyonya mengatakan iya. Jadi penting sekali menservice si nyonya dengan sebaik mungkin. Kalalu sudah bisa mengambil hati sang nyonya, maslah printilan yang ngak jelas itu akan menjadi kalimat; oh ngak apa-apa nanti bisa di ini -itukan.

Nah, jika si pembeli tidak membawa nyonya rumah atau kebetulan belum berumah tangga. Siapa yang paling berpengaruh dalam menentukan mobil mana yang akan di beli? Apakah pacar? upsss bukan. Orang itu adalah supir pribadi. Maka jangan aneh jika Anda melihat ada ATPM yang sangat mengistimewakan para supir di showroomnya. Mau makan dan minum apa aja, akan diusahakan untuk dipenuhi. Bahkan ada juga yang memberikan upeti (baca uang).

Setiap Anak Terlahir Unik

Setiap anak memang terlahir unik. Pengalaman setelah melahirkan dua orang anak yang tampan dan cantik. Keduanya memberikan pengalaman yang baru dan berbeda. Masing-masing menciptakan moment yang berbeda pula.

Beryl misalnya saat lahir wajah bengkak-bengkak. Namun seiring berjalannya waktu wajah tampannya pun terlihat. Sebagai seorang bayi laki-laki ia selalu tampil gagah. Mulai dari mengolet seperti hulk sampai tangisannya yang mengguncang seisi rumah.

Sementara bayi perempuanku Dasha, sejak lahir sudah tampil manis, kemayu dan manja. Kalau senyum suka malu-malu. Tak pernah tertawa tergelak-gelak. Tangisannyapun kecil dan hanya merengek.

Tak hanya jenis kelaminnya saja yang berbeda, Beryl dan Dasha juga memiliki tingkah laku yang saling bertolak belakang.

Beryl tidak suka jengkol, pete, duren dan makanan pedas.  Dia gemar sikat gigi, bangun pagi dan tidur setelah azan Magrib. Tidak bisa fokus dan bosanan.

Dasha suka nagih kalau makan pete, jengkol, dan duren. Apalagi makanan pedas. Dia paling malas sikat gigi dan bangun pagi karena sering tidur larut malam. Semangat pergi sekolah dan ulet.

 

 

Hal yang paling aku benci di setiap pagi

Masih terbayang wajah Beryl yang merenggek agar bundanya tidak pergi bekerja. Setelah menangis kejar, ia pun terlelap dalam pelukanku. Dan…dengan berat hati aku membaringkannya di atas kasur dan meninggalkannya pergi. Peristiwa itu selalu terjadi setiap aku akan pergi menuju kantor. “Una angan keja,” kalimat yang selalu Beryl ucapkan ketika melihat aku tengah bersiap-siap atau tengah berdandan.

Setiap kali aku mendengar kalimat itu, hatiku bergetar. Rasanya ada beban berton-ton yang menggelayut di kakiku. Sampai-sampai sulit untuk berjalan. Belum lagi ditambah tatap mata si cantik Dasha. Gadis kecilku ini memang belum bisa bicara. Namun setiap kali aku akan pergi keceriaan langsung hilang dari wajahnya. Bibirnya manyun, bentuk protes Dasha kepada diriku.

Oh Beryl, oh Dasha…Bunda ingin kalian tahu nak, Bunda sangat mencintai dan menyayangi kalian. Bunda bukan tak ingin berada disamping kalian.  Bunda bekerja karena bunda ingin memastikan, bahwa suatu saat nanti bunda bisa membantu mewujudkan mimpi-mimpi kalian. I love U Beryl dan Dasha.

Hari Gajian Hari Termiskin Sekantor

Tanggal 24 adalah tanggal yang dinanti-nanti oleh setiap karyawan di kantor tempat aku bekerja, termasuk juga oleh aku. Jika sudah memasuki tanggal 10, aku biasanya sudah menghitung jumlah uang yang tersisa yang di ATM dan dibagi dengan jumlah hari yang tersisa sampai tanggal 24. Nah ketika hari itu tiba, wajahku sumringahnya bukan main, apalagi ketika melihat jumlah nol dalam mesin ATM telah bertambah.

Setiap tanggal ini dalam benakku sudah muncul berbagai rencana untuk membeli ini dan itu. Tentu saja aku sudah ada rencana besar untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Membeli keperluan bulanan sampai rencana mengentertaiment diri sendiri. Entah dengan membeli perlengkapan pribadi, ke salon untuk creambath atau ngopi-ngopi bersama teman.

Begitu juga dengan hari ini. Segudang rencana telah ada dalam benakku. Termasuk rencana makan siang hari ini. Sudah terbayang dalam benak ku makan SOP IGA BAKAR dengan kuah yang hangat dan sambal yang pedas. Mantap! Untuk mewujudkan mimpi itu tentu aku harus segera mengisi dompetku yang sudah menipis dan hanya berisi Rp2000.

Setibanya di kantor, ku ambil dompet dan bergegas ke ATM yang terletak di lantai dasar. Mendadak senyumku hilang. Bukan karena jumlah nolnya tidak bertambah. Tapi karena kalimat “MAAF TRANSAKSI ANDA TIDAK DAPAT KAMI PROSES” muncul di mesin ATM. Uang dalam mesin tersebut sudah habis terkuras oleh orang-orang yang juga gajian pada hari tersebut (membuktikn bukan cuman aku yang menantikan tanggal ini).

Yang membuatku panik adalah apa yang bisa aku lakukan dengan Rp2000 dalam dompet ku. Buyarlah rencana terdekatku untuk makan sop iga bakar Ibu Solo. Okelah pikirku. Masih ada teman-temanku. Aku akan coba pinjam kepada salah satu dari mereka. bergegaslah aku menuju kantin yang jaraknya hanya beberapa langkah dari mesin ATM. Ku lihat ada tiga orang teman yang ku kenal. Ku hampiri mereka yang sedang makan. Celakanya mereka ternyata bernasib sama dengan aku. Tapi beruntungnya dompet mereka tak setipis dompet ku.

Angga masih memiliki beberapa puluh ribu, begitu juga Noven dan Patrick. Makan siangku dan Patrick hari itu ditanggung oleh Angga. Sesudah makan siang kami semua bergegas kembali ke ruangan. Tak lama telpon seluler ku berdering. Salah seoarang temanku Deviana menelpon. “Ada duit ngak?, dompet gw ketinggalan,”ujarnya di ujung telpon.”Wah lagi miskin nih,cuaman punya Rp2000,”ujarku. “Tanyain dong sama temen-temen siapa yang punya uang,”timpalnya lagi.

Akhirnya ponsel ku pun bergilir ke kuping teman-teman yang tengah ada didalam ruangan kantor hari ini. Angga berujar “Dah habis untuk makan siang tadi.” Mei sang sekretaris berkata “aku juga juga minjem Mas Glen.”

Jumlah karyawan dalam departemenku memang tidak banyak. Tidak sampai 15 orang dan yang ada dikantor saat itu hanya lima orang dan kebetulan sedang kere semua. Syukurlah ketika Noven merogoh-rogeh kantongnya ia menemukan duit yang cukup untuk membayar ongkos taxi Fei-fei-nama pangilan untuk Deviana.

