Kemilau Kemewahan di Seluruh Indonesia

Selain Jakarta, Indonesia bagian timur, seperti Makassar, merupakan surga baru bagi bisnis barang-barang mewah.

Oleh : Evi Ratnasari

Sebagian orang Indonesia mendapatkan berkah dari kenaikan harga komoditas. Secara ekonomi, pendapatan mereka pun naik mencapai puncak. Uniknya, para orang kaya ini tidak terpusat di ibukota. Sesuai lokasi bisnis, mereka tersebar di luar Jawa.

Pengamat ekonomi Chatib Basri menilai kawasan luar Jawa sangat menjanjikan sebagai sumber pertumbuhan utama di masa mendatang dibandingkan Pulau Jawa, berkat booming harga komoditas seperti kelapa sawit dan batubara. “Orang-orang kaya baru akan banyak ditemui di daerah yang kaya akan sumber daya alam,” cetusnya.
Pendapatan di luar Jawa pun kini lebih tinggi daripada Jawa. Hasil dari Emerging Consumer Survey yang dilakukan Credit Suisse menunjukkan, pendapatan rata-rata penduduk di luar Jawa adalah Rp2,8 juta per bulan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penduduk di Jawa yaitu Rp2,46 juta.

Imbas dari segala berkah ini ternyata luarbiasa.

Siang itu, Fortune Indonesia makan siang di warung ikan bakar di Makassar. Tujuh kipas angin berjelaga hitam berputar di langit-langit Poetre, nama warung tersebut. Kami duduk di bangku kayu yang sudah usang, karena tempat makan sederhana ini sangat legendaris. Di dekat kasir ada setumpuk kertas fotokopian, yang setelah diamati ternyata leaflet penawaran rumah. Berbeda dengan brosur real estate di Jawa yang penuh warna dengan kertas yang tebal, IMB Group menawarkan produk mereka, bernama Modern Estate, dalam dua warna saja. Putih dan biru, untuk rumah tipe 46 dengan dua kamar. Tapi, ini bukan rumah sangat sederhana. Harganya mulai Rp 499 juta per unit.

“Harga rumah di Makassar memang sudah tinggi,” cetus Fadly Rifai Kasim, Direktur Oprasional dan Pengembangan PT Kalla Inti Karsa, yang pindah ke Makassar pada 2009 lalu. Sebelumnya Fadly bermukim di Jakarta selama 12 tahun. Ia berharap di Makassar bisa mendapatkan rumah dengan harga yang jauh lebih murah dari Jakarta. “Ternyata, harga di sini sama dengan Jakarta,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan memang luarbiasa. Tahun lalu, ketika pertumbuhan ekonomi nasional mencatat angka 6,1%, pertumbuhan mereka berkisar 8,1%.

Baruga Asrinusa Development adalah salah satu pengembang di Makassar yang memasarkan rumah di atas satu miliar. Menurut Furqon Affandi, Direktur Operasional Baruga Asrinusa Development, dari sekitar 50 unit yang dibangun sudah 90% terserap pasar. Meroketnya harga komoditas, membuat kesejahteraan masyarakat meningkat. Paska krisis 1998, ujar dia, banyak petani yang menjadi kaya. Saat itu, mereka mengekspor panenan, sehingga mendapatkan dolar amerika. Pada saat bersamaan, dolar menguat 800% terhadap rupiah.

Selama lima tahun belakangan, dolar amerika cenderung melemah, namun animo masyarakat pada rumah mewah di Makassar masih tinggi. Selain Baruga, setidaknya ada dua pengembang besar yang mencoba mencicipi pasar properti kelas atas di sana, yakni Grup Ciputra dan Grup Lippo. Ciputra membangun perumahan kelas atas di lahan seluas 1.000 hektare, dengan rumah seharga Rp800 juta sampai Rp3 miliar. Sedangkan Grup Lippo membangun Cluster Elysium, dengan harga rumah mulai Rp800 juta-an.

Dhevita Lestari, Marketing Executive PT Ciputra Fadjar Mitra yang kami temui saat itu mengatakan, rumah yang harganya hampir Rp3 miliar dari 28 unit yang dipasarkan, hanya tingal dua unit tersisa. “Padahal baru dipasarkan beberapa bulan,”cetusnya.

Pasar otomotif papan atas pun mengalami peningkatan signifikan di Indonesia Timur. Direktur Oprasional PT Hadji Kalla Toyota Main Dealer Hariyadi Kaimuddin memaparkan, pada 2010 lalu penjualan Toyota Alphard di Makassar hanya dua unit. Tapi hingga April 2011 saja perusahaannya sudah mencatatkan penjualan tujuh unit. Haryadi memprediksi tahun ini penjualan Alphard di Makassar bisa mencapai 30 unit jika tsunami Jepang tidak terjadi. ”Sudah banyak yang menanyakan produk itu,” kata Haryadi optimis.

Tentu saja, merek fashion mewah juga mudah dijumpai di Makassar. Agustus lalu pusat perbelanjaan Trans Studio Mall resmi beroperasi. Beberapa gerai seperti Hugo Boss, Tod’s, Francesco Biasia dan Etienne Aigner hadir di upper class department store seluas 24 hektare ini. Jadi, orang berduit di Indonesia Timur tidak perlu ke Jakarta untuk belanja barang bermerek. Menurut Fadly jumlah pengunjung Trans Mall sekitar 8.000-10.000 per hari.
Dan, pembelanja di sini bukan hanya penduduk Makassar. Seorang karyawan Aigner mengaku baru saja melayani pembeli dari Papua. Wanita dengan gelang emas besar itu memilih sebuah tas dan membayarnya dengan uang tunai. “Harganya Rp 13 juta,” tutur si karyawan.

Benar. Pembeli yang berasal dari daerah umumnya memang jarang menggunakan kartu kredit. Namun, dompet tebal mereka tetap menggiurkan bagi para produsen barang-barang mewah.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia, Edisi 17, 2011

Siap Memetik Rezeki Barang Mewah

Pasar barang mewah di Indonesia terbilang kecil. Namun memiliki daya beli yang luar biasa.

Oleh: Evi Ratnasari

Rudi Borgeinheimer begitu optimistis memasuki semester II-2010. Orang nomor satu di PT Mercedes-Benz Indonesia A Daimler Company ini yakin bahwa perusahaannya bisa meraih pertumbuhan luar biasa selama tahun macan kayu. Keyakinan Borgenheimer bukan tanpa alasan. Selama tahun 2008 dan 2009 perusahaannya bisa mencatatkan pertumbuhan penjualan yang signifikan. Padahal, selama dua tahun itu secara global kondisi ekonomi bisa dibilang tidak bersahabat.

Sepanjang tahun 2009 penjualan Mercedes-Benz di Indonesia mencapai 2.884 unit atau naik 19% dibanding tahun sebelumnya. Pangsa pasar perusahaan yang berbasis di Jerman ini meningkat dari 67% menjadi 69%, sekaligus mengukuhkan dominasinya di pasar mobil premium. Untuk tahun ini Rudi berani memancang target ambisius. ”Kami menargetkan pertumbuhan 30%,” tuturnya optimistis.

Tak hanya Mercedes-Benz yang meneguk kesuksesan di 2009. Merek premium lainnya seperti BMW yang didistribusikan oleh Astra juga membukukan kenaikan sebesar 25%. Secara keseluruhan, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil segmen premium termasuk didalamnya Mercedes-Benz, BMW, Audy, Jaguar dan Volvo mengalami pertumbuhan lebih dari 16%, yakni dari 3.598 unit (2008) menjadi 4.190 unit (2009). Peningkatan penjualan mobil premium di saat sulit menunjukkan krisis global tidak menyentuh kalangan berduit. Masyarakat segmen kelas atas tetap jor-joran membeli produk premium. Artinya Indonesia merupakan surga untuk penjualan barang-barang mewah.

Yang mencengangkan lagi dalam acara Indonesia Motor Show 2010 di hari pembukaanya tanggal 23 Juli lalu, Merzedes-Benz SLS AMG yang dibandrol Rp4,179 miliar laku keras bak kacang goreng. Hanya dalam satu hari sudah ada yang memesan sebanyak 40 unit.

Indikator lain yang menunjukkan Indonesia merupakan pasar potensial tercermin dari laris manisnya kondominium bernilai miliaran rupiah di Jakarta. Menurut Utami Prastiana, Associate Director PT Procon Indah, di Jakarta saat ini tersedia 7.000-an unit kondominium mewah dan sudah lebih dari 95% yang diserap pasar.
Pembukaan Global Store Louis Vuitton (LV) di Plaza Indonesia pada Maret 2009 lalu adalah bukti lain bahwa negeri ini merupakan ladang subur bagi luxurious brand. Presiden Louis Vuitton Asia Pasifik, Jean Baptiste Debains, kala itu mengungkapkan keyakinannya bahwa Jakarta merupakan pasar yang besar bagi produk LV.

Amelia Masniari penulis buku Miss Jinjing – Belanja Sampai Mati mengatakan wajar saja LV membuka Global Storenya di Indonesia sebab di Indonesia memang ada penggila merek-merek atau disebut branded freak. Sebagai personal shoper yang sering bersentuhan dengan para penikmat barang mewah ia mengaku pernah membantu salah seorang istri pengusaha di pedalaman Riau untuk membeli produk-produk LV mulai dari sepatu, tas dan aksesoris lainnya. “Segala model produk LV, ia punya,” cetusnya.

Menurut Ami – sapaan akrab Amelia – orang Indonesia mempunyai sifat pantang mati gaya dan pantang kalah. Jika sudah belanja keganasannya seperti ikan piranha. Dalam berbelanja mereka juga tidak pernah berfikir, asal suka mereka akan membeli. Kalau sudah datang ke butik-butik minimal sekitar Rp100 juta uang melayang. Ia menceritakan, pernah membawa rombongan ibu-ibu untuk berbelanja di Italia. Salah satu diantara mereka ada yang ingin membeli Tod’s driving shoes yang digunakan untuk menyetir. Ternyata ibu-ibu yang lain juga berbondong-bondong ikut membeli. Ketika ditanya oleh dirinya alasan ibu-ibu itu membeli dan apakah menyetir mobil, dengan entengnya mereka menjawab tidak dan mau beli saja. “Jadi kalau si A punya mereka juga harus punya. Meskipun barang itu tidak berguna,” ungkapnya.
Kalangan anak muda juga tak kalah gilanya dalam berbelanja barang-barang bermerek. Meski mereka belum memiliki penghasilan tapi memiliki buying power tinggi. Pernah suatu ketika ada ia mengatar sekelompok wanita muda ke suatu butik Bulgari, saat itu ada sebuah jam tangan yang dikerumuni oleh beberapa orang dan ada seoarang remaja usianya baru 20 tahun meminta pendapatnya tentang jam tersebut. Sejurus kemudian remaja itu memutuskan untuk membeli jam tangan seharga US$50.000. “Ia panas karena banyak yang mengerubuti barang itu,” katanya.
Pengamat mode dan gaya hidup Samuel Mulia mengatakan gaya hidup masyarakat Indonesia saat ini semakin hedonis dan ada kebutuhan memenuhi penampilan diri disegmen atas. Orang-orang Indonesia juga mudah sekali untuk “dibujuk” untuk membeli barang atau istilahnya konsumtif. Sifat konsumtif inilah yang membuat mereka menjadi sasaran empuk para pemilik merek premium. “Jadi secara prospek bisnis sangat menjanjikan,’ cetusnya.
Apa yang dikatakan Samuel ada benarnya. Terbukti sektor konsumsilah yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Lantas seberapa besar potensi pasar produk-produk mewah di Indonesia? Menurut pengamat ekonomi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko, besarnya potensi untuk produk mewah bisa dilihat struktur ekonomi Indonesia.

Jika dilihat dari jumlah skala usaha di Indonesia, ujar dia, unit usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia jumlahnya mencapai 99,9%. Sementara unit usaha besar yang notabene dikuasai oleh orang-orang kaya hanya 0,01%. Walaupun jumlahnya kecil, kelompok 0,01% ini menyumbang sekitar 47% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menguasai sekitar 80% ekspor Indonesia. “Meski prosentasenya kecil dibanding jumlah populasi penduduk, daya beli mereka sangat kuat,” ujarnya.

Jumlah kekayaan di segmen premium ini pun terus mengalami peningkatan. Menurut survei Affluent Asian Tracker yang dilakukan HSBC terhadap 2.072 individu segmen premium, berumur 18-65 di Indonesia ada sekitar 50% yang mengalami peningkatan kekayaan dalam enam bulan terakhir. Jika menengok daftar orang terkaya keluaran Forbes 2010 lalu jumlahnya juga semakin bertambah. Jika daftar tahun 2009 hanya memuat lima orang dari Indonesia, tahun ini jumlahnya bertambah jadi tujuh orang. Mereka adalah Michael dan Budi Hartono dengan jumlah kekayaan masing-masing US$3,4 miliar, Martua Sitorus (US$3 miliar), Peter Sondakh (US$2,2 miliar), dan Sukanto Tanoto (US$1,9 miliar). Lalu, Low Tuck Kwong dan Chairul Tanjung masing-masing memilki kekayaan sebanyak US$1,2 miliar dan US$1 miliar. Jika ditotal kekayaan ketujuh orang tadi mencapai US$16,1 miliar atau setara dengan Rp120,8 triliun. Bandingkan dengan total belanja pemerintah dalam APBN yang untuk 2010 nilainya mencapai Rp1.000 triliun.