Setibanya Fei-fei di kantor ia pun berkata:”Gw belum makan dari tadi, ada yang bisa pinjemin duit ngak???,”…..Benar-benar hari gajian kali ini menjadi hari termiskin kami sekantor.

Profesional di Perusahaan Keluarga

Tidak mudah bagi para profesional bekerja di perusahaan keluarga, terlebih mencapai posisi nomor satu.

Oleh: Evi Ratnasari

Ruang kerja Handaka Santosa, CEO PT Manggala Gelora Perkasa, pengelola Senayan City di Jakarta Selatan, jauh dari kesan mewah. Dindingnya tidak permanen, hanya gypsum dilapis wallpaper. Di ruangan berukuran 3×4 meter persegi di lower ground Senayan City itu tidak ada sofa empuk untuk menerima tamu.“Di sini yang penting bukan ruangannya, tapi apa yang bisa dihasilkannya,” seloroh Handaka.
Handaka telah lima tahun menjabat CEO Senayan City, sebuah proyek prestisius dari Agung Podomoro Group (APG), kelompok usaha properti yang dimiliki keluarga Haliman. Saat ini bisnis grup ini dikelola oleh generasi keduanya, yakni Trihatma Kusuma Haliman. Senayan City adalah properti berkonsep one stop shopping, terdiri atas pusat perbelanjaan kelas atas dilengkapi perkantoran, 250 kamar hotel, dan 67 unit apartemen. Proyek di atas lahan 4,8 hektar itu dibangun dengan dana hingga Rp1,5 triliun.
Selain Senayan City, alumni Universitas Diponegoro ini juga sempat dipercaya memegang dua proyek properti bernilai triliunan rupiah, Kuningan City dan Podomoro City. Apa yang membuat Handaka bisa menduduki posisi tersebut?

***
Setiap pemilik perusahaan pasti ingin perusahaan yang didirikannya berkembang dan memiliki banyak anak usaha. Ketika perusahaan berkembang persoalan manajerial pun mulai meningkat. Misalnya, kepada siapa sang pemilik mesti mempercayakan pengelolaan anak-anak usahanya. Pemilik biasanya ingin menyerahkan pengelolaan kepada anggota keluarganya sendiri. Tapi jika perusahaan terus bertambah, apakah anggota keluarga yang ada memadai?
Persoalan lain menyangkut kompetensi anggota keluarga. Jika tidak kompeten, tentu sangat berisiko. Di saat seperti inilah perusahaan keluarga membutuhkan profesional dari luar.
Faktor lain yang mewarnai hadirnya CEO atau profesional di perusahaan keluarga terkait suksesi. Mereka berperan sebagai “Jembatan Suksesi”. Ini terjadi kala sang pemilik ingin mengurangi peran dalam mengelola perusahaan, tapi anak-anaknya masih terlalu muda dan belum berpengalaman. Pemilik lazim meminta CEO atau eksekutif profesional untuk membimbing, sampai generasi penerus siap dan mampu mengelola perusahaan.
Terakhir, kehadiran profesional dibutuhkan kala perusahaan sedang bersiap-siap untuk go public.
Fenomena meningkatnya kebutuhan profesional di perusahaan keluarga mulai terasa paskakrisis 1998 dan krisis 2008 lalu. PT Amrop Hever Indonesia, perusahaan pencari eksekutif papan atas di Indonesia, mengungkapkan, sejak 2002 mereka mendapatkan order dari perusahaan keluarga untuk mencari eksekutif profesional. Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya beromzet Rp 100 miliar – Rp 500 miliar per tahun. Saat ini ada 30 perusahaan keluarga yang menjadi klien Amrop. “Krisis 1998 memberikan pelajaran berharga bagi perusahaan keluarga di Indonesia. Banyak perusahaan konglomaret yang babak belur karena tidak dikelola secara profesional,” ucap Irham Dilmy, Managing Partner Amrop Hever Indonesia.
Hal serupa terjadi di Jakarta Consulting Group (JCG), konsultan bisnis keluarga. Salah satu divisi di JCG, yakni divisi head hunter, mencatat jika tiga-empat tahun yang lalu permintaan eksekutif profesional baru pada level manajer atau general manager. Belakangan permintaannya meningkat hingga level direksi bahkan CEO. Pada 2009 JCG memasok 19 profesional pada level direksi, atau tumbuh 46% dari tahun lalu. Perusahaan keluarga yang menjadi klien JCG memiliki skala bisnis sekitar Rp2,5 triliun –Rp 20 triliun, dan sebagian dari mereka berkeinginan untuk go public.

***
Krisis 1998 seakan menjadi batu ujian kemampuan maupun loyalitas dari para profesional yang bekerja di perusahaan keluarga. Di beberapa kelompok usaha, mereka berperan besar dalam menyelamatkan perusahaan.
Contohnya di Sinar Mas Group, krisis 1998 membuat kelompok usaha itu nyaris lumpuh karena terbelit utang US$ 13,5 miliar. Gandi Sulistiyanto, profesional yang bergabung di Sinar Mas pada 1992 dan kini menjabat sebagai managing director, memainkan peran kunci dalam restrukturisasi utang dari konglomerasi yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja. Ketika itu Sulis-pangilan akrab Gandi Sulistiyanto, bahu membahu dengan putra bungsu Eka Tjipta, Franky Widjaja, bernegosiasi dengan lebih dari seratus kreditur dari 11 negara. “Ini adalah restrukturisasi utang terbesar yang dialami perusahaan di negara berkembang. Kami juga tidak meminta haircut sedikit pun,” ucap Sulis, bangga. Ketika Sinar Mas sedang dibelit masalah, pria kelahiran Pekalongan ini rela gajinya tidak dibayar penuh.
Berkat restrukturisasi utang tersebut, Sinar Mas dapat terus melanjutkan bisnis mereka. Seluruh utang Sinar Mas bakal lunas pada 2010. Total asset perusahaan Sinar Mas yang sudah terdaftar di pasar saham juga mengalami peningkatan menjadi US$11,2 miliar. Jumlah karyawan pun bertambah dari 200.000-an karyawan menjadi 300.000-an.
Selain restrukturisasi utang, Sulis juga berperan dalam melakukan re-organisasi Sinar Mas. Sejak didirikan pada 1959 oleh Eka Tjipta, Sinar Mas dengan cepat beranak-pinak lalu menjelma menjadi holding company dengan ratusan anak usaha. Eka Tjipta, sebagai Chairman, merupakan penentu dari setiap keputusan bisnis.
Pada tahun 2003, Sinar Mas melakukan perubahan organisasi. Mereka membubarkan holding company dan menggantinya dengan President Office yang dipimpin oleh Sulis. Lalu, semua anak usaha dikelompokkan dalam empat divisi, yakni divisi pulp & paper yang dipimpin Teguh Ganda Widjaja, putra sulung Eka Tjipta, divisi properti dan real estate dinakhkodai Muktar Widjaja, divisi agribisnis dipegang Franky Widaja, dan divisi jasa keuangan yang dikelola Indra Widjaja. Di President Office, Sulis bertugas memelihara sinergi dari empat divisi tersebut.
Sinar Mas adalah kelompok usaha yang beruntung lantaran merekrut eksekutif profesional sebelum krisis. Kelompok usaha lain yang memperoleh keuntungan serupa adalah Olympic Group. Di sana ada Eddy Gunawan yang menjadi CEO pada saat krisis 1998. Kala itu utang Olympic menggelembung sepuluh kali lipat dari penjualannya. Kelompok usaha yang didirikan oleh Au Bintoro ini pun limbung. Eddy maju ke depan. Ia mewakili pemilik perusahaan bernegosiasi dengan 23 kreditur. “Saya diberi kewenangan penuh untuk mengambil keputusan-keputusan strategis yang menyangkut perusahaan, tak ada intervensi sedikit pun dari pemilik,” kata Eddy, yang bergabung dengan Olympic Group sejak 1986 dan memulai karir sebagai staf akunting. Proposal restrukturisasi Olympic pun disetujui para kreditur dan perusahaan pun dapat terus beroperasi. Kini, Olympic mampu menghasilkan 3 juta unit produk furnitur knock down per tahun, alias yang terbesar di Indonesia.
***
Perusahaan lain yang merasakan manfaat dari kehadiran profesional adalah APG dan Blue Bird Group (BBG). Menurut Trihatma K Haliman, Chairman dan pemilik APG, skala bisnis yang semakin besar mengharuskan ia merekrut profesional yang memiliki kinerja mumpuni. Saat ini APG mengelola 52 proyek yang masing-masing bernilai triliunan rupiah. “Saya tidak mungkin bisa menjalankan bisnis seorang diri, karena itu saya butuh bantuan profesional,” ujarnya.
Trihatma menambahkan, meskipun perusahaannya milik keluarga bukan berarti harus dikelola oleh anggota keluarga.”Saya akan memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki kemampuan,” cetusnya. Agar perusahaannya terus bertahan dan semakin berjaya, ia berencana membawa APG ke lantai bursa dalam waktu dekat. Kemajuan Blue Bird hingga menjadi perusahaan taksi terbesar di Indonesia menurut Purnomo Prawiro, pemilik sekaligus Presiden Direktur BBG juga tak lepas dari peran seorang profesional bernama Handang Agusni.
Handang bergabung di BBG sejak 1979. Ia memulai kariernya sebagai karyawan biasa dan rajin mempelajari semua hal yang ada di BBG, seperti urusan bengkel, teknik hingga administrasi. Itu membuat Handang menguasai semua seluk beluk perusahaan ini. “Dia loyal dan tahu semua “isi perut” Blue Bird,” kata Purnomo.
Sebagai eksekutif profesional yang sangat memahami BBG, Handang dipercaya untuk membenahi sistem di perusahaan. Ia kemudian membuat aturan hari libur dan sistem lembur. Sistem internal yang kondusif membuat BBG terus berkembang. Ini tercermin dari jumlah taksi BBG yang ketika Handang bergabung baru 400-an, kini sudah lebih dari 12.000 unit.
Kinerja Handanglah yang menghantarkannya ke posisi direktur. Sebagai orang kedua di BBG, Handang ditugaskan mengawal BBG untuk go public. ”Saya diminta mengawal rencana IPO Blue Bird dalam dua-tiga tahun ke depan,” cetus Handang. Selain itu, dia juga diminta membawahi dan membimbing empat vice-president yang notabene merupakan anggota keluarga pemilik.

***
Meski kehadiran CEO dari luar mempunyai dampak positif bagi perusahaan, itu tak serta merta membuat keluarga menerima begitu saja. Resistensi tetap terjadi. Mengapa?
Menurut AB Susanto, Managing Partner JCG, pada 2004 mereka melakukan survei terhadap 87 perusahaan keluarga di Indonesia. Hasil survei menunjukkan mayoritas pemilik ingin agar anak-anak merekalah yang mengelola perusahaan. Begitu pula dengan anak-anak pemilik, mereka ingin bekerja di perusahaan keluarganya. Fakta inilah yang menjadi pemicu resistensi. Padahal resistensi bukan hanya datang dari keluarga pemilik, tapi juga eksekutif yang telah lama bekerja di perusahaan tersebut.
Inilah yang dialami oleh Sulis. Dia menyadari posisinya sebagai president office berpotensi memunculkan kecemburuan, baik dari anggota keluarga maupun professional lain. Sulis berusaha untuk meredamnya, dengan tidak melakukan tugas di luar kewenangannya. “Biasanya konflik itu muncul kalau kita sudah merasa besar dan menabrak batas. Saya tahu tugas saya di sini” ujarnya.
Handaka juga menyadari adanya resistensi dari karyawan lain, karena dia bukan profesional yang merintis karir dari awal di APG,. Namun, Handaka tidak ambil pusing. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan kepercayaan dari pemilik dan menunjukan kinerja yang baik.
Saat Handaka bergabung dengan Senayan City pada 2005, ia dibebani target berat. Pertama, ia harus bisa membuat proyek yang bertahun-tahun macet selesai tepat waktu. Kedua, mengubah citra proyek mangkrak ini, hingga disukai oleh tenant maupun konsumen. Memenuhi target ini tidak mudah, terlebih karena persis di seberang Senayan City ada Plaza Senayan yang juga membidik pasar menengah atas. Selain itu, analis properti menilai pusat perbelanjaan saat itu sudah kelebihan pasok, sehingga ada beberapa yang tutup. Tapi, akhirnya Handaka mampu menarik tenant-tenant ternama seperti Zara, Massimo Dutti, dan Raoul. Kini pengunjung Senayan City bisa mencapai 80.000-90.000 orang perhari.

***
Menyimak kisah Handaka Santosa, Gandi Sulistiyanto, Eddy Gunawan dan Handang Agusni, Fortune Indonesia menemukan adanya beberapa kesamaan dari CEO atau eksekutif profesional yang dipercaya untuk memimpin dalam perusahaan keluarga.
Pertama, loyalitas. Loyalitas tidak hanya tercermin dari lama mereka bekerja, tapi juga kesetiaan untuk bertahan, terlebih ketika perusahaan sedang menghadapi masa-masa sulit.
Kedua, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan. Misalnya, saat perusahaan menghadapi masalah finansial serius. Kala itu terjadi, mereka tidak angkat kaki dan pindah ke perusahaan lain, tapi membantu menyelesaikan masalah.
Ketiga, harus mampu membawa perubahan yang signifikan bagi perusahaan. Sulis dan Eddy mampu menyelesaikan utang perusahaan. Sulis bahkan mengubah organisasi dari holding company ke president office. Handaka mampu menghidupkan kembali proyek Senayan City yang macet. Handang diminta mengawal BBG untuk go public.s
Keempat, bisa diterima seluruh anggota keluarga. Malah ada pula profesional yang mendapat kepercayaan lebih besar, yakni membimbing anggota keluarga agar kelak mampu memimpin perusahaan. Ini dialami oleh Sulis, Handang, dan Eddy. “Saya juga ditugasi membimbing generasi ketiga, agar mereka memahami sejarah dan filosofi perusahaan agar bisa mempertahankan eksistensi grup ini,” ungkap Sulis.
Eddy pun begitu. Saat ini, Olympic sedang menjalani masa transisi. “Anak Pak Au dan adiknya tengah belajar agar mampu mengelola perusahaan,” kata Eddy.
Begitulah, memang tak mudah menjadi eksekutif profesional di perusahaan keluarga.

KUNCI SUKSES PROFESIONAL DI PERUSAHAN KELUARGA
Loyal dan Menjaga Kredibilitas
Mereka bukan tipe kutu loncat. Gandi Sulistiyanto, Handang Agusni dan Eddy Gunawan bisa mencapai posisinya setelah lebih dari 10 tahun bekerja.