Tahun ini, banyak kalangan memprediksi pasar barang mewah akan semakin besar. Survei The Nielsen Company Indonesia menunjukkan pada kuartal I-2010 indeks kepercayaan konsumen (IKK) Indonesia menempati posisi tertinggi kedua se-Asia Pasifik, setelah India. Direktur Eksekutif Riset Konsumen Nielsen Catherine Eddy mengungkapkan hasil survei ini mencerminkan bahwa konsumen Indonesia siap berbelanja.

Hasil survei Bank Indonesia juga mengamini hal itu. IKK pada Juni lalu meningkat ke level 111,4 atau naik 1,5 poin dari bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh persepsi masyarakat yang semakin baik terhadap kondisi ekonomi saat ini. Optimisme masyarakat dan meningkatnya jumlah orang kaya jelas merupakan peluang bagi pelaku industri termasuk para pemain di bisnis luxury.

Meski pasar bisnis barang-barang mewah ini menggiurkan, bukan berarti tidak ada aral melintang. Menurut Catherine, salah satu penghambat berkembangnya bisnis luxury di Indonesia adalah pajak barang mewah yang masih tinggi, sehingga harga barangnya semakin melambung. Pajak yang tinggi mendorong konsumen kelas atas Indonesia lebih suka berbelanja di Singapura atau Hongkong. “Ini tentu berdampak buruk juga terhadap Indonesia, karena masyarakatnya memilih membelanjakan uangnya di luar negeri,” ujarnya.

Catherine menyarankan agar pemerintah berhati-hati mengenakan pajak terhadap barang mewah. Pasalnya, ia menambahkan, meskipun produk yang dijual adalah merek global, pada akhirnya produk tersebut menjadi bisnis lokal. Jadi, saran Catherine, sudah seharusnya pemerintah mendukung berkembangnya bisnis lokal.

Sementara, Rudi Borgeinheimer mengingatkan pengenaan pajak yang tidak proporsional dapat menghambat pertumbuhan industri dan menurunkan motivasi para pebisnis untuk meningkatkan kegiatan industri lokal. “Apabila penghapusan atau setidaknya penurunan pajak barang mewah dapat dilakukan, saya yakin volume industri nasional akan dapat meningkat,” cetusnya.

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Fortune Indonesia, Edisi 2, tahun 2010

Surganya Industri Rokok Dunia

Indonesia menjadi bidikan produsen rokok dunia. Yang terkini, Japan Tobbaco International tengah berminat membeli perusahaan rokok lokal. Tujuannya untuk menguasai distribusi dan mempercepat pertumbuhan.

Oleh: Evi Ratnasari dan Nia Novelia

Nama rokok Kacang Bayi, barangkali terdengar asing bagi kita. Rokok Kacang Bayi memang belum setenar rokok-rokok keluaran Djarum, Gudang Garam, Sampoerna dan Bentoel. Namun, nama merek rokok yang terdengar aneh itu, justru sampai ke telinga perusahaan rokok asal Negeri Ginseng. Pada Juli 2011, KT & G Corporation, produsen rokok asal Korea Selatan, telah membeli 60% saham milik PT Trisakti Purwosari Makmur (TPM), perusahaan yang memproduksi rokok Kacang Bayi . Nilai transaksinya mencapai 140 miliar won atau setara Rp1,12 triliun

TPM adalah perusahaan rokok yang berbasis di Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur. TPM didirikan pada tahun 1974 oleh Bambang Soegiharjo bersama tiga orang saudaranya Budianto Soegiharjo, Rusman Juarsa dan Soegianto Juarsa. TPM kemudian diwariskan kepada Djoko Wahyono anak dari Bambang Soegiharjo. Usia Djoko terbilang muda, masih di bawah 30 tahun. Ia bungsu dari enam bersaudara.Pertama kali memproduksi rokok, merek memberi nama “Kacang”. Ketika istri Bambang melahirkan, merek rokoknya diberi tambahan kata “Bayi” sehingga menjadi “Kacang Bayi”. Merek tersebut tetap eksis hingga kini. Seiring dengan berjalannya waktu, TPM makin berkembang dan produksi rokok mereka kian beragam , di antaranya Win Mild, Lintang 6, Apokat, Master Mild, Bheta, Bomb Internasional, Kacang Super, M2, Randu Agung, Adamas, dan Pensil Mas.

Di Purwosari, produk-produk TPM kurang digemari. Menurut Edi salah satu agen rokok di Purwosari, produk-produk TPM kurang disukai. “Paling-paling hanya Win Mild dan Bheta. Merek lainnya banyak dijual di Sumatera dan Kalimantan,”ujar Edi pemilik Toko Surya. Hal ini yang membuat TPM memilih bermain di kota-kota kecil dan fokus memasarkan produk di luar Pulau Jawa. Pemasaran produk TPM mencakup Medan, Padang, Palembang, Pekan Baru, Samarinda, dan Banjarmasin. Dulu mereka membuat unit distribusi di masing-masing kota, namun sejak Februari 2007, unit distribusi di setiap daerah dilebur menjadi PT Nusantara Indah Makmur. TPM mengklaim sebagai perusahaan rokok terbesar keenam di Indonesia dan telah berhasil menjual 3 miliar batang rokok. Jumlah karyawan TPM kini sudah lebih dari 3.000 orang.

Sayangnya, Djoko Wahyono, Direktur Utama TPM belum mau menjelaskan alasan mengapa ia menjual 60% saham miliknya. “Bapak sedang sibuk. Lain waktu saja ya,” ujar Hans Judianto, Manajer Sumber Daya Manusia PT TPM.
Setali tiga uang, pihak KT&G pun menolak berkomentar tentang rencana mereka ke depan pascaakuisisi TPM. Dalam percakapan telepon pada tanggal 2 Maret 2012, perwakilan KT&G Indonesia Kim Dong-pil menyatakan, KT&G Korea tidak mengizinkan wawancara terkait strategi perusahaan di Indonesia. “KT&G Indonesia dengan senang hati bersedia menerima wawancara, namun sayang kebijakan dari KT&G Korea tidak mengizinkan wawancara terkait strategi di Indonesia,” terang Kim Dong-pil. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai akuisisi pembelian pabrik rokok Kacang Bayi, Kim juga menolak berkomentar.

Tapi eksekutif KT&G Kang Cheol-ho pernah mengungkapkan bahwa pihaknya berharap dapat mengambil keuntungan besar dari jaringan distribusi yang telah dimiliki oleh TPM. Ia juga mengisyaratkan mengakuisisi TPM merupakan cara untuk memasuki bisnis rokok kretek. “Dengan peluang lebih dari 90% di pasar rokok kretek lokal, kami melihat potensi bisnis luas dari PT Trisakti Purwosari Makmur,” kata Kang Cheol-ho seperti dikutip AFP.

Di Korea, KT&G menguasai sekitar 60% dari total pasar tembakau. Berdasarkan laporan pada website resmi perusahaan, pada 2011 KT&G mengekspor lebih dari 70 merek ke 45 negara tujuan.
KT&G nampaknya memang sedang mencari pasar baru. Maklum , kinerja KT&G dalam kurun waktu dua tahun terakhir terus mengalami perlambatan. Pada 2009 perusahaan itu membukukan penjualan bersih 27,764 miliar won, kemudian melemah menjadi 24,999 miliar won di 2010 dan 24,908 miliar won pada 2011. Di Indonesia, sebelum melakukan akuisisi terhadap TPM, KT&G mengawali langkahnya dengan lebih dulu membuka kantor penjualan di Jakarta pada Agustus 2010. Dengan demikian kantor penjualan KT&G kini menjadi tiga yakni di China, Amerika Serikat dan Indonesia.

Dengan pembelian mayoritas saham TPM oleh KT&G, maka perusahaan rokok di Indonesia yang mayoritas dimiliki asing bertambah. Sebelumnya, pada 2005 perusahaan rokok asal Amerika Serikat, Philip Morris International Inc mengakuisisi 98% saham PT HM Sampoerna Tbk melalui PT Philip Morris Indonesia. Lalu, di tahun 2009 British American Tobacco Plc (BAT) mengakuisisi 85% saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk senilai lebih dari Rp5 triliun.

Kabar teranyar menyebutkan, produsen rokok asal Jepang, Japan Tobacco International (JTI) kini sedang aktif mengadakan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan lokal di Tanah Air. JTI adalah produsen rokok terbesar ketiga di dunia. JTI telah menjual 428,4 miliar batang rokok di seluruh dunia dan menghasilkan penjualan bersih sebanyak US$10,2 miliar.

Seorang sumber yang dekat dengan industri rokok bahkan mengungkapkan, JTI yang terkenal dengan produknya seperti Camel, Mild Seven, Salem dan Winston itu telah melakukan pembicaraan dengan Gudang Garam, Djarum, Wismilak dan Nojorono. Sumber itu berkeyakinan, kemungkinan besar JTI akan melakukan kesepakatan dengan Wismilak. Pasalnya, grup pengusaha rokok lain seperti Djarum yang dikomandani Budi Hartono, dipastikan tidak akan tertarik dengan tawaran itu, karena secara keuangan dan bisnis mereka telah mapan. Hal ini karena didukung unit bisnis lain mulai dari perbankan, properti hingga teknologi. “Pembicaran Wismilak dengan JTI tinggal membicarakan harga saja,” bisiknya.

Trisnawati Trisnajuwana, Direktur PT Gelora Djaja, perusahaan yang memproduksi Wismilak membantah isu tersebut. Menurutnya, kencangnya kabar pembelian Wismilak oleh JTI kemungkinan karena perusahaan distribusi milik Wismilak yakni PT Gawih Jaya sudah bekerja sama dengan JTI sejak 2010 untuk memasarkan rokok keluaran JTI di wilayah Pulau Jawa. “Negosiasi yang kami bicarakan terkait kerja sama pendistribusian produk JTI. Sampai saat ini pemegang saham masih berkomitmen terus mengembangkan bisnis rokok,” ujar wanita yang telah berkarier lebih dari 20 tahun di Wismilak itu. JTI, ujar Trisnawati, sangat selektif dalam memilih mitra kerja sama. Misalnya saja, saat akan memasarkan rokok Mild Seven, JTI akan menentukan mitra berdasarkan adanya kesamaan imej merek rokoknya dengan rokok yang dibuat oleh produsen Indonesia.

Terkait rumor JTI yang akan mengakuisisi perusahaan rokok dalam negeri, Trisnawati justru mendengar produsen rokok berbasis di Jepang itu sedang aktif melakukan pembicaraan dengan Gudang Garam. Ia juga mengungkapkan, tidak mustahil Gudang Garam dibidik JTI karena perusahaan rokok milik keluarga Wonowidjojo itu bisa menjadi penentu harga tembakau dan cengkih. “Tidak jarang jika Gudang Garam sedang membeli jenis tembakau tertentu, harga tembakau jenis itu akan terkerek naik,” katanya. Contoh lain, tahun lalu saat harga cengkih hanya Rp50.000 per kg, melambung menjadi Rp240.000 per kg, karena aktivitas pembelian cengkih dalam jumlah banyak oleh Gudang Garam.

Hans juga mendengar bahwa Gudang Garam yang sedang didekati JTI. Bahkan, ujar dia, isu yang beredar di kalangan industri rokok menyebutkan kedua belah pihak belum mencapai harga yang cocok. “Saya dengar Gudang Garam meminta harga yang tinggi. Nilainya hampir sama dengan penjualan HM Sampoerna kepada Philip Morris,” kata Hans.

Sayangnya, pihak Gudang Garam enggan menanggapi permintaan wawancara Fortune terkait tulisan ini.
Begitu pula dengan pihak JTI yang enggan bercerita banyak. Regional Communications Director Corporate Affairs & Communications Japan Tobacco International Asia Pacific Sadi Bruegger yang berbasis di Hong Kong mengatakan, “JTI tidak bisa berbicara mengenai strategi spesifik untuk satu negara.” Tapi ia mengakui bahwa JTI memiliki perwakilan di Indonesia meski keberadaannya masih kecil.

Di Indonesia JTI bermarkas di Gedung Energy lantai 23, Jl Sudirman, Jakarta Selatan. Sumber Fortune di lingkungan JTI tidak menepis bahwa perusahaan tempatnya bekerja sedang mengincar perusahaan lokal. “JTI sedang wait and see,” katanya. Tim JTI di Indonesia saat ini berjumlah 17 orang yang di pimpin oleh Udo Freeman, warga negara Amerika serikat.

JTI Indonesia, kata sumber itu, sedang menciptakan dan menyiapkan sistem dan standar agar perusahaan lokal yang dibeli nanti bisa mengikuti standar mereka. “Transformasi budaya perusahaan itu termasuk hal yang sulit karena harus mengubah pola pikir, budaya dan etos kerja,” tutur sumber kami ini.

Sejak tiga bulan yang lalu, JTI Indonesia membentuk tim trade marketer yang berjumlah tujuh orang. Mereka semua orang lokal dan berasal dari perusahaan-perusahaan rokok besar yang ada di Indonesia. Para trade marketer ini bertugas membangun dan memperkuat distribusi khususnya di pasar modern di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Tim trade marketer JTI fokus mengembangkan jalur distribusi di pasar modern karena melihat pertumbuhan dan perkembangannya yang begitu pesat. Minimarket, misalnya, jumlahnya kini sudah lebih dari 10.000 gerai dan telah masuk sampai ke perumahan dan pedesaan. Belum lagi pengecer convenience store seperti 7-eleven yang kian menjamur.
Menurut sumber tersebut, investor rokok asing semangat masuk ke Indonesia karena mereka sudah tidak bisa berkembang di negeri asalnya. Industri rokok di negara maju terdesak pelbagai hal sehingga penjualan rokok terus menyusut. Kesadaran akan pentingnya kesehatan, regulasi pembatasan rokok yang kian ketat dan cukai yang tinggi semakin mendesak ruang gerak industri.