Tidak lari ketika perusahaan menghadapi masalah.
Eddy dan Gandi berada di garda depan bertemu dengan para kreditur untuk meminta restrukturisasi utang.

Mampu membawa perubahan yang signifikan pada perusahaan.
Handaka menghidupkan kembali proyek yang macet dan beroperasi tepat waktu. Gandi dan Eddy berhasil membuat perusahaan selamat dari krisis. Handang membuat sistem administrasi dan personalia umum yang sesuai dengan ketenagakerjaan.

Tulisan ini dimuat di Majalah Fortune Indonesia edisi perdana

Blog Yang Tidur

Yup itu kalimat yang pas untuk blog ini. Kenapa? Sebab sudah berbulan-bulan blog ini tak diisi postingan apapun. Kenapa???sibuk? Ngak juga? Bingung mau nulis apa? Ngak juga. Terus apa dong???wah susah juga jawabnya pertanyaan diri sendiri….hehehehehehehe…

Investasi Timur Tengah: Mereka Menyerbu Bisnis Telekomunikasi

Tulisan ini aku tulis pada Pertengahan 2009 lalu.

Tiga investor Timur Tengah membeli saham tiga operator selular: XL, Indosat, dan Axis. Mereka siap bertarung habis-habisan untuk menggoyang dominasi Telkomsel. Mampukah?

Teropong para investor dari Jazirah Arab kini bergeser ke Asia, dengan Indonesia menjadi salah satu fokusnya. Boom harga minyak bumi sepanjang 2008 membuat likuiditas negara-negara di kawasan Timur Tengah itu melimpah ruah. Sementara itu, nasib investasi mereka selama ini di Eropa dan AS justru terpangkas habis—apalagi setelah AS diguncang krisis ekonomi akibat skandal subprime mortgage. Maka, mau ke mana lagi pilihannya kalau bukan Asia?

Dana Moneter Internasional alias IMF pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia sepanjang tahun ini masih berkisar di angka 4,9%. Ini bukan angka yang terlalu tinggi, tetapi cobalah bandingkan dengan AS atau sejumlah negara di Eropa yang tahun ini diperkirakan tidak akan mencatat pertumbuhan ekonomi positif.

Oke, kalau memang Asia lebih menjanjikan. Namun, bisnis apa yang menguntungkan? Sektor telekomunikasi, itulah yang dibidik oleh para investor dari negara petrodolar. Saat ini setidaknya ada empat investor asal Timur Tengah yang menanamkan dananya di sektor telekomunikasi Indonesia. Mereka adalah Etisalat, Saudi Telecom Company, Qatar Telecom (Qtel), dan Jerash Investment Ltd.

Menurut Mohammed Omran, chairman Etisalat, pertumbuhan pasar telekomunikasi selular Indonesia merupakan salah satu yang tercepat dan terbesar di dunia. Itu sebabnya Etisalat mau merogoh koceknya untuk membeli 15,97% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) milik kelompok Rajawali pada Desember 2007 silam. Nilainya US$438 juta. “Investasi ini merepresentasikan strategi ekspansi Etisalat ke Asia,” katanya seperti dikutip dari

http://www.midle-east-online.com, Rabu, 12 Desember 2007. Dengan membeli saham XL, raksasa telekomunikasi dari Uni Emirat Arab (UEA) itu kini resmi beroperasi di 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Pada 2008 lalu Etisalat berhasil meraih pendapatan bersih Dhs26,119 miliar atau setara dengan Rp83,5 triliun dan laba bersih Dhs8,665 miliar (Rp27,5 triliun dengan kurs Rp3.200 per Dhs, mata uang UEA).

Saudi Telecom Company (STC) masuk ke Indonesia pada 2007 dengan membeli saham PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) dari Maxis Communication Berhad. Perusahaan telekomunikasi asal Malaysia itu sebelumnya sempat menguasai 95% saham Natrindo. STC lalu mengambil alih 51% saham Maxis di Natrindo. Sebelumnya, STC juga membeli 25% saham Maxis.

Kini, komposisi pemegang saham di NTS adalah STC (51%), Maxis Communications (44%), dan sisanya (5%) dimiliki perusahaan lokal. Patut dicatat, hanya di Indonesia sajalah STC berani mengambil porsi mayoritas dalam sebuah bisnis, khususnya di luar Arab Saudi. Di Kuwait, STC hanya memiliki 26% saham Kuwaiti Telecom Co. Ltd. Begitu juga di UEA, STC hanya memiliki 35% saham Oger Telecom—perusahaan telekomunikasi di sana. Kemudian di Malaysia, STC hanya memiliki 25% saham Binariang GSM Sdn. Bhd.

Di Indonesia, STC—melalui NTS—meluncurkan layanan selular GSM dan 3G dengan merek Axis, yang mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera. Saat ini Axis tengah gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah di Indonesia. Menurut laporan keuangan STC per Desember 2008 (unaudited), perusahaan yang sahamnya 100% dimiliki oleh Kerajaan Saudi Arabia itu berhasil meraup pendapatan bersih 11,04 miliar riyal atau setara dengan Rp35,3 triliun (kurs Rp3.200 per riyal). Jumlah pelanggan STC pada 2007 mencapai 28,4 juta, pada 2008 sekitar 33 juta, dan pada 2009 ditargetkan mencapai 38,8 juta.

Adapun Qatar Telecom (Qtel) masuk ke Indonesia melalui PT Indosat Tbk. Pada 6 Juni 2008, Qtel membeli seluruh saham Singapore Technologies Telemedia (STT) Pte. Ltd. di Indosat dengan harga premium. Saat itu harga saham Indosat di pasar Rp5.650 per lembar, tetapi Qtel membelinya senilai Rp7.388. STT sendiri memiliki 40,82% saham di Indosat. Untuk membeli saham itu, Qtel merogoh kocek sebesar US$1,8 miliar atau setara dengan Rp16,74 triliun.

Baru-baru ini Qtel berhasil meningkatkan kepemilikannya di Indosat menjadi 65%. Peningkatan itu diperoleh melalui dua penawaran tender secara serentak di Indonesia dan AS yang berakhir pada 18 Februari lalu. Dari penawaran ini, Qtel berhasil mengumpulkan 1,314 miliar saham Indosat. Dalam siaran persnya Kamis (26/2) lalu, Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al-Thani, chairman Qtel Group, mengatakan pembelian saham Indosat ini untuk mendorong visi perusahaan yang ingin menjadi 20 besar perusahaan telekomunikasi dunia.

Sebagai operator selular terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6% pangsa pasar selular GSM di negeri ini. Dengan 36,5 juta pelanggannya, bukan tidak mungkin Indosat akan menjadi salah satu andalan Qtel di masa mendatang. “Kami selalu mengatakan bahwa visi kami adalah menjadi salah satu dari 20 operator telekomunikasi terbesar dunia pada 2020, dan salah satu kunci utama strategi kami adalah terus memperluas operasi kami di pasar-pasar Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara yang tumbuh cepat,” ujarnya.