Berbanding terbalik dengan negara berkembang seperti Indonesia, penduduk masih tumbuh pesat dan regulasi tentang rokok masih longgar. Indonesia sebenarnya telah mempunyai banyak peraturan tentang rokok, tetapi penegakan hukumnya masih lemah. Sebagai contoh di Jakarta, Pemda DKI telah menelurkan Peraturan Gubernur (Pergub) No 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Larangan Merokok. Pelaksanaan aturan itu ternyata tidak efektif dan masih banyak orang yang merokok ditempat-tempat umum. Apalagi Indonesia belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control. “Dalam beriklan saja, banyak perusahaan rokok yang belum mengikuti aturan international marketing standard,” ujar sumber tersebut.
Produsen rokok global masuk dengan cara membeli perusahaan lokal. Mereka memilih cara ini karena merupakan jalan tercepat dalam memperbesar pasar dan meningkatkan pertumbuhan. Yang terpenting, mereka tidak perlu lagi membangun distribusi karena jaringan distribusi rokok lokal sudah terbukti berjalan baik seperti yang sudah dilakukan oleh Philip Morris dan BAT. “Mereka ingin menguasai jalur distribusi karena jalur distribusi perusahaan lokal sangat bagus,” kata sumber tersebut.

Sudaryanto, Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), mengaku belum mendengar kabar tentang rencana JTI yang akan membeli salah satu perusahaan rokok lokal. Menurutnya, wajar saja jika Indonesia menjadi target industri rokok asing karena secara ekonomi pasar Indonesia memang menggiurkan. Populasi yang mencapai 240 juta jiwa tentulah pasar yang sangat menggoda. Di bawah AMTI, kata Sudaryanto, ada organisasi yang bernama Smokers Club yang anggotanya mencapai puluhan juta. “Sudah hukum alam, modal akan datang ke tempat yang memberikan keuntungan besar,”ujarnya.

Philip Morris yang lebih dulu menginjakkan kaki di Indonesia mengakui beruntung berada di negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini. Menurut Presiden Direktur PT HM Sampoerna John Gledhill, pasar rokok di Indonesia berkembang sejak dua belas tahun yang lalu, dan masih akan terus bertumbuh walaupun terjadi penurunan pasar di seluruh dunia. “Saya tidak berpendapat ini adalah industri yang hampir mati, saya melihatnya masih akan bertahan untuk tahun-tahun yang akan datang,” ujarnya.

Ya, Indonesia merupakan konsumen rokok terbesar ketiga di dunia setelah China dan India dengan konsumsi mencapai 260 miliar batang per tahun. Pecandu rokok di Indonesia menurut Kementerian Kesehatan pada 2010 lalu mencapai 80 juta jiwa atau 34% dari jumlah penduduk. Kementerian Kesehatan juga mencatat sekitar 65,9% laki-laki Indonesia yang berusia 15 tahun adalah perokok.

Dengan populasi perokok yang begitu gemuk, tak heran jika perusahaan-perusahaan rokok bisa meraup keuntungan besar. PT HM Sampoerna misalnya, pada 2010 lalu berhasil mengantongi penjualan Rp 43,38 triliun pada 2010, meningkat 11% dibandingkan 2009. Laba bersih yang didapat mencapai Rp6,4 triliun pada 2010, meningkat 26% dibandingkan 2009 sebesar Rp5,08 triliun. Di semester satu 2011, HM Sampoerna membukukan pendapatan Rp20,621 triliun dengan laba bersih Rp3,791 triliun.

Sementara itu PT Gudang Garam Tbk pada 2010 mencatat penjualan sebanyak Rp37,6 triliun meningkat 14% dibandingkan 2009 . Laba bersih yang diraih sebanyak Rp4,14 triliun atau naik sekitar 20% dibandingkan tahun 2009 sebesar Rp3,45 triliun. Di semester satu 2011, Gudang Garam membukukan pendapatan Rp19,84 triliun dengan laba bersih Rp2,3 triliun. Selain memiliki saham di Gudang Garam, Susilo Wonowidjojo, Direktur Utama PT Gudang Garam Tbk, juga memiliki perusahaan rokok lain, yakni PT Karyadibya Mahardika, yang memproduksi rokok Apache. Pabriknya berlokasi di Purwosari, Jawa Timur.

Tahun ini, Kementerian Perindustrian memperkirakan produksi rokok nasional diperkirakan meningkat sekitar 3% menjadi 267 miliar batang. Otomatis nilai pasar rokok juga akan terkerek naik. Nilainya diprediksi sebesar Rp197 triliun-Rp 199 triliun naik dibandingkan proyeksi tahun 2011 yang diperkirakan senilai Rp188 triliun. Artinya peluang perusahaan rokok untuk menggenjot penjualan dan meraup keuntungan yang semakin besar terbuka lebar.

Melihat fenomena yang ada dan keuntungan besar yang dihisap oleh perusahaan rokok rasanya tidak berlebihan jika menyebut Indonesia adalah surga bagi industri rokok.

Box- Q & A
Presiden Direktur PT HM Sampoerna John Gledhill
Cara Penguasa Menghadapi Pendatang
PT HM Sampoerna Tbk merupakan pemimpin di industri rokok Indonesia dengan menguasai 31% pangsa pasar. Masuknya produsen rokok global seperti KT&G Corporation dan Japan Tobacco International tentu akan membuat persaingan di bisnis rokok semakin seru. Bagaimana HM Sampoerna memandangnya? Simak perbincangan Nia Novelia dari Fortune Indonesia dengan Presiden Direktur PT HM Sampoerna John Gledhill, berikut :

Sebesar apa potensi Indonesia dan sejauh mana HM Sampoerna akan melangkah?
Memang ada banyak potensi di sini, sekitar 92% pasar Indonesia merupakan pasar rokok kretek. Hal ini sangat unik, tidak ada negara lain di dunia yang memiliki komposisi pasar demikian. HM Sampoerna beruntung memiliki merek Dji Sam Soe, A Mild, dan Sampoerna Kretek (Sampoerna A Hijau). Ketiganya merupakan merek lokal yang meraksasa, sangat kuat di segmennya masing-masing, dan memiliki brand equity yang hebat. Jadi jika saya melihat ke depan, kami berada di posisi yang sangat kuat untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar di pasar kretek.

Bagaimana Anda melihat kinerja rokok dalam dua tahun terakhir?
Tahun 2010 merupakan tahun yang baik bagi industri, namun tidak ada pertumbuhan yang fantastis. Kami cukup bahagia karena berhasil mempertahankan kepemimpinan kami di pasar dengan 29,1% pangsa pasar. Dari perspektif saya, 2011 adalah salah satu tahun terbaik dalam sejarah kami. Pertumbuhan volume penjualan Sampoerna sebanyak 16%, pangsa pasar kami meningkat dari 29,1% pada 2010 menjadi 31,2% di 2011.

Apakah Anda melihat tren para pemain rokok global akan datang ke Indonesia?
Jika perusahaan rokok asing membeli perusahaan lokal, maka harus memastikan mengerti dan mematuhi hukum di Indonesia, terutama hukum kompetisi yang ada. Bentoel bukan kompetitor besar Sampoerna, melainkan Djarum dan Gudang Garam. Indonesia merupakan pasar yang sangat besar dan banyak pemain tertarik. Tetapi ini semuanya bergantung pada apakah kompetitor kami juga tertarik untuk menjual perusahaan mereka, mengingat mereka perusahaan yang sangat sukses. Saya lihat Gudang Garam dan Djarum merupakan perusahaan yang sangat profesional dan sukses. Perusahaan mereka berjalan sangat baik saat ini, jadi saya rasa mereka tidak tertarik untuk menjualnya.

Kami dengar Japan Tobacco sudah datang ke Indonesia. Apa pengaruhnya terhadap HM Sampoerna?
Kami tahu bahwa Japan Tobacco sudah ada di Indonesia. Orang-orang memiliki delegasi setiap saat, namun pada akhirnya pertanyaan pentingnya adalah apakah mereka datang ke “pesta”nya atau tidak? Tentu saya tidak dapat menjawab ini untuk Anda. Anda harus bertanya kepada Japan Tobacco. Kedatangan mereka hanya akan membuat kompetisinya semakin sehat. Semakin kompetitif lingkungan yang ada, semakin kompetitif juga perusahaan untuk memastikan performanya lebih baik dibandingkan kompetitor.

Regulasi pembatasan rokok bisa memberikan efek tidak menyenangkan terhadap penjualan. Komentar Anda?
Yang jelas, jika regulasi tersebut tiba, pemerintah harus memastikan semua pihak mematuhinya dengan benar. Jika tidak, maka peraturannya tidak berguna. Poinnya adalah peraturan tersebut harus bisa diawasi dan ditindak seperti seharusnya. Saya rasa hal ini selalu menjadi bagian yang terberat.

Indonesia belum meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), bagaimana Anda memandangnya, dan jika suatu saat Indonesia meratifikasinya, apa akibatnya pada bisnis Sampoerna?
Mengenai bisnis, sebagai Philip Morris Internasional kami berurusan dengan banyak negara yang sudah menandatangani FCTC, dan bisnis masih tetap bagus di sana. Jadi, jika pemerintah Indonesia meratifikasi saya tidak melihat sebagai halangan untuk bisnis.

Tulisan ini dimuat di Majalah Fortune Indonesia Edisi 33, 19 Maret 2012 – 1 April 2012

Investasi Timur Tengah: Mereka Menyerbu Bisnis Telekomunikasi

Tulisan ini aku tulis pada Pertengahan 2009 lalu.

Tiga investor Timur Tengah membeli saham tiga operator selular: XL, Indosat, dan Axis. Mereka siap bertarung habis-habisan untuk menggoyang dominasi Telkomsel. Mampukah?

Teropong para investor dari Jazirah Arab kini bergeser ke Asia, dengan Indonesia menjadi salah satu fokusnya. Boom harga minyak bumi sepanjang 2008 membuat likuiditas negara-negara di kawasan Timur Tengah itu melimpah ruah. Sementara itu, nasib investasi mereka selama ini di Eropa dan AS justru terpangkas habis—apalagi setelah AS diguncang krisis ekonomi akibat skandal subprime mortgage. Maka, mau ke mana lagi pilihannya kalau bukan Asia?

Dana Moneter Internasional alias IMF pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia sepanjang tahun ini masih berkisar di angka 4,9%. Ini bukan angka yang terlalu tinggi, tetapi cobalah bandingkan dengan AS atau sejumlah negara di Eropa yang tahun ini diperkirakan tidak akan mencatat pertumbuhan ekonomi positif.

Oke, kalau memang Asia lebih menjanjikan. Namun, bisnis apa yang menguntungkan? Sektor telekomunikasi, itulah yang dibidik oleh para investor dari negara petrodolar. Saat ini setidaknya ada empat investor asal Timur Tengah yang menanamkan dananya di sektor telekomunikasi Indonesia. Mereka adalah Etisalat, Saudi Telecom Company, Qatar Telecom (Qtel), dan Jerash Investment Ltd.

Menurut Mohammed Omran, chairman Etisalat, pertumbuhan pasar telekomunikasi selular Indonesia merupakan salah satu yang tercepat dan terbesar di dunia. Itu sebabnya Etisalat mau merogoh koceknya untuk membeli 15,97% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) milik kelompok Rajawali pada Desember 2007 silam. Nilainya US$438 juta. “Investasi ini merepresentasikan strategi ekspansi Etisalat ke Asia,” katanya seperti dikutip dari

http://www.midle-east-online.com, Rabu, 12 Desember 2007. Dengan membeli saham XL, raksasa telekomunikasi dari Uni Emirat Arab (UEA) itu kini resmi beroperasi di 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Pada 2008 lalu Etisalat berhasil meraih pendapatan bersih Dhs26,119 miliar atau setara dengan Rp83,5 triliun dan laba bersih Dhs8,665 miliar (Rp27,5 triliun dengan kurs Rp3.200 per Dhs, mata uang UEA).

Saudi Telecom Company (STC) masuk ke Indonesia pada 2007 dengan membeli saham PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) dari Maxis Communication Berhad. Perusahaan telekomunikasi asal Malaysia itu sebelumnya sempat menguasai 95% saham Natrindo. STC lalu mengambil alih 51% saham Maxis di Natrindo. Sebelumnya, STC juga membeli 25% saham Maxis.

Kini, komposisi pemegang saham di NTS adalah STC (51%), Maxis Communications (44%), dan sisanya (5%) dimiliki perusahaan lokal. Patut dicatat, hanya di Indonesia sajalah STC berani mengambil porsi mayoritas dalam sebuah bisnis, khususnya di luar Arab Saudi. Di Kuwait, STC hanya memiliki 26% saham Kuwaiti Telecom Co. Ltd. Begitu juga di UEA, STC hanya memiliki 35% saham Oger Telecom—perusahaan telekomunikasi di sana. Kemudian di Malaysia, STC hanya memiliki 25% saham Binariang GSM Sdn. Bhd.

Di Indonesia, STC—melalui NTS—meluncurkan layanan selular GSM dan 3G dengan merek Axis, yang mulai beroperasi di Jawa dan Sumatera. Saat ini Axis tengah gencar mengembangkan jaringan 2G dan 3G-nya ke beberapa wilayah di Indonesia. Menurut laporan keuangan STC per Desember 2008 (unaudited), perusahaan yang sahamnya 100% dimiliki oleh Kerajaan Saudi Arabia itu berhasil meraup pendapatan bersih 11,04 miliar riyal atau setara dengan Rp35,3 triliun (kurs Rp3.200 per riyal). Jumlah pelanggan STC pada 2007 mencapai 28,4 juta, pada 2008 sekitar 33 juta, dan pada 2009 ditargetkan mencapai 38,8 juta.

Adapun Qatar Telecom (Qtel) masuk ke Indonesia melalui PT Indosat Tbk. Pada 6 Juni 2008, Qtel membeli seluruh saham Singapore Technologies Telemedia (STT) Pte. Ltd. di Indosat dengan harga premium. Saat itu harga saham Indosat di pasar Rp5.650 per lembar, tetapi Qtel membelinya senilai Rp7.388. STT sendiri memiliki 40,82% saham di Indosat. Untuk membeli saham itu, Qtel merogoh kocek sebesar US$1,8 miliar atau setara dengan Rp16,74 triliun.

Baru-baru ini Qtel berhasil meningkatkan kepemilikannya di Indosat menjadi 65%. Peningkatan itu diperoleh melalui dua penawaran tender secara serentak di Indonesia dan AS yang berakhir pada 18 Februari lalu. Dari penawaran ini, Qtel berhasil mengumpulkan 1,314 miliar saham Indosat. Dalam siaran persnya Kamis (26/2) lalu, Sheikh Abdullah Bin Mohammed Bin Saud Al-Thani, chairman Qtel Group, mengatakan pembelian saham Indosat ini untuk mendorong visi perusahaan yang ingin menjadi 20 besar perusahaan telekomunikasi dunia.

Sebagai operator selular terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6% pangsa pasar selular GSM di negeri ini. Dengan 36,5 juta pelanggannya, bukan tidak mungkin Indosat akan menjadi salah satu andalan Qtel di masa mendatang. “Kami selalu mengatakan bahwa visi kami adalah menjadi salah satu dari 20 operator telekomunikasi terbesar dunia pada 2020, dan salah satu kunci utama strategi kami adalah terus memperluas operasi kami di pasar-pasar Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara yang tumbuh cepat,” ujarnya.

Paling anyar adalah aksi investor Timur Tengah membeli PT Mobile-8 Telecom Tbk. (Fren). Kini, sekitar 32,06% saham Mobile-8 dimiliki Jerash Investment Ltd., perusahaan asal Dubai, UEA. PT Global Mediacom Tbk. telah menjual Fren kepada Jerash pada September 2008 lalu senilai Rp659,49 miliar. Global Mediacom tinggal menyisakan 18,94% saham Fren. Selebihnya, sebanyak 49% saham Fren, dimiliki pemegang saham publik.

Siapa Jerash Investment Ltd.? “Konon katanya perusahaan besar,” ujar Merza Fachys, director & chief corporate affairs PT Mobile-8 Telecom Tbk,. Namun, sulit sekali melacak track record Jerash Investment di Dubai. Pihak Dubai International Financial Center Authority (DIFC) mengaku tidak tahu-menahu tentang Jerash Investment. “Saya tidak tahu apa pun tentang mereka,” ujar David Eldon, chairman DIFC, dalam surat elektroniknya kepada Warta Ekonomi.

Makin Banyak yang Berdatangan

Di masa mendatang masih akan banyak investor Timur Tengah yang masuk ke industri telekomunikasi di Indonesia. Heru Sutadi, anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), mengungkapkan ada beberapa pemain dunia di industri telekomunikasi yang berminat masuk ke Indonesia. “Saya dengar ada yang melalui akuisisi, tetapi masih belum diakui oleh operator dalam negeri. Dari Timur Tengah juga banyak dan sedang negosiasi dengan beberapa operator yang sedang memiliki masalah keuangan,” ujarnya. Sayang, Heru menolak menyebutkan siapa saja investor asal Timur Tengah itu.

Salah satu investor yang sudah menyatakan minatnya adalah Capital Investment Group (CIG) International. Husam Salman Al Ameri, direktur CIG, saat berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2008 mengatakan pihaknya berminat membeli tiga besar perusahaan telekomunikasi di Indonesia. “Kami cari perusahaan yang membukukan keuntungan paling besar,” katanya, seusai menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di istananya, Kamis, 23 Oktober 2008 silam.

Hasnul Suhaimi, presdir XL, menilai fenomena banyaknya investor Timur Tengah menyerbu pasar telekomunikasi Indonesia tak lebih karena melihat keuntungan yang menjanjikan. “Mereka lihat bisnis telekomunikasi di Indonesia masih terus tumbuh dan sangat prospektif, sehingga mereka tertarik untuk berinvestasi di sektor ini,” ujar Hasnul.

Basuki Yusuf Iskandar, dirjen Pos dan Telekomunikasi, Departemen Komunikasi dan Informatika, menyambut positif hadirnya para investor asal Timur Tengah. Pria peraih gelar Doctor of Philosophy (Management of Technology) dari Vanderbilt University, AS, itu berharap investor Timur Tengah ini tidak hanya meramaikan bisnis telekomunikasi saja, tetapi juga industri pendukungnya, seperti konten, perangkat, dan peralatannya. “Mudah-mudahan bisa menjadi satu stimulus pertumbuhan manufaktur di industri telekomunikasi dan juga pengembangan software development serta local content,” harapnya.

Sejak dimiliki STC, Heru melihat Axis berubah secara signifikan. Mereka kini agresif membangun infrastruktur dan gencar melakukan pemasaran. “Ketika STC datang, mereka cepat sekali membangun network di mana-mana, bahkan sampai memiliki gedung baru,” ungkapnya.

Sebelum STC masuk, Axis hanya beroperasi di Jawa. Kini, layanan Axis dapat dinikmati di lebih dari 90 kota di Indonesia. Wilayah operasi Axis menjangkau Jawa Timur, Jawa Barat, Jabodetabek, Banten, Bali, Lombok, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau. Jaringan mereka ditopang oleh 3.700 BTS dan diaktivasi oleh lebih dari 3 juta pelanggan. Sejak September 2007 sampai Desember 2008, dana yang mereka gelontorkan untuk memperluas jaringan mencapai US$1 miliar.

Erik Aas, presdir NTS, menyebutkan pihaknya berkomitmen untuk menambah BTS hingga 8.000 unit pada 2010. “Coverage layanan merupakan persoalan yang sensitif di layanan selular. Itu sebabnya kami akan memperbanyak BTS untuk memperluas coverage,” katanya. Selama 2009 Erik menargetkan pertumbuhan pelanggan 100%, atau menjadi 6 juta. Dia juga menegaskan bahwa NTS berambisi menjadi pemimpin pasar. Akankah mimpi NTS tercapai?

Menurut Heru, untuk menggeser Telkomsel sebagai penguasa pasar bukan sesuatu yang mustahil, meskipun tidak mudah. Butuh waktu, teknologi yang andal, dan modal yang kuat. “Memang butuh waktu juga bagi investor asal Timur Tengah ini. Mereka tidak bisa begitu masuk lalu langsung menjadi besar,” ungkapnya.

Sementara itu, Dian Siswarini, sekjen Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), berpendapat masuknya pemodal dari Timur Tengah ini tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi Indonesia. Menurut Dian, peta bisnis telekomunikasi akan tergantung pada bagaimana operator menentukan strategi dan mengambil langkah agar bisa memenangkan pasar yang sangat kompetitif. “Siapa pun investornya, pemenang kompetisi adalah operator yang cerdik membaca situasi dan bisa beradaptasi dalam situasi ekonomi yang menantang,” cetusnya.

Suryatin Setiawan, mantan direktur PT Telkom, juga tidak terlalu yakin pemodal dari Timur Tengah akan bisa memengaruhi peta pasar bisnis telekomunikasi Indonesia. Pasalnya, secara fundamental, posisi Telkomsel terbilang kuat. Anak usaha PT Telkom Tbk. itu didirikan pada 1998, di saat Indonesia sedang mengalami krisis. Kala itu tidak ada operator telekomunikasi yang mau berinvestasi, kecuali Telkomsel. Ini membuat Telkomsel lebih unggul dari segi coverage, infrastruktur, teknologi, dan pelanggan. “Ini sudah 10 tahun lebih sejak krisis. Jadi, saya rasa sulit untuk memperkecil gap. Ke depan, Telkomsel akan tetap mendominasi pasar,” ujar Suryatin.

Pandangan serupa dilontarkan Rudiantara, mantan ketua ATSI dan direktur XL. Menurut dia, akan sulit menggeser posisi Telkomsel, karena mereka memiliki tiga key success factor sekaligus, yakni akses dana, akses teknologi dan regulasi, serta local knowledge. “Tiga hal itu belum tentu dimiliki operator lainnya,” kata Rudiantara.

Hasnul juga mengakui memang sulit menggoyang dominasi Telkomsel. Aliran modal dari Timur Tengah, menurut dia, tak akan membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap peta industri telekomunikasi di Indonesia. “Masuknya pemodal dari Timur Tengah tidak akan mengubah peta bisnis telekomunikasi di Indonesia,” papar pria berdarah Minang ini.

Meski posisi Telkomsel tak tergoyahkan, kehadiran para investor Timur Tengah ini tidak bisa dianggap enteng. Apalagi dana mereka melimpah ruah. Sarwoto Atmosutarno, dirut PT Telkomsel, mengatakan persaingan di industri Telekomunikasi sangat ketat dan ia serius meningkatkan kualitas layanan. “Kami menyiapkan belanja modal US$1,3‒1,5 miliar. Ini sinyal kepada pasar bahwa kami serius meningkatkan pertumbuhan melalui quality of service dan sekaligus quantity yang akan kami peroleh,” tegas Sarwoto.

Pernikahan Keluarga Konglomerat: Kolaborasi Bisnis karena Pernikahan.

Tulisan ini aku buat pada pertengahan tahun 2009.

Beberapa anggota keluarga inti konglomerat menjalin ikatan pernikahan dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya. Fenomena ini diperkirakan membuka peluang terjadinya kolaborasi bisnis yang dahsyat antarkonglomerat.

Ungkapan “uang senang berkumpul bersama teman-temannya” rupanya ada benarnya. Setidaknya, ini terlihat dari fenomena beberapa pernikahan yang terjadi antar-anggota keluarga inti konglomerat. Tahun lalu, tepatnya 15 Januari 2008, ballroom Hotel Mulia, Jakarta, digunakan sebagai tempat resepsi pernikahan anak si pemilik hotel, Eka Tjandranegara. Asal tahu saja, Eka adalah bos Grup Mulia, sebuah konglomerasi di bidang properti, keramik, dan gelas. Eka menggelar resepsi pernikahan anaknya, Ekman Tjandranegara, dengan Lareina Halim Kusuma. Sang mempelai wanita juga bukan perempuan sembarangan. Lareina adalah putri dari Sugianto Kusuma, salah satu tokoh pengusaha di belakang kesuksesan Grup Artha Graha. Kelompok usaha yang dirintis Sugianto bersama taipan Tomy Winata ini bergerak di bidang perbankan, properti, asuransi, dan agrobisnis.

Jadi, boleh dibilang, pernikahan Ekman Tjandranegara dan Lareina Halim Kusuma tergolong istimewa karena merupakan pernikahan antar-anggota keluarga inti konglomerat. Dan, sudah pasti resepsi tersebut didatangi banyak orang penting. Siapa saja tamu-tamunya? Tentu saja pengusaha-pengusaha kakap serta kalangan tokoh politik dan pejabat. Dari kalangan tokoh politik dan pejabat, datang Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Ketua DPR Agung Laksono yang juga politikus Partai Golkar, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung, dan Albert Yaputra, anggota DPR dari Partai Demokrat yang merupakan bekas bendahara tim sukses SBY-JK. Dari kalangan pejabat militer dan kepolisian, hadir Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dan Wakapolri Komjen Pol. Makbul Padmanegara. Petinggi DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Wagub DKI Jakarta Prijanto pun tak ketinggalan memberi selamat kepada kedua mempelai. Sementara itu, pengusaha-pengusaha papan atas yang hadir, di antaranya, adalah Sukanta Tanudjaja, Tong Djoe, Kiki Barki, Soetjipto Nagaria, Prajogo Pangestu, Trihatma Haliman, Hendro Setiawan, Didi Dawis, dan tentunya Tomy Winata.

Masih pada tahun yang sama, perkawinan antar-anggota keluarga inti konglomerat lainnya juga terjadi. Prajna Murdaya, anak dari pasangan konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo dan Siti Hartati Tjakra Murdaya (bos Grup Central Cipta Murdaya), menikah dengan Irene Tedja, anak dari pasangan konglomerat Alexander Tedja dan Melinda Tedja (pemilik Grup Pakuwon). Seperti diketahui, pasangan Murdaya Poo dan Siti Hartati Murdaya bukan hanya pengusaha besar, tetapi juga aktif di dunia politik dan sosial kemasyarakatan. Murdaya adalah salah satu ketua DPP PDIP yang juga duduk sebagai anggota DPR, sedangkan istrinya, Siti Hartati, adalah ketua umum DPP Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan ketua umum Yayasan Kepedulian Sosial Paramita. Berbeda dengan suaminya, Siti Hartati belakangan diketahui lebih dekat dengan Partai Demokrat.