Paling anyar adalah aksi investor Timur Tengah membeli PT Mobile-8 Telecom Tbk. (Fren). Kini, sekitar 32,06% saham Mobile-8 dimiliki Jerash Investment Ltd., perusahaan asal Dubai, UEA. PT Global Mediacom Tbk. telah menjual Fren kepada Jerash pada September 2008 lalu senilai Rp659,49 miliar. Global Mediacom tinggal menyisakan 18,94% saham Fren. Selebihnya, sebanyak 49% saham Fren, dimiliki pemegang saham publik.

Siapa Jerash Investment Ltd.? “Konon katanya perusahaan besar,” ujar Merza Fachys, director & chief corporate affairs PT Mobile-8 Telecom Tbk,. Namun, sulit sekali melacak track record Jerash Investment di Dubai. Pihak Dubai International Financial Center Authority (DIFC) mengaku tidak tahu-menahu tentang Jerash Investment. “Saya tidak tahu apa pun tentang mereka,” ujar David Eldon, chairman DIFC, dalam surat elektroniknya kepada Warta Ekonomi.

Makin Banyak yang Berdatangan

Di masa mendatang masih akan banyak investor Timur Tengah yang masuk ke industri telekomunikasi di Indonesia. Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan ada beberapa pemain dunia di industri telekomunikasi yang berminat masuk ke Indonesia. “Saya dengar ada yang melalui akuisisi, tetapi masih belum diakui oleh operator dalam negeri. Dari Timur Tengah juga banyak dan sedang negosiasi dengan beberapa operator yang sedang memiliki masalah keuangan,” ujarnya. Sayang, Heru menolak menyebutkan siapa saja investor asal Timur Tengah itu.

Salah satu investor yang sudah menyatakan minatnya adalah Capital Investment Group (CIG) International. Husam Salman Al Ameri, direktur CIG, saat berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2008 mengatakan pihaknya berminat membeli tiga besar perusahaan telekomunikasi di Indonesia. “Kami cari perusahaan yang membukukan keuntungan paling besar,” katanya, seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di istananya, Kamis, 23 Oktober 2008 silam.

Hasnul Suhaimi, presdir XL, menilai fenomena banyaknya investor Timur Tengah menyerbu pasar telekomunikasi Indonesia tak lebih karena melihat keuntungan yang menjanjikan. “Mereka lihat bisnis telekomunikasi di Indonesia masih terus tumbuh dan sangat prospektif, sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di sektor ini,” ujar Hasnul.

Basuki Yusuf Iskandar, dirjen Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika, menyambut positif hadirnya para investor asal Timur Tengah. Pria peraih gelar Doctor of Philosophy (Management of Technology) dari Vanderbilt University, AS, itu berharap investor Timur Tengah ini tidak hanya meramaikan bisnis telekomunikasi saja, tetapi juga industri pendukungnya, seperti konten, perangkat, dan peralatannya. “Mudah-mudahan bisa menjadi satu stimulus pertumbuhan manufaktur di industri telekomunikasi dan juga pengembangan software development serta local content,” harapnya.

Sejak dimiliki STC, Heru melihat Axis berubah secara signifikan. Mereka kini agresif membangun infrastruktur dan gencar melakukan pemasaran. “Ketika STC datang, mereka cepat sekali membangun network di mana-mana, bahkan sampai memiliki gedung baru,” ungkapnya.

Sebelum STC masuk, Axis hanya beroperasi di Jawa. Kini, layanan Axis dapat dinikmati di lebih dari 90 kota di Indonesia. Wilayah operasi Axis menjangkau Jawa Timur, Jawa Barat, Jabodetabek, Banten, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Jaringan mereka ditopang oleh 3.700 BTS dan diaktivasi oleh lebih dari 3 juta pelanggan. Sejak September 2007 sampai Desember 2008, dana yang mereka gelontorkan untuk memperluas jaringan mencapai US$1 miliar.

Erik Aas, presdir NTS, menyebutkan pihaknya berkomitmen untuk menambah BTS hingga 8.000 unit pada 2010. “Coverage layanan merupakan persoalan yang sensitif di layanan selular. Itu sebabnya kami akan memperbanyak BTS untuk memperluas coverage,” katanya. Selama 2009 Erik menargetkan pertumbuhan pelanggan 100%, atau menjadi 6 juta. Dia juga menegaskan bahwa NTS berambisi menjadi pemimpin pasar. Akankah mimpi NTS tercapai?

Menurut Heru, untuk menggeser Telkomsel sebagai penguasa pasar bukan sesuatu yang mustahil, meskipun tidak mudah. Butuh waktu, teknologi yang andal, dan modal yang kuat. “Memang butuh waktu juga bagi investor asal Timur Tengah ini. Mereka tidak bisa begitu masuk lalu langsung menjadi besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Dian Siswarini, sekjen Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), berpendapat masuknya pemodal dari Timur Tengah ini tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi Indonesia. Menurut Dian, peta bisnis telekomunikasi akan tergantung pada bagaimana operator menentukan strategi dan mengambil langkah agar bisa memenangkan pasar yang sangat kompetitif. “Siapa pun investornya, pemenang kompetisi adalah operator yang cerdik membaca situasi dan bisa beradaptasi dalam situasi ekonomi yang menantang,” cetusnya.

Suryatin Setiawan, mantan direktur PT Telkom, juga tidak terlalu yakin pemodal dari Timur Tengah akan bisa memengaruhi peta pasar bisnis telekomunikasi Indonesia. Pasalnya, secara fundamental, posisi Telkomsel terbilang kuat. Anak usaha PT Telkom Tbk. itu didirikan pada 1998, di saat Indonesia sedang mengalami krisis. Kala itu tidak ada operator telekomunikasi yang mau berinvestasi, kecuali Telkomsel. Ini membuat Telkomsel lebih unggul dari segi coverage, infrastruktur, teknologi, dan pelanggan. “Ini sudah 10 tahun lebih sejak krisis. Jadi, saya rasa sulit untuk memperkecil gap. Ke depan, Telkomsel akan tetap mendominasi pasar,” ujar Suryatin.

Pandangan serupa dilontarkan Rudiantara, mantan ketua ATSI dan direktur XL. Menurut dia, akan sulit menggeser posisi Telkomsel, karena mereka memiliki tiga key success factor sekaligus, yakni akses dana, akses teknologi dan regulasi, serta local knowledge. “Tiga hal itu belum tentu dimiliki operator lainnya,” kata Rudiantara.

Hasnul juga mengakui memang sulit menggoyang dominasi Telkomsel. Aliran modal dari Timur Tengah, menurut dia, tak akan membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap peta industri telekomunikasi di Indonesia. “Masuknya pemodal dari Timur Tengah tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi di Indonesia,” papar pria berdarah Minang ini.

Meski posisi Telkomsel tak tergoyahkan, kehadiran para investor Timur Tengah ini tidak bisa dianggap enteng. Apalagi dana mereka melimpah ruah. Sarwoto Atmosutarno, dirut PT Telkomsel, mengatakan persaingan di industri Telekomunikasi sangat ketat dan ia serius meningkatkan kualitas layanan. “Kami menyiapkan belanja modal US$1,3‒1,5 miliar. Ini sinyal kepada pasar bahwa kami serius meningkatkan pertumbuhan melalui quality of service dan sekaligus quantity yang akan kami peroleh,” tegas Sarwoto.

Pernikahan Keluarga Konglomerat: Kolaborasi Bisnis karena Pernikahan.