Jadi, tidak mengherankan jika banyak tokoh politik, pejabat, dan pengusaha besar yang menghadiri resepsi pernikahan Prajna dan Irene, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri yang juga mantan presiden. Beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga datang, seperti Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menkominfo Mohammad Nuh, dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.
Tidak sedikit orang menilai resepsi pernikahan Prajna dan Irene, yang dihelat pada 27 Juli 2008 di arena Jakarta International Expo Pekan Raya Jakarta, merupakan pernikahan yang spektakuler. Tempat resepsi malam itu menggunakan dua gedung dengan kapasitas masing-masing mampu menampung hingga 5.000 orang. Ada enam ratus meja yang disediakan untuk menjamu 6.000 tamu undangan dengan konsep gala dinner. Masing-masing meja memuat 10 kursi. Para tamu tidak perlu bingung memilih meja. Begitu masuk lobi gedung, tersedia resepsionis dengan puluhan komputer untuk meregistrasi para undangan. Mereka langsung mendapatkan nomor meja dan diantar oleh petugas penerima tamu.

Gedung tempat resepsinya didekorasi bergaya Eropa dengan warna kuning gading dipadu ukiran Jepara warna emas. Namun, yang membuat takjub tamu undangan adalah dekorasi pelaminannya. Di belakang kursi pelaminan, terdapat replika mini Candi Borobudur tiga dimensi. Miniatur yang memiliki panjang sekitar 30 meter dan tinggi yang hampir menyentuh atap gedung tempat resepsi itu benar-benar mirip aslinya, baik dari sisi bentuk maupun konfigurasi warnanya. Biaya pembuatannya lebih dari Rp1 miliar. Lalu, untuk menjamu tamu undangan, didatangkan 100 koki dari berbagai hotel dan restoran di Jakarta dan bahkan ada pula koki yang khusus dihadirkan dari Thailand.

Jauh sebelum itu, empat tahun silam, tepatnya 18 Juni 2005, James T. Riady, generasi kedua Grup Lippo, menggelar resepsi pernikahan putri sulungnya, Caroline Riady, dengan Soeharto Djojonegoro. Siapa besan James Riady? Dia adalah Hamid Djojonegoro, pemilik Grup ABC dan Orang Tua. Soeharto merupakan putra sulung Hamid. Kala itu, kedua mempelai mengundang ribuan tamu untuk menghadiri pesta resepsi di Jakarta Convention Center. Untuk menghindari terik matahari, tenda putih dipasang antara area parkir hingga gedung. James dan Hamid diketahui merupakan kawan akrab yang menjadi anggota jemaat gereja yang sama.

Beberapa nama anggota keluarga inti konglomerat yang menikah dengan anggota keluarga inti konglomerat lainnya adalah Grace L. Katuari (Grup Wings) dengan Martin B. Hartono (Grup Djarum) dan Lanny Angkosubroto (Grup Sewu) dengan Trijono Gondokusumo (Grup Dharmala).

Kolaborasi Bisnis

D. Ganjar Sidik, managing director PT Data Consult, menilai perkawinan antar-anak konglomerat ini tidak terlepas dari budaya serta lingkungan di antara mereka. Namun, Ganjar juga tidak menampik munculnya kemungkinan bahwa pernikahan antar-anak konglomerat sebenarnya sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa jadi para konglomerat itu sengaja saling menjodohkan putra-putri mereka hingga kemudian mereka menikah dan membina rumah tangga. Tujuannya, selain memperlebar jaringan relasi bisnis, juga diharapkan bisa menjalin kemitraan strategis di dunia bisnis antara dua kelompok usaha yang berbeda.

Sinyalemen itu diperkirakan terjadi pada pernikahan Grace L. Katuari dan Martin B. Hartono. Grace adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Wings, sementara Martin B. Hartono adalah generasi ketiga di konglomerasi Grup Djarum yang kini menjabat sebagai direktur HRD PT Djarum. Entah disengaja atau tidak, selain terjadi hubungan keluarga karena pernikahan itu, Grup Wings juga melakukan kolaborasi dengan Grup Djarum di sejumlah proyek prestisius. Tahun 2000, Grup Wings bergabung dalam konsorsium bersama Grup Lautan Luas dan Grup Djarum untuk membeli PT Ecogreen Oleochemicals, salah satu perusahaan produsen oleochemical (termasuk natural fatty alcohol) terbesar di dunia, dengan kapasitas produksi mencapai 180.000 metrik ton/tahun dan total penjualan US$214 juta (2007). Oleochemical merupakan bahan baku industri perawatan tubuh, sabun, detergen, makanan, plastik, farmasi, dan lain-lain. Dahulu Ecogreen merupakan salah satu aset blue chip milik Grup Salim (Salim Oleochemicals), tetapi kemudian terpaksa dilepas ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebagai bagian dari penyelesaian masalah penggunaan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Selain itu, kolaborasi Grup Wings dan Grup Djarum juga terjadi di bidang properti. Atas nama PT Nagaraja Lestari, keduanya membangun properti ritel komersial Pulogadung Trade Center. Dalam menggarap proyek properti prestisius Grand Indonesia (dahulu Hotel Indonesia), Grup Djarum dikabarkan juga menjalin kerja sama dengan Grup Wings.

Namun, Ganjar menilai tidak selamanya pernikahan antar-anggota keluarga inti dua konglomerat ini bisa menghasilkan suatu proyek baru atau bisnis baru. Sebab, umumnya generasi ketiga dari masing-masing konglomerat memiliki gaya bisnis yang berbeda dari pendahulu-pendahulunya. Generasi pertama umumnya berasal dari pedagang. Generasi kedua berusaha untuk memperluas sayap bisnis perusahaan dengan memasuki berbagai sektor industri dan membangun pabrik serta melahirkan proyek baru. Adapun generasi ketiga umumnya tidak lagi membangun, tetapi mengakuisisi atau membeli saham perusahaan yang telah ada. “Jadi, gaya investasi generasi ketiga berbeda. Makanya saat ini agak sulit untuk memetakan proyek-proyek apa saja yang bisa dihasilkan dari pernikahan antar-anak konglomerat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Erwin Aksa, putra mahkota dari kerajaan bisnis Grup Bosowa, mengakui sejumlah pengusaha besar memiliki hubungan pertemanan yang cukup akrab. Mereka juga terkadang memiliki kesamaan visi bisnis. Alhasil, hubungan pertemanan yang akrab dan kesamaan visi bisnis itu kemudian dapat berlanjut kepada hubungan ikatan persaudaraan atau kekeluargaan karena keturunan mereka masing-masing kemudian menjalin ikatan pernikahan. Cuma, Erwin melihat hubungan keluarga yang terjadi antara dua pengusaha besar karena pernikahan antar-anggota keluarga inti tidaklah selalu menghasilkan sebuah kolaborasi bisnis yang dahsyat. Justru ia menilai yang terpenting adalah tanggung jawab generasi penerus untuk melanjutkan cita-cita pendiri kelompok usaha, yaitu mau kerja keras, berkeringat, dan turun langsung ke lapangan. “Dalam keluarga kami sendiri, tidak ada paksaan untuk menikah dengan siapa pun,” ujar pria yang kini menjabat sebagai CEO Grup Bosowa itu.

Bakrie & Brothers : Mengincar Dana dari Green Fund

Di 2010 ini Bakrie & Brothers (BNBR) memiliki sejumlah agenda besar. Selain meningkatkan kepemilikannya di sejumlah anak usaha BNBR juga berencana melakukan global roadshow.

Sabtu 30 Januari lalu jam menunjukan pukul 09:20 wib ketika Bobby Gafur Umar memasuki coffe shop di hotel Darmawangsa. Pagi itu Bobby berpenampilan kasual dan nampak lebih santai. Menggunakan kemeja putih dan denim berwarna hitam. “Maaf terlambat,” ujarnya sambil tersenyum. “Kita ngobrol di lounge saja ya,” sambungnya sambil bergegas menuju lounge hotel. Pria berusia 43 tahun itu pada Juni 2009 lalu baru ditunjuk kembali sebagai CEO Bakrie & Brothers (BNBR). Sebelumnya pada tahun 2002 – 2008 ia juga sempat memegang tanggung jawab yang sama. Hanya saja, kala itu BNBR adalah perusahan holding atau operasional. Berbeda dengan sekarang yang telah bertransformasi menjadi perusahaan investasi. Sejak 2008 lalu BNBR melakukan transformasi bisnis dari perusahaan holding menjadi strategic investment company. Kini tanggung jawab mengawal transformasi itu ada di pundak Bobby. “ Saat ini kita tengah melakukan perubahan-perubahan sekaligus perencanaan,” ujarnya.

Alumni University of Arkansas, Amerika Serikat ini melanjutkan, salah satu bentuk perubahaan yang dilakukannya adalah dengan melakukan penataan ulang organisasi den melakukan pergantian manajemen. BNBR akan memperkuat organisasinya dengan memperbanyak orang-orang keuangan. Salah satunya dengan menempatkan Michael Lucente mantan managing director di Merrill Lynch menjadi chief of investment officer. BNBR juga membentuk divisi baru yakni divisi investment.

Mengincar Natural Resaources & Energi

Menyangkut aksi korporasi, di 2010 ini Bobby mengatakan akan mengincar perusahaan-perusahaan yang terkait dengan sumber daya alam (natural resources) dan energi. “Dua industri tersebut menurut saya memiliki prospek yang bagus. Kebetulan di grup kita ada Bumi Resources dan Bakrie Sumatera Plantation. Jadi kita akan mencoba meningkat kepemilikan di Bumi dan Bakrie Sumatera Plantation,” paparnya.

Namun di sisi lain Bobby menambahkan, pihaknya melihat tahun ini properti mengalami kebangkitan dan memiliki prospek yang bagus. Apalagi harga properti di Indonesia dalam pandangannya masih terbilang murah. Jadi BNBR juga berencana untuk menambah kepemilikannya di Bakrieland Development. Untuk kepemilikan di Bumi Resources dan Bakrie Development , BNBR berencana menguasai lebih dari 20% saham. Akibat krisis pada 2008 lalu BNBR harus rela melepaskan kepemilikannya di Bumi Resources dari 35% menjadi 16%. “Sekarang kita sudah menuju angka di atas 20%, kita kumpulkan lagi karena kita percaya Bumi memiliki potensi upside. Kedua, di Bakrie Developmet dari 14,5% sekarang sudah 21%. Dari seluruh portofolio, kita punya target menjadi pengendali,” ujar pria yang baru saja menjalankan ibadah umroh pada 2009 lalu itu.

Tak hanya menambah kepemilikan di beberapa anak usaha yang dianggap memiliki potensi dan prospek yang baik, BNBR juga berencana mengurangi kepemilikannya di beberapa perusahaan yang dianggap kurang menguntungkan atau kurang memberikan kontribusi seperti perusahaan pipa. Sayangnya Bobby menolak menyebutkan berapa besar porsi pengurangan saham di perusahaan tersebut. “Kita tidak bisa sebut angkanya tapi angkanya cukup signifikan. Target kita minimum memiliki 10%,” katanya.

Global Roadshow

Selain menambah atau mengurangi kepemilikan saham di anak usaha, BNBR juga berencana menggandeng mitra strategis. Program global roadshow akan dilakukan mulai Februari tahun ini dan merupakan kelanjutan regional roadshow yang telah dilakukan pada tahun lalu. Adapun negara yang akan dikunjunginya adalah Jerman dan Inggris. Setelah itu Bobby akan terbang ke Timur Tengah termasuk ke Dubai. Meski Dubai sempat jatuh, pria jebolan Fakultas Teknik Universitas Trisakti pada 1992 ini melihat Dubai akan kembali stabil dalam waktu dekat. Di bulan Maret dan April perjalanan Bobby akan berlanjut ke Amerika dan Eropa.

Bobby mengatakan perjalanannya ke Negeri Hitler untuk mendapatkan akses dana dari hedge fund yang bergerak di bidang sustainable energi atau disebut green fund. Sedangkan di London, Inggris dirinya bertemu dengan fund manager yang tertarik untuk masuk ke emerging market dan melakukan pertemuan dengan beberapa calon mitra strategis yang akan digandeng oleh BNBR untuk masuk di PT Bakrie Metal Industries (BMI). Namun sayangnya Bobby kembali mengunci mulutnya rapat-rapat dan tidak menyebutkan siapa mitra startegis yang ditemuinya itu. “Mereka pemain besar bukan dari Eropa. Masih pretty early untuk diberi tahu, kita di sana masih harus presentasi, tapi mereka sudah datang ke pabrik kita melihat-lihat, dan untuk manajemennya kita masih konsultasikan lagi,” Bobby menjelaskan.

BMI adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan semua produk logam berat dan bisnis konstruksi. BMI yang didirikan pada 2008 lalu ini menghasilkan bauran produk yang luas, termasuk rangkaian lengkap pipa baja dan rekayasa, rekayasa dunia dan jasa konstruksi, baja bergelombang, bahan bangunan dan produk besi cor. Rekanan BMI, saat ini antara lain Jasa Marga, Pertamina, Perusahaan Gas Negara, Caltex, Gulf Resources, Amtrade Internasional, dan ConocoPhilliips.