Tulisan ini aku buat pada pertengahan tahun 2009.

Beberapa anggota keluarga inti konglomerat menjalin ikatan pernikahan dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya. Fenomena ini diperkirakan membuka peluang terjadinya kolaborasi bisnis yang dahsyat antarkonglomerat.

Ungkapan “uang senang berkumpul bersama teman-temannya” rupanya ada benarnya. Setidaknya, ini terlihat dari fenomena beberapa pernikahan yang terjadi antar-anggota keluarga inti konglomerat. Tahun lalu, tepatnya 15 Januari 2008, ballroom Hotel Mulia, Jakarta, digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan anak si pemilik hotel, Eka Tjandranegara. Asal tahu saja, Eka adalah bos Grup Mulia, sebuah konglomerasi di bidang properti, keramik, dan gelas. Eka menggelar resepsi pernikahan anaknya, Ekman Tjandranegara, dengan Lareina Halim Kusuma. Sang mempelai wanita juga bukan perempuan sembarangan. Lareina adalah putri dari Sugianto Kusuma, salah satu tokoh pengusaha di belakang kesuksesan Grup Artha Graha. Kelompok usaha yang dirintis Sugianto bersama taipan Tomy Winata ini bergerak di bidang perbankan, properti, asuransi, dan agrobisnis.

Jadi, boleh dibilang, pernikahan Ekman Tjandranegara dan Lareina Halim Kusuma tergolong istimewa karena merupakan pernikahan antar-anggota keluarga inti konglomerat. Dan, sudah pasti resepsi tersebut didatangi banyak orang penting. Siapa saja tamu-tamunya? Tentu saja pengusaha-pengusaha kakap serta kalangan tokoh politik dan pejabat. Dari kalangan tokoh politik dan pejabat, datang Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Ketua DPR Agung Laksono yang juga politikus Partai Golkar, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung, dan Albert Yaputra, anggota DPR dari Partai Demokrat yang merupakan bekas bendahara tim sukses SBY-JK. Dari kalangan pejabat militer dan kepolisian, hadir Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dan Wakapolri Komjen Pol. Makbul Padmanegara. Petinggi DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Wagub DKI Jakarta Prijanto pun tak ketinggalan memberi selamat kepada kedua mempelai. Sementara itu, pengusaha-pengusaha papan atas yang hadir, di antaranya, adalah Sukanta Tanudjaja, Tong Djoe, Kiki Barki, Soetjipto Nagaria, Prajogo Pangestu, Trihatma Haliman, Hendro Setiawan, Didi Dawis, dan tentunya Tomy Winata.

Masih pada tahun yang sama, perkawinan antar-anggota keluarga inti konglomerat lainnya juga terjadi. Prajna Murdaya, anak dari pasangan konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo dan Siti Hartati Tjakra Murdaya (bos Grup Central Cipta Murdaya), menikah dengan Irene Tedja, anak dari pasangan konglomerat Alexander Tedja dan Melinda Tedja (pemilik Grup Pakuwon). Seperti diketahui, pasangan Murdaya Poo dan Siti Hartati Murdaya bukan hanya pengusaha besar, tetapi juga aktif di dunia politik dan sosial kemasyarakatan. Murdaya adalah salah satu ketua DPP PDIP yang juga duduk sebagai anggota DPR, sedangkan istrinya, Siti Hartati, adalah ketua umum DPP Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan ketua umum Yayasan Kepedulian Sosial Paramita. Berbeda dengan suaminya, Siti Hartati belakangan diketahui lebih dekat dengan Partai Demokrat.

Jadi, tidak mengherankan jika banyak tokoh politik, pejabat, dan pengusaha besar yang menghadiri resepsi pernikahan Prajna dan Irene, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga mantan presiden. Beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga datang, seperti Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menkominfo Mohammad Nuh, dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.
Tidak sedikit orang menilai resepsi pernikahan Prajna dan Irene, yang dihelat pada 27 Juli 2008 di arena Jakarta International Expo Pekan Raya Jakarta, merupakan pernikahan yang spektakuler. Tempat resepsi malam itu menggunakan dua gedung dengan kapasitas masing-masing mampu menampung hingga 5.000 orang. Ada enam ratus meja yang disediakan untuk menjamu 6.000 tamu undangan dengan konsep gala dinner. Masing-masing meja memuat 10 kursi. Para tamu tidak perlu bingung memilih meja. Begitu masuk lobi gedung, tersedia resepsionis dengan puluhan komputer untuk meregistrasi para undangan. Mereka langsung mendapatkan nomor meja dan diantar oleh petugas penerima tamu.

Gedung tempat resepsinya didekorasi bergaya Eropa dengan warna kuning gading dipadu ukiran Jepara warna emas. Namun, yang membuat takjub tamu undangan adalah dekorasi pelaminannya. Di belakang kursi pelaminan, terdapat replika mini Candi Borobudur tiga dimensi. Miniatur yang memiliki panjang sekitar 30 meter dan tinggi yang hampir menyentuh atap gedung tempat resepsi itu benar-benar mirip aslinya, baik dari sisi bentuk maupun konfigurasi warnanya. Biaya pembuatannya lebih dari Rp1 miliar. Lalu, untuk menjamu tamu undangan, didatangkan 100 koki dari berbagai hotel dan restoran di Jakarta dan bahkan ada pula koki yang khusus dihadirkan dari Thailand.

Jauh sebelum itu, empat tahun silam, tepatnya 18 Juni 2005, James T. Riady, generasi kedua Grup Lippo, menggelar resepsi pernikahan putri sulungnya, Caroline Riady, dengan Soeharto Djojonegoro. Siapa besan James Riady? Dia adalah Hamid Djojonegoro, pemilik Grup ABC dan Orang Tua. Soeharto merupakan putra sulung Hamid. Kala itu, kedua mempelai mengundang ribuan tamu untuk menghadiri pesta resepsi di Jakarta Convention Center. Untuk menghindari terik matahari, tenda putih dipasang antara area parkir hingga gedung. James dan Hamid diketahui merupakan kawan akrab yang menjadi anggota jemaat gereja yang sama.

Beberapa nama anggota keluarga inti konglomerat yang menikah dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya adalah Grace L. Katuari (Grup Wings) dengan Martin B. Hartono (Grup Djarum) dan Lanny Angkosubroto (Grup Sewu) dengan Trijono Gondokusumo (Grup Dharmala).

Kolaborasi Bisnis

D. Ganjar Sidik, managing director PT Data Consult, menilai perkawinan antar-anak konglomerat ini tidak terlepas dari budaya serta lingkungan di antara mereka. Namun, Ganjar juga tidak menampik munculnya kemungkinan bahwa pernikahan antar-anak konglomerat sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa jadi para konglomerat itu sengaja saling menjodohkan putra-putri mereka hingga kemudian mereka menikah dan membina rumah tangga. Tujuannya, selain memperlebar jaringan relasi bisnis, juga diharapkan bisa menjalin kemitraan strategis di dunia bisnis antara dua kelompok usaha yang berbeda.