BNBR juga telah menciapkan skema penawaran umum perdana (IPO) untuk anak usahanya yang lain yakni Bakrie Indo Infrastruktur. “Untuk infrastruktur harus kita persiapkan dulu satu sampai dua tahun lagi,” ungkapnya. PT Bakrie Indo Infrastruktur merupakan perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur yang didirikan pada 2008. Bakrie Indo Infrastruktur bergerak di proyek pembangunan jalan tol, pembangkit listrik, infrastruktur, minyak dan gas dan telekomunikasi. Saat ini, proyek yang tengah digarapnya adalah PLTU Tanjung Jati A dan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Jeli Melihat Peluang

Dalam pandangan Pardomuan Sihombing, kepala riset Paramitha Alfa Securities transformasi bisnis yang dilakukan BNBR akan membuat perusahaan lebih fokus pada strategi. Berbeda dengan holding yang lebih banyak melakukan operasional. Dengan menjadi perusahaan investasi perusahaan yang didirikan oleh Ahmad Bakrie ini akan lebih lincah dan mudah dalam mengakses dana global sehingga akan lebih ekspansif.

Menyangkut rencana global roadshow yang dilakukan dalam waktu dekat, menurutnya BNBR memiliki peluang dan bisa mengantongi banyak uang jika bisa meyakinkan para investor bahwa BNBR akan memberikan retrun yang tinggi. Apalagi secara umum Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif dan memiliki kelebihan sumber daya alam dan BNBR memiliki sejumlah portfolio yang bergerak di sumber daya alam. ”Selama barangnya bagus dan bisa memberikan return yang baik BNBR bisa menggandeng investor mana saja. Uang itukan selalu mengalir ketempat yang returnnya tinggi,” cetusnya.

Salah satu peluang yang cukup jeli ditangkap oleh BNBR lanjut Pardomuan adalah berusaha untuk mengakses dana dari green fund. “ Kalau BNBR menjadikan green fund sebagai target mereka, BNBR cukup jeli dalam melihat peluang ini. Sebab saat ini ada kewajiban di negara-negara maju atau industri untuk menekan emisi karbon di negaranya. Dana yang disediakan untuk program itu cukup besar,” paparnya.

Berapa besar dana green fund ini? Rachmat Witoelar, ketua dewan nasional perubahan iklim dalam kesempatan yang berbeda mengatakan, dalam konfrensi Kopenhagen, Denmark akhir Desember lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mematok target menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020. Ada sekitar 26,6 juta hektare lahan yang direncanakan akan diperdagangkan dalam proyek carbon offset. Rachmat memperkirakan dengan penurunan sebesar 26%, Indonesia memiliki potensi mendapatkan pemasukan lebih dari satu miliar dolar. Sedangkan Indonesia Forest Climate alliance memperkirakan pendapatan yang akan diperoleh melalui skema REDD (reduced emissions from deforestation and degradation ) yaitu sekitar US$ 500 juta sampai dengan US$2 miliar.

Kredit Karbon Memberikan Keuntungan Lebih Dari Kelapa Sawit

Selain untuk menekan emisi gas rumah kaca kredit karbon juga bisa memberikan keuntungan yang lebih dari kelapa sawit

Sabtu, 17 Oktober 2009 lalu Pemerintahan Maldives melakukan aksi yang mengejutkan dunia. Presiden Maldives Mohammed Nasheed bersama ke sebelas menterinya menggelar rapat kabinet di bawah laut. Suatu aksi yang belum pernah dilakukan oleh pemerintah negara manapun di dunia. Rapat kabinet yang berlangsung selama 30 menit di pantai sebelah utara Male, ibukota Maldives, di kedalaman 20 kaki itu bukan untuk mencari sensasi ataupun masuk dalam Guinness World Record. Tapi memberikan gambaran apa yang akan terjadi pada negara yang berpenduduk 369.000 itu beberapa tahun kedepan.

Sebagai negeri kepulauan yang berada di Samudera Hindia dengan tinggi daratan hanya sekitar dua meter di atas permukaan laut., negara Maldives terancam tenggelam. Dengan aksi tersebut Presiden Maldives berharap agar dunia lebih memperhatikan bahayanya pemanasan global dan mengambil langkah nyata untuk mengatasinya.”Kami kini ingin menyadarkan banyak orang bahwa Maldives merupaakan negara yang berada di garis depan (dalam pemanasan global). Ini bukan sekadar isu untuk Maldives, namun juga bagi dunia,” kata Nasheed. Pemerintah Maldives juga berencana untuk membeli wilayah baru bagi rakyatnya untuk mengantisipasi bila tanah air mereka yang lama tenggelam.

Ancaman ini tidak hanya dialami Maladives saja. Ada sekitar lebih dari 40 pulau yang terancam tenggelam. Sejatinya saat ini peradaban manusia tengah terancam. Akibat pemanasan global sudah ada sekitar 25 juta orang terpaksa pindah pada tahun 2007 dan sedikitnya 18 pulau telah tenggelam diseluruh dunia. Kiribati adalah salah satu negara dimana tiga pulau karangnya telah tenggelam. Republik Kiribati berada di Samudra Pasifik, terdiri dari 32 gugus karang jumlah penduduk sekitar 107.800 jiwa.

Dalam dalam sebuah pertemuan dunia, Presiden Republik Kiribati Anote Tang mengatakan bahwa penduduknya telah banyak mengungsi ke negara Australia dan New Zealand. Tong pun berharap agar negara-negara anggota PBB mau membantu menerima masyarakatnya yang mengungsi akibat perubahan iklim “ Ada penduduk yang seluruhnya harus direlokasikan , desa-desa yang sudah ada disana selama lebih dari satu dekade mungkin satu abad, sekarang mereka harus dipindahkan , dan tempat dimana mereka tinggal selama beberapa dekade sudah tiada lagi. Tempatnya telah terkikis habis,” ujarnya.

Indonesia sendiri diramalkan akan kehilangan lebih dari 2000 pulau pada tahun 2050. Saat ini Indonesia telah kehilangan 24 pulau akibat tsunami di Aceh, abrasi dan eksploitasi yang berlebihan. Jelaslah sudah bahwa pemanasan global telah mengancam peradapan manusia dan telah menjadi isu dunia karena itu perlu dilakukan tindakan nyata untuk bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga bisa mengurangi efek terjadinya perubahan iklim. Untuk itulah Pada Desember 2009 lalu, pertemuan internasional soal isu perubahan iklim kembali digelar di Kopenhagen, Denmark. Para delegasi dari berbagai negara berkumpul dan membahsa masa depan bumi ini.

Perdagangan emisi karbon

Penyebab utama pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer bumi dan salah satu unsur penyebab terbesar pemanasan global adalah emisi gas karbon dioksida (CO2). Porsi terbesar pelepasan gas CO2 ke atmosfer adalah sektor industri yaitu sebesar 80%. Sisanya adalah sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan lain-lain. Untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di atmosfer terutama gas CO2, negara-negara di dunia sepakat untuk melakukan penurunan emisi gas CO2 yang tergabung dalam wadah internasional yaitu UNFCCC (United Nation Framework Convention on Climate Change). Dalam protokol Kyoto, setiap negara diwajibkan untuk mengurangi emisi gas karbon dioksida rata-rata 5,2% untuk kurun waktu tahun 2008 sampai tahun 2012.

Menurut Sulistyowati asisten deputi bidang pengendalian dampak perubahan iklim Kemneterian Negara Lingkungan Hidup, Indonesia memiliki beberapa program mitigasi dan adaptasi. Program yang terkait dengan mitigasi diantaranya dengan melakukan monitoring emisi gas rumah kaca, melakukan pengurangan emisi di sektor energi, kehutanan, industri, transportasi, persampahan dan melakukan skema CDM (clean development mecanism) dan skema REDD (reduced emissions from deforestation and degradation).

CDM dan REDD adalah suatu skema perdagangan kredit karbon. REDD adalah kompensasi yang diberikan bila tidak melakukan penebangan hutan sedangkan CDM kompensasi bila melakukan penanaman. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup total emisi di Indonesia adalah 638,975 Gg Co2 eq dan potensi CDM di Indonesia yang akan menjadi sumber devisa negara per Mei 2009 sebanyak 265 juta ton. Munculnya skema kredit karbon menurut Rachmat Witoelar ketua dewan nasional perubahan iklim karena mengurangi emisi karbon dengan cara mengurangi penggunaan bahan bakar fosil prosesnya berjalan lambat. “Bukan hanya lambat tapi lambat sekali bahkan ada perlawanan,” cetusnya. Lalu munculah ide perdagangn karbon (Carbon Trade) sebuah mekanisme pasar yang diperuntukkan untuk menanggulangi pemanasan global.

Di bawah UNFCCC, Negara-negara diijinkan untuk menggunakan sistem perdagangan untuk membantu mereka memenuhi target pengurangan emisi. Apabila suatu negara tidak mampu memenuhi target penurunan emisi, maka negara tersebut dapat membeli ijin pengurangan emisi dari negara yang mempunyai target pengurangan emisi lebih rendah atau negara-negara yang mampu melakukan pengurangan emisi karbon. Pihak swasta atau perusahaan juga dapat berpartisipasi dalam perdagangan karbon. Atau dengan kata lain bagi negara yang tidak mampu memenuhi kewajiban, dapat membeli nilai offset-nya dari negara-negara yang bisa menurunkan emisi karbon tersebut. Begitu pula dengan perusahaan-perusahaan.

Kredit karbon dikeluarkan oleh UNFCCC dalam bentuk CER (certified emission reduction, dalam ton CO2 ekuivalen). CER tersebut selanjutnya dapat dikomersialisasikan di bursa saham karbon, dengan harga berkisar antara 13 – 15 Euro per ton CO2 di bursa saham London pada September 2009 lalu. Rachmat melanjutkan dengan skema REDD negara pemilik hutan, termasuk Indonesia berpotensi memperoleh insentif.

Dalam konfrensi Kopenhagen, Denmark akhir Desember lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mematok target untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada 2020. Ada sekitar 26,6 juta hektare lahan yang direncanakan akan diperdagangkan dalam proyek carbon offset. Rachmat memperkirakan dengan penurunan sebesar 26%, Indonesia memiliki potensi mendapatkan pemasukan lebih dari satu miliar dolar. Sedangkan Indonesia Forest Climate alliance memperkirakan pendapatan yang akan diperoleh melalui skema REDD yaitu sekitar US$ 500 juta sampai dengan US$2 miliar .

Dari studi yang dipimpin oleh Oscar Venter dari University of Queensland, Australia ternyata keuntungan dari menjual jutaan kredit karbon dari 3,3 juta hektare hutan hujan tropis tidak kalah dari mengkonversi hutan itu menjadi perkebunan kelapa sawit. Program REDD bisa berkompetisi dengan perkebunan kelapa sawit untuk kredit senilai US$ 10 sampai US$ 33 per ton karbon. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Conservation Letters pada 5 Juni 2009 ini juga mengungkpkan keuntungan lainnya dari menjual kredit karbon adalah membuat utuh kekayaan hayati hutan dan 2,1 miliar ton karbon tidak terlepas ke atmosfer

Namun dalam pandangan Firdaus Cahyadi, knowledge sharing officer for sustainable development, OneWorld-Indonesia dalam tulisan yang berjudul Proyek Carbon Offset dan Ketidakadilan Iklim, proyek karbon offset khususnya di sektor kehutanan, justru berpotensi mengusir petani dan penduduk di sekitar hutan yang telah sekian lama memanfaatkan hasil sumber daya hutan secara lestari. Di Ulu Masen, Nanggroe Aceh Darussalam, misalnya, sekitar 750 ribu hektare tanah rakyat sudah tidak boleh ditinggali dan digarap lagi. Di Muara Jambi, para petani harus berjuang melindungi tanah pertanian mereka seluas 101 ribu hektare tanah yang diklaim menjadi kawasan konservasi dalam proyek carbon offset.

Menurut Firdaus sejatinya, sebagai negara berkembang, Indonesia belum memiliki kewajiban untuk mengurangi gas rumah kaca. Negara-negara maju sebagai penyebab perubahan iklimlah yang seharusnya lebih bertanggung jawab menurunkan emisi gas rumah kaca di dalam negerinya masing-masing. Firdaus juga berpendapat bahwa negara-negara berkembang adalah korban perubahan iklim yang dipicu oleh keserakahan negara-negara maju dalam mengkonsumsi energi fosil.

Bisnis Jasa Keamanan : Menuai Berkah Dari Targedi Jumat Pagi

Bagi bisnis jasa keamanan, tragedi jumat pagi, 17 Juli 2009 lalu merupakan berkah tersendiri. Mereka kecipratan rezeki dan kini mereka berlomba-lomba menciptakan rasa aman.

Kewalahan!. Itulah kata yang meluncur dari mulut Adi Mahfudz presiden direktur PT Esa Garda Pratama untuk menggambarkan betapa derasnya order yang mengalir ke perusahaannya pasca peledakan bom JW Marriott – Ritz Carlton pada Jumat 17 Juli lalu. Saking kewalahan Adi sampai mau mencari invetor baru untuk menyuntikan modal ke perusahaannya. “ Ada peningkatan order memang. Soal angka sulit disebutkan, tapi gambarannya kita sudah kewalahan. Makanya kalau ada investor baru, ayo saya bisa buktikan banyak pekerjaan menanti khususnya di bidang keamanan,”ujarnya bersemangat.

Hal serupa juga dirasakan oleh perusahaan jasa keamanan lainnya seperti PT Gardatama Nusantara milik Prabowo Subianto dan PT Group 4 Securicor Indonesia (G4S). Menurut Jeffrey ZA Baadilla direktur utama PT Gardatama Nusantara banyak surat penawaran kerjasama dari beberapa perusahaan besar salah satunya dari perusahaan otomotif ternama asal Amerika Serikat. “ Memang ada peningkatan order. Sudah ada beberapa surat-surat permintaan untuk mengawal chief executive officer (CEO) khususnya asing dan juga rumah mereka. Salah satunya dari General Motors,”ungkap purnawirawan jendral berbintang dua itu. Sayangnya Jeffry menolak menyebutkan berapa banyak jumlah order yang masuk pasca peledakan bom pada Juli lalu. “Sulit untuk melakukan perhitungan peningkatan order karena baru 13 hari,”kilahnya.

G4S juga mengakui adanya permintaan dari klien untuk melakukan pengetatan prosedur keamanan. Selain itu menurut Yohan Setiadhi country sales manager PT G4S Indonesia ada juga beberapa perusahaan asing yang dekat dengan lokasi pemboman di Kuningam secara langsung meminta penambahan jumlah keamanan. “Memang ada permintaan peningkatan dan pengetatan keamanan dari perusahaan asing yang berlokasi di Mega Kuningan,”ujarnya.

Diakui Adi bisnis jasa keamanan adalah salah satu bisnis yang menuai berkah dari targedi Jumat pagi itu. Jika pada umumnya bisnis bisa berjalan kalau situasinya aman, tidak ada ancaman bom, perampokan dan unjuk rasa. Hal itu nampaknya tidak berlaku bagi bisnis jasa keamanan. Bisnis jasa keamanan justru menuai berkahah ketika kondisi tidak aman “Itulah uniknya bisnis keamanan. Semakin negara tidak tenteram maka orderan pun semakin banyak,” papar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Badan Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (ABUJAPI) itu.

Kedepan Adi yakin peluang bisnis jasa keamanan di Indonesia semakin menjanjikan, meskipun masih belum ada data yang menunjukan berapa besar potensi pasar jasa keamanan saat ini. “Memang belum ada data berapa perbandingan antara kebutuhan dan pasokan. ABUJPI belum melakukan riset,” akunya. Namun pria yang juga aktif di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini melihat masih banyak perusahaan yang menggunakan keamanan sendiri (inhouse) yang kemampuan dan jumlah personilnya terbatas. Sementara kedepan perusahaan dituntut untuk fokus pada bisnis intinya (core business) sehingga akan semakin banyak perusahaan yang akan memakai jasa keamanan secara ousourcing daripada merekrut jasa keamanan sendiri.

Sedangkan menurut Jeffry ada beberapa alasan mengapa bisnis jasa keamanan akan semakin berkembang. Diantaranya sistem pengamanan di Indonesia belum ketat, khususnya di hotel. Pemeriksaan masih sebatas tamu dan itu pun belum maksimal. Contohnya jika berhadapan dengan orang penting, petugas keamanan cenderung meloloskan dan segan untuk memeriksa barang maupun mobil mereka. Padahal, prosedur keamanan seharusnya dilakukan tanpa pandang buluh termasuk teman, keluarga dan orang yang dikenal sekalipun.

Di samping itu, belum ada tindakan preventive terhadap setiap barang yang masuk ke dalam hotel seperti mobil supplier yang membawa makanan (catering), pemeliharaan barang (house keeping) atau pemelihara bunga (florist). Padahal saluran tersebut juga berpotensi menjadi saluran bagi bahan peledak atau bom. “Jadi masih banyak celah. Masih kurang menyentuh aspek lain yang sebenarnya dapat berpotensi sebagai sumber bom,”cetusnya.

Faktor lain yang membuat bisnis jasa keamanan berkembang karena potensi bisnis di Indonesia sangat besar dan ruang lingkup Indonesia yang sangat luas dimana tersebar perusahaan-perusahaan besar nasional maupun multinasional. Dalam pandangan Jeffry bisnis keamanan akan berkembang seiring dengan banyaknya investasi perusahaan yang ada di Indonesia. “ Mereka tentu membutuhkan pengamanan terhadap asset perusahaan,”jelasnya.

Pengamat keamanan yang juga mantan Wakil KSAD Letjen (Purn) Kiki Syahnarkri juga menilai bahwa bisnis keamanan memiliki prospek yang menjanjikan terbukti dengan sudah masuknya pemain asing di industri jasa keamanan seperi G4S Indonesia. “Hal ini harus menjadi tantangan bagi penyedia binis keamanan dalam negeri. Mereka harus bisa meningkatkan profesionalitas masing-masing anggotanya, kalau tidak akan banyak klien memilih menggunakan jasa keamanan asing”cetusnya. Berdasarkan catatan Mabes Polri saat ini ada sekitar 500 perusahaan penyedia jasa keamanan. Dari jumlah itu hanya 330 perusahaan yang menjadi anggota ABUJAPI.

Berlomba-lomba Menciptakan Rasa Aman

Untuk memenangkan kompetisi, perusahaan penyedia jasa keamanan berusaha menciptakan layanan yang terbaik bagi pelanggaanya. Karena itulah mereka berlomba-lomba menciptakan rasa aman mulai dari mendidik personilnya, menyediakan berbagai jenis layanan sampai mendapatakan sertifikasi yang diakui dunia seperti ISO.

Menurut Adi kunci sukses dari bisnis jasa keamanan adalah kemampuan dari personilnya dalam menciptakan rasa aman bagi pelanggan. Karena itu personil keamanan harus dididik agar memiliki rasa hati-hati (awarenes ) yang tinggi. Adi mencontohakn peristiwa yang terjadi pada hotel JW Marriott – Ritz Carlton. Menurutnya pengeboman itu bisa terjadi karena banyaknya kelalaian manusia. Ia heran mengapa pihak keamaanan hotel tidak menaruh curiga padahal ada beberapa kejanggalan. Misalnya Pelaku tidak keluar kamar selama dua hari dan pada saat penghuni kamar menelepon resepsionis untuk meminta bantuan ternyata yang dikirim si florist kenapa bukan office boy.“Mau sistem secanggih apapun kalau SDM-nya tidak dididik mustahil bisa aman. Bahkan dalam bisnis, sebelum bicara soal sistem, SDA, manajemen, yang perlu dibangun adalah SDM.”paparnya.

Selain menumbuhkan rasa sensitivitas dan kecurigaan kepada petugas menurut Jeffry petugas keamanan juga harus dilatih untuk bertindak sopan dalam memeriksa para tamu. Hal ini diperlukan agar para tamu bersedia dengan senang hati untuk diperiksa dan bersikap kooperatif. Petugas juga harus menjalanka pemeriksaan sesuai prosedur agar nilai service dan security dapat seimbang sehingga tamu tetap meras nyaman.

Menyangkut sertifikasi seperti ISO menurut Adi kini telah menjadi tuntutan dalam bisnis jasa keamanan jika ingin mendapatkan klien-klien kelas kakap atau perusahaan multinasional. “Kami menyesuaikan dengan kebutuhan klien. Biasanya klien paling suka kalau vendornya atau patner bisnisnya mengerti akan sistemnya. Rata-rata klien industri biasanya menggunakan standar ISO. Hampir seluruh manager saya sudah sertifikasi ISO.”cetusnya. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan jasa Esa Gada Pratama diantaranya PT Aqua Golden Misisipi, Group Danoe, Adira Quantum, RSCM dan ASDP seluruh pelabuhan wilayah timur.

Pentingnya sertifikasi dalam menjalankan bisnis keamanan juga disadari oleh Gardatama, itu sebabnya perusahaan yang didirikan pada tahun 2004 ini tidak hanya berusaha mendapatkan ISO tapi juga sertifikasi dan penghargaan lainnya. Pada tahun 2007 Gardatama berhasil mendapat penghargaan Kapolri sebagai tiga perusahaan jasa keamanan terbaik di Indonesia. Perusahaan ini juga menjadi yang pertama mendapat ISO 9001 (manajemen mutu) dan ODHAS 18001 (manajemen keamanan dan keselamatan).

Hal ini lah menurut Jeffry yang membuat banyak perusahaan asing memilih menggunakan jasa perusahaannya. Saat ini setidaknya ada lebih dari 50 perusahaan yang menggunakan jasa keamanan Gardatama Nusantara. Beberapa klien-klien Gardatama itu diantaranya adalah Chevron Pasific Indonesia, Total E&P Indonesia, Corrocoat Indonesia, Bontang Exploration Company, Danoe Dairy Indonesia, Nation Petroleom dan Geologistic International Indo. Kedepan Gardatama juga akan menyalurkan tenaga keamanannya ke negara lain seperti Arab Saudi dan Dubai.

Bisnis yang Menggiurkan

Menurut Adi cikal bakal bisnis keamaan berawal dari satuan pengamanan (Satpam). Mantan Kapolri 1978 – 1982 Jend Awaludin Djamin lah yang mencetuskan berdirinya Satpam sebagai mitra kerja untuk membantu pihak kepolisiaan melalui Skep Kapolri 30 Desember 1980 nomor polisi: Skep/126/XII/1980. Ini menujukan bahwa satuan pengamanan sudah ada payung hukumnya. Hanya saja saat itu sinyal bisnisnya belum menggejala karena kebutuhan di lapangan belum ada. “Persepsi masyarakat juga tidak menganggap security sebagai profesi tapi diposisikan sama dengan hansip atau centeng,”cetusnya.

Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masyarakat terhadap jasa keamanaan bisnis jasa keamanan kini juga semakin beragam, tidak hanya sebagai tenaga keamanan (Satpam). Bisnis jasa keamanan semakin berkembang. Selain menyediakan tenaga keamanan, mereka juga menyediakan tenaga keamanan pribadi (body guard), penyelamatan, jasa pengawalan barang berharga dan bisnis perangkat keamanan. Seperti G4S Indonesia yang menyediakan cash management atau cash services, manned security, security systems dan jasa keamanaan lainnya seperti corporate investigations, security training , consultancy services. Yohan mengatakan dari seluruh layanan jasa keamanan yang disediakan, perusahaan berhasil meraih omzet lebih dari Rp500 miliar per tahun.

Sama dengan G4S Indonesia, Esa Garda Pratama dan Gardatama Nusantara juga menyediakan beberapa jenis jasa keamanan kepada pelanggannya. Jasa yang diberikan oleh Esa Garda Pratama adalah security guard, device, consultant, training and education, cash and transit dan keamanan menggunakan anjing pelacak. Sayangnya Adi tidak mengungkapkan berapa omzet yang berhasil diraupnya dari bisnis ini.

Sedangkan Gardatama Nusantara menawarkan penyediaan tenaga keamanan, konsultasi keamanan, bantuan penyelamatan, pendidikan dan latihan keamanan, penerapan peralatan keamanan, kawal angkut uang dan barang berharga. Sejauh ini. penyediaan tenaga pengamanan merupakan unggulan dari perusahaan yang berdiri pada 1997 ini. Untuk memantapakan posisinya di bisnis jasa keamanan Gardatama telah membagun sekolah pembinaan tenaga keamanan di Yogyakarta untuk melatih tingkat sensitivitas dan psikologis para pertugas. Selain itu akan menyalurkan tenaga keamanan ke luar negeri dengan ke negara lain seperti Arab Saudi dan Dubai. Bidang usaha juga dikembangkan ke arah IT Security dan akan menyediakan layanan mengambil dan mengantar uang. Mengenai omzet Jeffry juga menolak menyebutkannya. Hanya saja Jeffry memberikan sinyal bahwa bergerak dibisnis keamanan menguntungkan. “ Saat perusahaan ini berdiri, kita minus, namun kini dari tahun ketahun kita tumbuh dan sekarang hasilnya positif,”jelasnya.

Alasan Berkembangnya Bisnis Keamanan
Tidak stabilnya kondisi keamanan
Pengamanan yang masih belum ketat
Masih banyak perusahaan yang menggunakan jasa keamanan inhouse
Tuntutan perusahaan untuk fokus pada bisnis inti
Tumbuh seiring dengan investasi

Layanan Bisnis Keamanan
Tenaga keamanan,
Konsultasi keamanan
Bantuan penyelamatan,
Pendidikan dan latihan keamanan,
Peralatan keamanan
Cash management
Cash services,
Security systems
Corporate investigation

It’s Time To Cath Up!

Kondisi perekonomian di tahun 2010 diprediksi akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Bisnis-bisnis apa saja yang akan booming di tahun bersio macan itu?

Wajah optimis menghadapi tahun 2010 nampak jelas terlihat di wajah Stanley S Atamadja orang nomor satu di PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk itu. Baginya 2010 merupakan momentum untuk bersiap-siap menyongsong sesuatu yang lebih baik dan membuat pertumbuhan bagi perusahaan. Di 2009 lalu perusahaan yang sudah berdiri selama 18 tahun itu tidak mencatat pertumbuhan. “Di 2009 kita zero growth,” ungkap Stanley. Target zero growth menurut pria peraih penghargaan CEO idaman ini karena situasi ekonomi yang tidak menentu di tahun 2008 dan 2009 akibat krisis financial yang dihembuskan dari negeri Paman Sam. “Kalau di 2009 ketidakpastian itu ada, apakah akan memburuk terus ataukah akan membaik,” cetusnya

Menjelang akhir 2009 terlihat tanda-tanda perekonomian global dan nasional membaik. Perekonomian Amerika Serikat (AS) misalnya pada triwulan ketiga 2009 lalu tumbuh 2,2%, membaik dibanding triwulan sebelumya 0,7%. Demikian juga di kawasan Uni Eropa yang mulai tumbuh positif 0,4% pada kuartal tiga 2009. Sebagai perbandingan pada tiga bulan sebelumnya, zona euro masih terkontraksi 0,2%.