Sinyalemen itu diperkirakan terjadi pada pernikahan Grace L. Katuari dan Martin B. Hartono. Grace adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Wings, sementara Martin B. Hartono adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Djarum yang kini menjabat sebagai direktur HRD PT Djarum. Entah disengaja atau tidak, selain terjadi hubungan keluarga karena pernikahan itu, Grup Wings juga melakukan kolaborasi dengan Grup Djarum di sejumlah proyek prestisius. Tahun 2000, Grup Wings bergabung dalam konsorsium bersama Grup Lautan Luas dan Grup Djarum untuk membeli PT Ecogreen Oleochemicals, salah satu perusahaan produsen oleochemical (termasuk natural fatty alcohol) terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi mencapai 180.000 metrik ton/tahun dan total penjualan US$214 juta (2007). Oleochemical merupakan bahan baku industri perawatan tubuh, sabun, detergen, makanan, plastik, farmasi, dan lain-lain. Dahulu Ecogreen merupakan salah satu aset blue chip milik Grup Salim (Salim Oleochemicals), tetapi kemudian terpaksa dilepas ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebagai bagian dari penyelesaian masalah penggunaan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Selain itu, kolaborasi Grup Wings dan Grup Djarum juga terjadi di bidang properti. Atas nama PT Nagaraja Lestari, keduanya membangun properti ritel komersial Pulogadung Trade Center. Dalam menggarap proyek properti prestisius Grand Indonesia (dahulu Hotel Indonesia), Grup Djarum dikabarkan juga menjalin kerja sama dengan Grup Wings.

Namun, Ganjar menilai tidak selamanya pernikahan antar-anggota keluarga inti dua konglomerat ini bisa menghasilkan suatu proyek baru atau bisnis baru. Sebab, umumnya generasi ketiga dari masing-masing konglomerat memiliki gaya bisnis yang berbeda dari pendahulu-pendahulunya. Generasi pertama umumnya berasal dari pedagang. Generasi kedua berusaha untuk memperluas sayap bisnis perusahaan dengan memasuki berbagai sektor industri dan membangun pabrik serta melahirkan proyek baru. Adapun generasi ketiga umumnya tidak lagi membangun, tetapi mengakuisisi atau membeli saham perusahaan yang telah ada. “Jadi, gaya investasi generasi ketiga berbeda. Makanya saat ini agak sulit untuk memetakan proyek-proyek apa saja yang bisa dihasilkan dari pernikahan antar-anak konglomerat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Erwin Aksa, putra mahkota dari kerajaan bisnis Grup Bosowa, mengakui sejumlah pengusaha besar memiliki hubungan pertemanan yang cukup akrab. Mereka juga terkadang memiliki kesamaan visi bisnis. Alhasil, hubungan pertemanan yang akrab dan kesamaan visi bisnis itu kemudian dapat berlanjut kepada hubungan ikatan persaudaraan atau kekeluargaan karena keturunan mereka masing-masing kemudian menjalin ikatan pernikahan. Cuma, Erwin melihat hubungan keluarga yang terjadi antara dua pengusaha besar karena pernikahan antar-anggota keluarga inti tidaklah selalu menghasilkan sebuah kolaborasi bisnis yang dahsyat. Justru ia menilai yang terpenting adalah tanggung jawab generasi penerus untuk melanjutkan cita-cita pendiri kelompok usaha, yaitu mau kerja keras, berkeringat, dan turun langsung ke lapangan. “Dalam keluarga kami sendiri, tidak ada paksaan untuk menikah dengan siapa pun,” ujar pria yang kini menjabat sebagai CEO Grup Bosowa itu.

Debitur Nakal Dikejar Dengan Cara Apapun

Untuk mengurangi kerugiannya, Bank Mandiri akan mengejar para debitur nakal dengan cara apapun.

Pada tahun 2005 lau, saat manajemen baru di bawah pimpinan Agus Martowardoyo dibentuk, Bank Mandiri langsung membuat gebrakan dengan megumumkan nama debitor kakap yang kreditnya macet. Debitor tersebut dikelompokkan dalam beberapa kasta mulai dari yang tidak memiliki iktikad baik, belum memiliki iktikad baik, mulai memiliki iktikad baik, dan sudah memiliki iktikad baik.

Di 2009 ini, Bank Mandiri kembali menunjukan taringnya dengan memburu para debitur kakap bermasalah. “Utang harus dibayar. Akan kami kejar dengan cara apapun!” tegas Abdul Rachman, direktur special asset management Bank Mandiri. Pria peraih gelar master business administration (MBA) dari Kansas State University, Amerika Serikat ini, mengatakan bahwa pihaknya akan bertindak tegas menyelesaikan kredit macet yang tidak jelas penyelesainnya, termasuk membawa ke meja hijau. “Kita harus berani tegas. Ini untuk mengurangi kerugian bank,”ucapnya.

Saat ini setidaknya ada lima debitur kakap yang proses penyelesaian utangnya sedang dikejar oleh Bank Mandiri. Kelimanya adalah Suba Indah, Dewata Royal, Garuda Indonesia, Djajanti Group, dan Buana Indah Group.

PT Suba Indah Tbk saat ini berstatus pailit dan memiliki utang Rp 1,39 triliun. Bank Mandiri telah memperoleh Rp 34,4 miliar dari hasil lelang aset non-boedel pailit. Lalu pada 12 Agustus 2009 dilakukan lelang aset dan berhasil mengumpulkan dana Rp 120 miliar. Dari kedua lelang itu Bank Mandiri akan mendapat bagian sekitar Rp 80 miliar. Namun, hasil lelang tersebut belum menutup kewajiban Suba Indah. Kelompok usaha keluarga Tjokrosaputro ini masih terlilit utang Rp 1,28 triliun.

Perusahaan lain yang terkait dengan Suba Indah adalah PT Primayudha Mandirijaya dan PT Hanson International Tbk. Pada 2008 lalu, Bank Mandiri berhasil memperoleh pelunasan kredit dari PT Primayudha Mandirijaya sebesar Rp 217 miliar. Sedangkan utang PT Hanson International Tbk, perusahaan yang bergerak dalam bisnis batu bara dan telekomunikasi sebesar Rp 152,5 miliar masih belum terbayar. Bank Mandiri berkomitmen terus menagih kewajiban kepada debitur-debitur milik keluarga Tjokrosaputro ini, yaitu Benny Tjokrosaputro, Teddy Tjokrosaputro, dan Dicky Tjokrosaputro.

Sebagai informasi, Dicky Tjokrosaputro salah satu debitur yang diburu Bank Mandiri dan merupakan presiden direktur PT Power Telecom (PowerTel), perusahaan yang bergerak dibidang infrastruktur telekomunikasi khususnya penyedia infrastruktur backbone dan backhaul yang berbasis serat optik. Pada 2008 Dicky pernah mengungkapkan bahwa ia menargetkan perusahaannya bisa menjangkau seluruh wilayah nusantara. “Saya ingin jaringan serat optik PowerTel) bisa mencapai Sumatera dan pulau-pulau lainnya,” ujarnya kala itu. PowerTel ternyata terkait dengan keluarga besar Cikeas. Adik Ibu Negara Ani Yudhoyono, Hartanto Edhie Wibowo didapuk menjadi komisaris utama di PT PowerTel.

Meskipun salah satu debitur Suba Indah ada yang terkait dengan Cikeas, Bank Mandiri tidak akan mundur dalam menagih utang. “Suba Indah itu harus dikejar lagi. Utangnya masih besar, masih banyak. Ya tentu kita masih tagih terus.Kami akan kejar dengan cara apapun,” ujar Abdul.