Prediksi dari beberapa lembaga keuangan pun menujukan tren yang positif.Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam laporan terakhirnya memproyeksikan perekonomian dunia pada 2010 akan mencatatkan pertumbuhan hingga 3,1% dari proyeksi tahun ini yang minus 1,1%. Sedangka Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2009 dan 2010 bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia masing-masing 4,5% dan 6,6%. Padahal, tiga bulan sebelumnya ADB hanya mematok proyeksi pertumbuhan masing-masing 3,9% dan 6,4% untuk tahun 2009 dan 2010.

Sedangkan untuk perekonomian Indonesia menurut William Wallace kepala Bank Dunia di Indonesia, Indonesia akan menutup tahun 2009 dengan positif. Tren positif yang mulai terjadi di kuartal ketiga 2009 berlanjut ke kuartal keempat dan diperkirakan terus naik di 2010. “ Prospek ekonomi Indonesia telah membaik dalam tiga bulan terakhir. Perekonomian diperkirakan tumbuh 4,5% di tahun 2009, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 4,3%. Sedangkan pertumbuhan 2010 diprediksi naik menjadi 5,65% lebih tinggi dari perkiraan seblumnya sebesar 5,4% dan sekitar 6% di tahun 2011,” ujarnya.

Wallace mengatakan perbaikan ekonomi terlihat dalam kegiatan investasi, terutama dalam bangunan, mesin dan peralatan, transportasi dan komunikasi, konsumsi listrik dan produksi semen, serta ekspor. Di samping itu, konsumsi domestik juga merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Wallace juga menambahkan, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh sebesar 5,1% sejalan dengan laju inflasi yang moderat.”Pertumbuhan investasi diperkirakan naik di 2010 karena proyeksi kenaikan dalam harga komoditas dan permintaan eksternal, juga akses pembiayaan yang lebih mudah,”kata dia. Pemerintah Indonesia sendiri pada 2010 menargetkan pertumbuhan 5,5%.

Terkait pertumbuhan kredit Bank Dunia mengaku optimistis dan tahun depan pertumbuhan kredit diperkirakan bisa sampai 20%, kendati pertumbuhan kredit tahun ini hanya mencapai 5%. Di 2009 terdapat permohonan kredit yang belum dicairkan sebesar 20%. Wallace memperkirakan, permohonan kredit tersebut akan dicairkan dalam tiga bulan pertama tahun 2010 sehingga bisa mendorong pertumbuhan kredit hingga 20%.
Sementara itu Tony Prasetiantono ekonom BNI mengatakan, pertumbuhan kredit akan terakselerasi pada kuartal kedua 2010 karena adanya inflasi yang tinggi sehingga bisa menaikkan suku bunga yang tinggi. “Inflasi tidak selalu negatif. Tapi itu bisa mengindikasikan daya beli yang tinggi,” ujarnya.

Tony melanjutkan pertumbuhan kredit yang normal adalah sekitar 25%, jadi Indonesia harus mau mengenjot pertumbuhan kreditnya tahun depan. Untuk BI Rate ia memprediksi akan naik menjadi sekitar 6,75-7 % karena inflasi juga naik dan gairah ekonomi yang membaik serta kemungkinan harga komoditas dunia seperti minyak, karet, timah dan CPO ikut naik. Rupiah akan menguat hingga kisaran Rp9000-an,

Melihat sejuknya ekonomi 2010 itu, Stanley mengatakan tidak akan melepaskan momentum di tahun bersio harimau ini. “Tahun 2010 merupakan tahun momentum yang harus dimanfaatkan untuk tumbuh, karena kalau tidak kita akan terbawa ke dalam suatu kondisi yang berat terus dan terlambat. Kalau tidak To late to cath up!,” tegasnya.

Century dan CAFTA Menjadi Batu Sandungan

Meski kondisi ekonomi 2010 akan lebih sejuk dibanding 2009, risiko yang harus dihadapi kalangan dunia usaha diperkirakan akan semakin tinggi pula. Setidaknya ada dua hal yang menjadi batu sandungan. Pertama kasus Bank Century yang menyebabkan merosotnya kepercayaan kepada pemerintahan dan ketidaksiapan dunia usaha menghadapi Chinese Asean Free Trade (CAFTA).

Menurut Tony kasus bank Century sangat mempengaruhi kondisi ekonomi 2010. Ia mengatakan ada dua skenario yang akan terjadi bila Sri Mulyani dan Boediono itu diganti. Pertama jika Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Wapres Boediono mundur dan digantikan oleh orang yang tidak kredibel. Maka, pasar akan merespon dengan menarik capital inflow, nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah. Skenario kedua adalah hanya Sri Mulyani yang diganti. Dikhawatirkan, pasar akan merespon negatif atas penggantian tersebut dan menyebabkan penarikan hot money yang ada di pasar bursa. Padahal, separuh investor di Indonesia merupakan investor asing jangka pendek. Dana asing di pasar saham saat ini lebih dari 50%. Bila investor asing ini keluar dari Indonesia, maka kondisi makro akan terganggu. “Masalahnya kondisi nilai tukar dan IHSG kita banyak dipengaruhi oleh sentimen dan bukan fundamental. Sehingga saat ada sentimen kecil pun, kondisi makro akan goyang,” tandasnya.

Pendapat serupa juga diungkapkan Budi Ruseno analis Bhakti Securities. Menurutnya penyelesaian kasus Bank Century akan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010. Jika kasus Bank Century bisa diselesaikan dengan baik dan politik dalam negeri stabil maka kepercayaan dunia internasional akan tinggi sehingga aliran capital inflow ke Indonesia akan tetap tinggi sehingga target pertumbuhan mencapai 6% bisa teralisasi. “Sebaliknya, jika kasus Bank Century berakhir tidak ‘happy ending’ seperti mundurnya Sri Mulyani dan Boediona , maka akan berdampak pada stabilitas politik dan ekonomi di tanah air sehingga target pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tidak akan terealisasi,” ungkapnya saat menyampaikan outlook ekonomi 2010 pada pertengahan Desember lalu di Jakarta.

Terkait pelaksanaan kesepakatan CAFTA Tony menilai lebih banyak merugikan Indonesia lantaran produk yang ditawarkan Indonesia tidak dapat bersaing dengan produk yang dipasarkan Cina. Dengan begitu Indonesia harus memproduksi barang yang bersifat complementary. Sementara produk Indonesia dengan Cina itu umumnya kompetitor. “Nah kalau antara kita dengan Cina ya yang menang ya pasti Cina lah wong cadangan devisa besar, efisiensinya tinggi karena penduduknya lebih besar, upah buruhnya lebih murah,” ujarnya.

Tony menawarkan dua solusi. Pertama ditunda. Lalu kedua, mengajukan CEPT (common effectively preferencial tariff). Jadi tidak semua tarif dinolkan, tetapi ada yang digradasikan. Misalnya untuk satu produk tertentu dinyatakan siap dan silahkan tarifnya nol. Lalu untuk produk lain yang belum siap, ya nanti dulu. Ingat China juga melakukan hal yang sama ketika WTO. Ketika WTO untuk produk property right, China tidak mau karena China merupakan pembajak software dan beberapa produk yang tertinggi di dunia. Kalau itu dilakukan maka habis Cina.

Pemerintah kabarnya sudah menyiapkan tiga opsi notifikasi bagi sektor berdaya saing rendah.Tiga opsi notifikasi itu: pertama, pertukaran sektor yang lebih siap terlebih dulu; kedua, penundaan penerapan sampai tahun 2018; ketiga, melakukan modifikasi tarif lantaran pemerintah menilai interval tarif 0% sampai 5% itu terlalu pendek.

Selain kasus Century dan CAFTA hal lain yang juga perlu diperhitungkan adalah itu kenaikan harga minyak bumi. Selama 2009 harga minyak mengalami fluktuasi. Pada 2009, harga minyak mentah bergerak dari US$43 per barel dan sempat menembus US$80 per barel. Desember 2009 dan sempat merosot dikisaran US$72 per barel ketika Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk tidak mengubah level produksi minyak.

Dengan kondisi demikian, bisnis-bisnis apa saja yang bakal booming atau tumbuh tinggi tahun depan? Disini, sebuah bisnis layak disebut bakal mengalami booming bila pertumbuhannya lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata, yakni 5,5% dan sekaligus juga telah memperhitungkan laju inflasi, yang diperkirakan sebesar 5% tahun depan. Jadi, bila juga dengan memperhitungkan pula deviasinya, maka sebuah bisnis layak disebut booming bila pertumbuhannya lebih dari 15%.

Tony memprediksi kemungkinan harga komoditas dunia seperti minyak, karet, timah dan CPO ikut naik pada 2010. SedangkanMenurut Bambang P.S. Brodjonegoro direktur Islamic Research and Training Institute – IDB (Islamic Development Bank) seiring dengan proses pemulihan ekonomi global, maka bisnis yang berorientasi ekspor akan mulai pulih dan berpotensi tumbuh cepat, terutama ekspor sumber daya alam yang merupakan andalan ekspor Indonesia sampai saat ini.

Guru besar FEUI ini juga mengatakan pemulihan ekonomi yang juga akan dirasakan dampaknya oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri juga akan memicu pertumbuhan yang cukup cepat dari konsumsi dalam negeri sehingga bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat terutama makanan dan ritel tetap akan kuat di tahun 2010. “Yang patut juga diperhatikan adalah pertumbuhan bisnis jasa seperti pariwisata, transportasi, telekomunikasi dimana besar kemungkinan bisnis tsb akan tumbuh cukup kuat di tahun 2010 seiring dengan membaiknya pendapatan rata-rata masyarakat dan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas,” ujarnya.

Bisnis Booming 2010

Ada beberapa bisnis yang diprediksi bakal melesat pada 2010 diantaranya otomotif, telekomunikasi, ritel, penerbangan, perbankan dan pembiayaan, consumer goods, asuransi, batubara dan CPO. Sektor otomotif masih akan tetap kinclong. Meski tahun lalu Indonesia terkena imbas krisis penjualan kendaraan bermotor tetap tinggi. Berdasarkan data yang dilansir Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), penjulan mobil pada 2009 diperkirakaan bisa menembus 470 ribu unit. Sementara dari pihak AISI ( Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) penjualan motor hingga Oktober 2009 tercatat 4,6 juta unit. Di 2010 diperkirakan industri otomotif akan tumbuh hingga 20%. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) Freddy A. Sutrisno melihat, prospek tahun depan sangat cerah. Tren penguatan rupiah dan layunya bunga kredit akan mendorong pasar mobil nasional. Ia pun menargetkan penjualan mobil bisa mencapai 555.000 unit tahun depan.

Booming penjualan kendaraan bermotor ikut mendorong kian bergairahnya bisnis pembiayaan. Menurut Stanley industri pembiayaan akan berbanding lurus dengan industri otomotif. “Kalau saya lihat industri otomotif akan tumbuhan antara 20-25%. Seharusnya industri pembiayaan juga tumbuh sebesar itu,” cetusnya. Dalam pandangan Stanley industri otomotif dan multifainance memiliki hubungan simbiosis mutualisme. “Perusahaan otomotif boleh produksi banyak tapi yang melakukan pembiayaan tidak ada. Siapa yang mau beli mobil dan motor tunai. Di Indonesia ini tidak ada daya beli tapi ada kemampuan mencicil kuat. Sebaliknya ada pembiayaan tetapi kalau kualitas dari produk itu jelek, siapa juga yang mau beli. Penjualan otomotif sekarang ini sekitar 85% melalui kredit,” paparnya.

Pebisnis ritel juga tak kalah optimis menghadapi tahun 2010. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mematok omzet penjualan ritel tumbuh minimum 20% menjadi Rp 100 triliun di 2010. Pada 2009, target Aprindo sekitar Rp 80 triliun, naik 15% dari 2008. Benjamin J. Mailool ketua umum Aprindo optimis target pertumbuhan 20% bakal tercapai sebab para peritel yang sempat mengerem ekspansinya akan kembali ekspansi dengan memperluas jaringan tokonya. Selain itu laju ekspansi usaha ritel juga didorong oleh pertumbuhan bisnis properti, pertokoan, serta pusat belanja di Indonesia yang akan mulai mengeliat lagi di 2010.Teguh Satria ketua umum Real Estat Indonesia (REI) mengamini bahwa industri properti nasional akan bergerak positif pada 2010. Teguh mengatakan, pertumbuhan properti pada 2010 mendatang diperkirakan akan berkisar pada 10-20%.

Di 2010 bisnis kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan batubara akan kembali berjaya. Dipasar internasional harga CPO terus membaik. Kenaikan harga tersebut seiring dengan kebutuhan CPO dunia yang juga meningkat. Data Bloomberg menunjukkan, selama paruh kedua 2009 ini, harga CPO di pasar Rotterdam berada di kisaran US$ 650-US$ 780 per ton. Di tahun 2010 ini pemerintah menargetkan, produksi CPO mencapai 22 juta ton, meningkat 15,8% dari produksi tahun 2009 yang sekitar 19 juta ton. Dalam 10 tahun yang medatang, pemerintah berharap, produksi CPO bisa mencapai 40 juta ton.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 70 other followers