Sementara untuk menyelesaikan utang Garuda Indonesia sebesar Rp 1 triliun, proses yang dipilih adalah mengonversi mandatory convertible notes menjadi kepemilikan. Sedangkan untuk Domba Mas, Bank Mandiri memilih proses restrukturisasi dengan mengundang investor baru. Kini, Bank Mandiri masih menunggu investor baru.

Ke Meja Hijau

Dalam mengejar penyelesaian kredit bermasalahnya, Bank Mandiri juga tidak segan-segan membawanya ke meja hijau. Hingga saat ini tercatat dua perusahaan yakni Djajanti Group dan Dewarta Royal yang digugat di pengadilan. Untuk Djajnti Group misalnya, Bank Mandiri sampai menggugat Burhan Uray dan Sujono Varinata yang bertindak sebagai penjamin utang PT Biak Minajaya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Burhan Uray tak lain adalah pendiri Djajanti Group, sedangkan Sujono pemegang saham Biak dan Ultimate shareholder Djajanti Group.

Pada 22 Oktober lalu telah digelar sidang pertama di mana pihak tergugat I yakni Burhan Uray menyampaikan jawaban atas gugatan Bank Mandiri. Dalam surat jawaban tersebut tergugat I menolak gugatan karena dianggap prematur sehingga PN Jakarta Pusat dianggap tidak berwenang mengadilili perkara tersebut. Total utang yang harus dilunasi keduanya mencapai US$18,6 juta dan akan terus bertambah karena adanya bunga, denda, dan biaya-biaya lain sampai seluruh utang dilunasi.

Bank Mandiri juga akan menempuh jalur hukum untuk mengejar aset PT Dewata Royal International yang memiliki utang senilai US$ 22,16 juta. Sejak 30 November 2007 perusahaan perhotelan itu sudah dinyatakan macet. Dewata menolak jika utangnya dihitung dalam dollar AS.

Sementara itu, untuk penyelesaian utang Benua Indah Group (BIG) menurut Wiseto Baroto senior vice president credit recovery I Grup Bank Mandiri, penyelesain utangnya telah telah ditangani Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Perusahaan milik Budiono Tan ini memiliki dua divisi yakni Perkayuan dan Perkebunan. Beberapa perusahaan yang tergabung dalam divisi perkayuan adalah PT Benua Indah, PT Benua Multi Lestari Adhesive, PT Novopan Indotama, PT Kartika Kapuas Sari dan PT Tawang Meranti. Sementara di divisi perkebunan terdiri empat perusahaan yaitu PT Subur Ladang Andalan, PT Bangun Maya Indah, PT Duta Sumber Nabati dan PT Antar Mustika Segara.

Total kewajiban BIG sendiri mencapai Rp988,5 miliar yang terdiri dari kewajiban BIG divisi perkebunan Rp 480,721 miliar atau Rp 528,8 miliar bila dihitung dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk KPKNL sebesar 10% dan divisi perkayuan senilai Rp 459,7 miliar. “Status BIG macet di Bank Mandiri sejak tanggal 18 Desember 2000 untuk divisi perkebunan dan tanggal 28 November 2001 untuk divisi perkayuan,” jelasnya.

Wiseto mengungkapkan, Bank Mandiri telah melakukan berbagai upaya termasuk restrukturisasi beberapakali kredit BIG dan terakhir pada 2003 silam. Namun cara itu dinilai tidak efektif karena debitur tidak dapat memenuhi syarat yang telah disepakati. Kemudian pada 2004 Bank Mandiri memberikan kesempatan kepada BIG untuk mencari investor tetapi tidak membuahkan hasil. Karena tidak menenunjukan iktikad baik, akhirnya Bank Mandiri menyerahkan pengurusan kredit BIG kepada KPKNL pada 2004 untuk divisi perkayuannya. Setahun kemudian BIG divisi perkebunan juga diserahkan kepada lembaga lelang pemerintah itu dilakukan lelang agunan.

Namun, sepertinya BIG tidak begitu saja merelakan aset-asetnya. Pada 2008 BIG mengajukan gugatan perdata ke Bank Mandiri dan KPKNL di PN Jakarta Selatan serta meminta putusan provisional.Gugatan itu sendiri akhirnya dimenangkan Bank Mandiri dan KPKNL melalui amar putusan majelis hakim PN Jakarta Selatan, yang dibacakan 28 Agustus 2008. Atas putusan tersebut, KPKNL melakukan lelang aset BIG pada 20 Maret 2009 lalu namun upaya ini batal, karena BIG mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta. Saat ini kasusnya dalam proses kasasi di Mahkamah Agung.

Pemerintah Juga Harus Bertanggung Jawab

Terkait masalah penyelesain kredit macet, Aviliani pengamat ekonomi INDEF mengatakan pihak bank harus lebih hati-hati dan mengkaji penyebab macetnya kredit tersebut. Apabila penyebab macetnya karena faktor eksternal atau benar-benar tidak mampu membayar karena menurunnya kondisi ekonomi, maka pihak bank harus kooperatif dan melakukan restrukturisasi utang.“Pihak bank jangan asal langsung jual aset sebab di Indonesia ini ada perusahaan yang khusus menangani dana-dana asing yang kerjaannya jual beli persahaan. Nanti takutnya perusahaan yang membeli itu melakukan monopoli,” ujarnya.

Namun, jika memang perusahaan itu sudah tidak bisa beroperasi lagi dan tidak memiliki potensi sehingga kreditnya benar-benar macet maka pihak bank harus menyelesaikan secepatnya. “Sebab kalau makin lama dibiarkan maka bunga makin tinggi maka utangnya makin besar dan makin sulit untuk menutup utang,” cetusnya.

Menyangkut para pengutang kakap yang sulit diajak duduk bersama untuk menyelesaikan kewajibannya dan debitor yang menyalahgunakan dana bank dengan membiarkan perusahaannya bangkrut, perempuan yang juga komisaris independen di BRI ini mengatakan bahwa seharusnya pemerintah ikut bertanggung jawab. Apalagi para debitur-debitur itu umumnya merupakan mantan pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). “Masalah debitur kakap nakal sebetulnya juga tanggung jawab pemerintah. Perusahaan-perusahaan itu tidak pernah di kontrol. Pemerintah jangan hanya menunggu pajaknya saja,” jelasnya.

Seharusnya, kata dia, departemen perindustrian atau perdagaangan harus mengontrol perusahaan termasuk kondisi baik atau tidak, dan harus diketahui juga apakah ada kecurangan atau tidak. Karena itu Departemen Perindustrian dan Departemn Perdagangan harus punya banchmark harga dan rasio dari masing-masing industri yang digeluti perusahaan bersangkutan.

Menurut Aviliani, jika memiliki pembuat kebijakan memiliki banchmark maka akan terlihat bagaimana suatu perusahaan menjalankan bisnisnya dengan baik sekaligus melihat kinerjanya. “Jadi antisipasi perbankan pun bisa sejak dini. Apalagi pelaku usaha itu semuanya bersifat moral hazard. Jadi kecenderungannya jika tidak diawasi maka mereka akan menggunakan uang untuk kepentingan lain. Maka perlu adanya link antardepartemen peindustran dan perdagangan dengan bank,” pungkasnya.

« Older entries Newer entries »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers